Jumat, 21 November 2008
Politik - Nasional
  BERITA
  INDEKS BERITA
29/06/2008 14:01
Mega Melirik, Hidayat Tergoda?
Ahluwalia
 
Megawati
(inilah.com/Abdul Rauf)
 

INILAH.COM, Jakarta – Arah politik itu sulit ditebak. PKS yang tangguh saja mulai goyah. Hidayat Nurwahid, Ketua MPR dan mantan Presiden PKS, konon mulai tergoda lirikan Megawati Soekarnoputri untuk maju bersama ke Pilpres 2009.

Jika sinyalemen itu benar, boleh dibilang PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang selama ini jadi wadah kaum Islam moderat, muda, bersih, dan cerdas mulai menunjukkan gejala inkonsistensi. Maklum, selama ini PKS termasuk yang sangat tegas menyuarakan penolakan terhadap kepemimpinan perempuan.

Tentu, jika memang sinyalemen itu benar, Hidayat pribadi dan PKS punya pertimbangan tersendiri. Boleh jadi pertimbangan itu bersifat taktis dan strategis. Melihat belum muncul figur pemimpin yang bisa diharapkan jadi lokomotif kemajuan negeri ini, Hidayat pun akhirnya maju dan PKS menghitung kekuatan PDI-P di pelataran politik nasional.

Hidayat bersama PKS-nya, tentu, punya hak melakukan itu. Sah-sah saja. Tapi, ya itu tadi, formasi Mega-Hidayat di Pilpres 2009 praktis membuyarkan citra dan kepercayaan publik terhadap konsistensi PKS selama ini.

"PKS dikenal sebagai parpol Islamis yang lebih mengedepankan konsistensi politiknya. Mereka, misalnya, menolak kepemimpinan perempuan di Indonesia yang mayoritas Muslim. Jika inkonsistensi ini betul-betul terjadi, saya khawatir PKS dicibir orang," kata Mohamad Nabil, peneliti Centre for Religion and Culture UIN Jakarta, kepada INILAH.COM, Minggu (29/6).

Godaan politik bagi Hidayat itu dilontarkan Maruarar Sirait, anggota Komisi XI DPR FPDI-P. Ia meyakini, jika PDI-P melakukan koalisi dengan PKS, ajang pesta demokrasi Pilpres 2009 bakal membuahkan kemenangan bagi keduanya.

Para pengamat mengkhawatirkan, jika inkonsistensi PKS betul-betul terjadi, para kadernya dilanda disorientasi dan citra parpol pun terjerambab. Pragmatisme politik akan menggantikan idealisme PKS.

Jika PKS jadi berkoalisi dengan PDI-P, Yudi Latif PhD dari Reform Institute mempertanyakan, bisakah visi-misi, program, dan platform kedua parpol dipertemukan?

Pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Yudi. "Rasanya sulit. Akan banyak kendala dan benturan kepentingan jika PKS dan PDI-P berkoalisi. Koalisi itu juga akan dibaca sebagai bukti inkonsistensi PKS yang sejak 1999 menolak kepemimpinan perempuan di Indonesia karena berbagai pertimbangan strategis dan pragmatis," tegasnya.

Nasionalisme sekuler PDI-P ditengarai juga sulit bersinergi dengan Islamisme PKS, baik di dataran ideologi maupun dataran praktis. Chemistry-nya juga sulit diperoleh. "PKS tidak akan melupakan memori politik era kepresidenan Megawati itu. Karenanya, jika kini terjadi inkonsistensi, apa kata orang nanti?" kata Nabil.

PDI-P memang telah memasukkan nama Hidayat dalam daftar lima kandidat wapres yang akan mendampingi capres Megawati Soekarnoputri di Pilpres 2009.

Sejauh ini, basis PKS berpusat di perkotaan, sedangkan PDI-P memiliki segmen yang kuat di daerah dan pedesaan Jawa. Jika segmen itu digabung, menurut Maruarar, "Akan dahsyat dan solid."

Berdasarkan riset yang dilakukan beberapa lembaga survei, kebanyakan suara pendukung PDI-P beralih ke PKS. Pada 1999, perolehan suara PDI-P mencapai 34%. Pada 2004, tinggal 19%. Sedikitnya 15% suara pendukung mereka pindah ke PKS.

Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan jawa Barat, PDI-P masih cukup kuat. Tapi, di luar Jawa, basis suara PDI-P mulai cair dan mengambang. Bagi PDI-P, ini memang sebuah realitas yang menantang. [I3]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com