
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(iPhA/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Merek Pigeon sudah tak asing lagi di telinga mereka yang pernah bersentuhan dengan produk bayi. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar dan tingkat kelahiran yang cukup tinggi, tidak heran produk Pigeon laris manis di tanah air.
Sebagai pemegang lisensi tunggal untuk produk Pigeon, PT Multi Indocitra memiliki saham sebesar 65% dan sisa 35%-nya dimiliki oleh Pigeon Jepang. Berdiri sejak 1957 di Jepang, Pigeon terus berinovasi dengan dukungan riset mendalam dan teknologi tinggi, sehingga selalu menghasilkan produk berkualitas. Sebab itulah pangsa pasar untuk penjualan produk-produk Pigeon masih tinggi.
"Market share produk kami di Indonesia sebesar 50% untuk botol bayi dan 75% untuk dot bayi," kata Nita Tanawidjaja, Direktur Keuangan PT Multi Indocitra Tbk, selaku manufaktur dan distributor Pigeon Indonesia kepada INILAH.COM. Berikut ini wawancara lengkap INILAH.COM, dengan Nita:
Bagaimana pertumbuhan Pigeon di Indonesia?
Setiap tahunnya kami tumbuh 30%, terutama sales-nya. Ini menandakan potensi pasar di Indonesia masih terbuka lebar. Sementara revenue kami juga baik. Tahun lalu kami mendapatkan Rp 243 miliar. Ekspektasi kami, tahun ini bisa mendapatkan Rp 265 miliar. Kontribusi terbesar untuk pemasukan kami berasal dari botol dan dot.
Apakah produk Pigeon hanya sebatas keperluan ibu dan anak saja?
Varian produk kami memang banyak, ada sekitar 300-400-an. Kebanyakan untuk ibu dan anak. Namun saat ini kami sedang mengembangkan berbagai produk untuk remaja, yaitu produk toilettries, terutama perawatan kulit. Misalnya bedak compact dan cake, lalu ada facial foam, hingga pembersih wajah atau cleansing. Pokoknya untuk teenager-lah.
Lalu, bagaimana denganmarket share Pigeon?
Berdasarkan riset AC Nielsen, market share untuk produk kami di Indonesia adalah 50% untuk botol dan 75% untuk dot. Saya rasa karena dot kami bisa disesuaikan untuk semua merek botol bayi. Sehingga banyak konsumen yang botolnya beda, tapi dot-nya tetap merek Pigeon. Kami masih the best di bidang ini.
Kami mempunyai pabrik sendiri di sini, ada dua. Semuanya berlokasi di Serang, Banten. Satu pabrik khusus mengerjakan botol dan dot, satu lagi khusus toilettries, misalnya sabun, shampo, atau body cologne. Kami memegang lisensi dari Jepang untuk manukaftur dan distribusi. Kami membayar royalti sebesar 3% dari harga jual.
Apa kunci sukses Pigeon?
Ada tiga filosofi yang dimiliki oleh Pigeon, yang disebut Pigeon Triple 'S' Philosophy. Pertama adalah study, selalu mempelajari perkembangan anak dan melakukan penelitian untuk membantu agar bayi tumbuh sehat. Kedua adalah safety, selalu memberikan produk dengan kualitas terbaik dan memperhatikan keamanan untuk setiap produk yang kami kembangkan. Kemudian satisfaction, selalu memenuhi kebutuhan bayi di seluruh dunia, menjamin kepuasan penuh seluruh keluarga.
Siapa pesaing terberat Anda?
Sementara ini pesaing terbesar kami adalah Huki, untuk dot dan botol. Sementara untuk produk-produk toilettries, pesaing terbesar adalah Cussons dan Johnson & Johnson. Walaupun begitu kami masih nomor satu, sebab market share Huki hanya 20% saja. Dari segi harga pun kami hanya mungkin sekitar 10% lebih mahal, tetapi yang penting kan kualitasnya.
Apa yang menjadi prioritas Pigeon?
Keamanan adalah prioritas utama kami. Misalnya untuk Baby Compact Powder. Bedak ini dirancang khusus untuk digunakan di daerah sekitar wajah dan leher bayi. Ada formula khusus untuk bayi, bedak tabur yang dipadatkan untuk mencegah terhirupnya partikel halus bedak. Partikel ini jika terhirup terus menerus bisa menyebabkan sesak nafas. Jadi pakai bedak tidak perlu pakai sesak nafas.
Selain itu ada kandungan squalan untuk menjaga kelembaban kulit serta zinc oxide sebagai anti bakteri. Semua ini teruji aman oleh Joso Labolatory milik Pigeon Jepang.
Promosi apa yang dilakukan Pigeon untuk memperluas pasar?
Saat ini kami rajin menjalin kerjasama dengan berbagai rumah sakit. Kami juga sering mengadakan acara bincang-bincang seperti yang kami selenggarakan di KidZania ini. Lalu juga banyak roadshow keluar kota. Semua tujuannya agar kami bisa terus berinovasi dan menambah produk-produk baru. Tahun depan kami berencana untuk membuka semacam toko anak-anak, menyediakan barang-barang untuk kebutuhan anak.
Perekonomian dan kenaikan BBM?
Tidak terpengaruh, karena sasaran kami masyarakat kelas menengah ke atas. Harga jual produk untuk sementara juga belum naik. Sebab kami sudah menaikkan harga bulan April. Persediaan barang kami itu per tiga bulan. Kalau bulan April sudah menaikkan harga, maka produk berikutnya akan keluar tiga bulan lagi.
Mungkin ketika itu kami akan pertimbangkan kenaikan harga, tapi sekarang belum. Kalau pembelian naik dan kurs dolar AS meningkat, maka kami akan menaikkan harga. Tapi tidak naik, jika penjualan masih bisa stabil. [E2/P1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Ukie Jaya Mahendra
Tekanan Jual Masih Warnai BUMI - Irwan Ibrahim
BUMI Bisa Terkoreksi ke Rp2.200 - Willy Sanjaya
BUMI Aset Jaminan Waran? Itu Rumor! - Gina Novrina Nasution
BUMI Megap-Megap Kekurangan Oksigen - David Cornelis
BUMI Memberikan ‘Sinyal’ Naik - Ukie Jaya Mahendra
Antisipasi Pasar, BUMI Bisa Naik - Willy Sanjaya
BUMI, Aset yang Berharga - Parto Kawito
‘Wait and See’ Saja untuk BUMI! - Irwan Ibrahim
Koreksi Minyak Negatif bagi BUMI - Arga Paradita Sutiono
Pertengahan Februari BUMI Akan ‘Hot’ - Ukie Jaya Mahendra
Likuiditas Susut, BUMI Tergerus - Gina Novrina Nasution
Rapat CIC-Bakrie Tak Pengaruhi BUMI - Bayu Aji
Sentimen Kawasan Tentukan Arah BUMI - Willy Sanjaya
CIC Akan Lambungkan BUMI - Aji Martono
Sri Mulyani Takkan Goyang BUMI












