
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Belakangan, sebagian besar perputaran dana global yang merupakan transaksi turunan atau derivatif, menurun. Pada kuartal IV 2007, transaksi derivatif global anjlok 21% menjadi US$ 539 triliun.
Menurut Bank for International Settlements (BIS), penurunan di kuartal IV 2007 itu adalah yang terbesar dalam 14 tahun. Hal itu dipicu stagnasi pasar keuangan sehingga mengurangi kebutuhan untuk lindung nilai (hedging).
Data BIS menunjukkan, kontrak suku bunga yang dibuat untuk spekulasi atau lindung nilai atas suku bunga pinjaman anjlok 25% menjadi US$ 405 triliun pada periode Oktober hingga Desember 2007.
Penurunan itu dipicu keraguan perbankan memberikan pinjaman ketika produk keuangan, yakni surat utang berbasiskan kredit perumahan di AS, membukukan kerugian terbesar dalam sejarah.
"Masalah likuiditas pasar keuangan ini menjadi faktor anjloknya pasar kontrak berjangka dan opsi," kata Goetz von Peter dan Naohiko Baba, analis BIS Patrick McGuire, dalam laporannya yang diekspose Senin (3/3).
Selain itu, penjualan surat utang global (global bond) pemerintah dan korporasi juga turun 45% periode kuartal IV 2007 menjadi US$ 487 miliar dari periode yang sama pada 2006 akibat krisis di pasar kredit. Sejak 2000, setiap tahun penerbitan surat utang terus meningkat rata-rata 20%.
Perdagangan kontrak indeks saham dan opsi juga turun 7% menjadi US$ 75 triliun pada kuartal IV 2007. Penurunan memicu indeks Standard & Poor's 500 turun 13,1% dalam tiga bulan hingga 31 Desember. Indeks Dow Jones Stock 600 di Eropa turun 16% pada periode yang sama.
Kontrak berjangka mata uang dan opsi juga turun 0,3% menjadi US$ 6 triliun. Pergerakan tujuh mata uang yang tercatat pada indeks JP Morgan Chase & Co naik 25% dalam tiga bulan hingga Desember 2007. Angka ini lebih kecil dari kenaikan tiga bulan sebelumnya, yakni 34%.
Sebaliknya, Barclays Capital sebelumnya mencatat investasi pada sektor komoditas global melonjak tiga kali lipat menjadi US$ 175 miliar pada 2007. Sementara keuntungan setiap investor dari sektor ini sejak 2001 meningkat US$ 160 miliar.
Sepanjang 2007, dana kelolaan untuk produk komoditas pertanian saja meningkat US$ 41 miliar. Tapi, angka ini turun tipis dari peningkatan 2006 yang mencapai US$ 48 miliar.
Bertambahnya ragam produk dan kinerja produk komoditas yang terus menanjak menjadi pemicu masuknya dana investor ke sektor ini di tengah gonjang-ganjing pasar keuangan.
Peningkatan sektor komoditas juga terlihat pada indeks 26 produk komoditas yang terangkum dalam UBS Bloomberg Constant Maturity Commodity Index, yakni melonjak hingga rekor tertingginya pada 9 Januari. Sepanjang 2007, indeks ini tumbuh 22% dari periode yang sama pada 2006.
Chicago Board Options Exchange (CBOT) meraih pangsa pasar opsi saham terbesar dengan kenaikan volume transaksi 33% yang disumbangkan grup Chicago Mercantile Exchange (CME), induk perusahaannya yang mencatat rekor hingga 2,8 miliar kontrak sepanjang 2007 atau naik 20% dari 2006. [E1/I3]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Eropa Bantu Yunani, Asia Lega
- Pacific Asia Holding Lepas 7,24% Saham Matahari
- Anak usaha Trikomsel Oke Beroperasi 1 April 2010
- Pelepasan Aset Matahari Bukan ke Pihak Ketiga
- Akhirnya, Krakatau Boleh Melantai
- BTEL Jawara 10 'Top Foreign Buy'
- Ical: Keluarga Bakrie Hanya Minoritas di Group Bakrie
- Inilah 10 'Top Foreign Sell' Hari Ini
- Rebound Asia Angkat IHSG
- Trikomsel Bakal Buat Anak Usaha
- Ha! WIKA Likuidasi Anak Usahanya
- Pemerintah Bangun Dua Pabrik Senilai Rp160 M
- Hore! IHSG Ditutup Naik 13,92 Poin
- Saham Properti Prospektif Meski Terguncang
- Danareksa Bakal Ubah Model Bisnis?












