
INNChannels, Jakarta- Tanpa menyedot perhatian banyak orang soft launching pameran 100 tahun Arsitektur Indonesia di Monumen Nasional (Monas) Jakarta, berakhir Minggu (11/11).
Setelah sepekan, pameran yang mengambil tema Tension, itu memang menyodorkan perjalanan arsitektur Indonesia sejak periode 1910 hingga kini. "Memang ini baru launching, puncaknya nanti 27 November di Erasmus Huis," ujar Nadia Nandi, penyelenggara acara tersebut, Senin (12/11).
Pameran itu menampilkan sejarah sekaligus gambar-gambar dan video perkembangan arsitektur Indonesia. Pameran yang didukung Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini membagi perkembangan arsitektur di Indonesia dalam empat babak.
Babak pertama, bercerita soal arsitektur masa penjajahan Belanda. Dalam masa ini arsitek yang mewarnai bangunan-bangunan di Indonesia kebanyakan dihasilkan oleh Maclaine Pont dan Wolf Schoemaker.
Karya-karya mereka bercirikan antara lain art deco. Di Bandung dapat ditemui karya mereka Villa Isola di kampus IKIP (UPI) Bandung, Jln. Setia Budi dan Villa Merah, di dekat kampus ITB.
Babak kedua, arsitek Indonesia mulai muncul, episode ini disebut modern. Nama Sukarno dan Friedrich Silaban disebut-sebut sebagai pionir periode ini.
Karya-karya mereka adalah Kompleks Gelora Bung Karno dan Gedung MPR/DPR Senayan, yang digunakan konperensi Dunia ketiga (Conefo) pada 1962/1963, serta Gedung Pola, Jalan Proklamasi Jakarta Pusat.
Lewat tahun 1960-an, memasuki episode ketiga arsitektur kembali mebangkitkan nilai-nilai lokal dan ke-Indonesia-an. Hasilnya, adalah Masjid Said Naum, Tanah Abang Jakarta Pusat, yang semmpat meraih penghargaan arsitektur tingkat dunia Aga Khan Award. Gedung Rektorat Universitas Indonesia, di Depok, juga karya yang masuk dalam episode ini.
Babak terakhir, yang disebut episode on Going Explorations, dimana para Arsitek Indonesia mengeksplor karya-karya di luar dari babak-babak sebelumnya. Hasilnya antara lain, Galeri 28, kantor Duta Niaga.
Selain menampilkan pameran, juga akan diluncurkan buku dan video dokumenter 100 tahun Arsitektur Indonesia di Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Jln. H.R. Rasuna Said, Jakarta, 27 November 2007 mendatang.
"Karena kami juga bekerjasama dengan Netherland Architecture Institute, yang ada di Belanda untuk menelusuri karya-karya arsitek Belanda yang ada di sana," ujar Nadia. [Jaya Abadi]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- SBY-JK Sisakan PR Perumahan
- BI Rate Turun, Properti Masih Melempem
- Saatnya Borong Properti
- Meredam Spekulasi Asing di Properti
- Pesta Demokrasi, Pesta Pebisnis Hotel
- Perumnas Bangun Barak Korban Gintung
- Lippo Karawaci Andalkan 2 Proyek
- BTN Siap Biayai Rusunami Perumnas
- Bunga KPR Turun, Ayo Beli Rumah!
- Perumnas Bangun 50 Menara untuk BUMN
- Pemda Didesak Siapkan SLF
- 2009 Waktu Tepat Beli Properti
- Dorong Pasokan Rusunami
- Rusunami Salah Sasaran
- Celah Potensi Kawasan Terpadu
