
BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Megawati dan Jusuf Kalla (inilah.com/Abdul Rauf) |
INILAH.COM, Jakarta – Pertarungan Partai Golkar dan PDI Perjuangan kembali terjadi di ajang pemilihan gubernur. Kali ini, duel maut itu terjadi di Pulau Dewata, Bali. Bagaimana hasil akhirnya?
Pertarungan calon gubernur dari Partai Golkar dan PDIP dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi Bali, diprediksi merupakan kontestasi seru dan sangat ketat. Persaingan kedua kandidat itu juga menjadi sorotan publik politik. Kandidat PDI-P dan Golkar bakal head to head untuk merebut kemenangan sebagai bekal moral menghadapi Pemilu dan Pilpres 2009.
Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDIP, beserta rombongan akan bertolak ke Tabanan, Bali, untuk mengkampanyekan duet calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali usungan mereka, I Made Mangku Pastika dan Puspayoga.
PDIP berambisi menyapu bersih seluruh pilkada tersisa, termasuk Bali. Langkah sapu bersih ini akan dihadapi Golkar dengan ‘langkah kuda’ dalam menjalankan taktik dan strategi politiknya.
Karena itu, tak mau kalah langkah dengan Megawati, Ketua Umum DPP Partai Golkar, M. Jusuf Kalla pun terbang ke Bali. Dia menggelar pertemuan kader secara tertutup, Jumat (4/7), menjelang Pilkada Bali pada 9 Juli nanti.
Golkar mengajukan Ketua DPD Golkar Bali, Tjok Gde Budi Suryawan, sebagai calon Gubernur Bali. Tjok Suryawan akan berpasangan dengan Nyoman Suweta.
Kalla meyakinkan kader partainya agar tetap optimistis memenangkan Pilkada. Dalam Pilkada, orang memilih calon atau figur yang didukung partai. "Partai Golkar boleh nomor dua di Bali, tapi pilkada bukan memilih partai. Pilkada memilih orang, figurnya," kata Kalla.
Kalla juga memberikan semangat dan dukungan yang luas agar upaya-upaya Golkar membangun bangsa dan negara dapat terus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kampanye pemilihan Gubernur Bali yang dimulai sejak 5 Juni akan berakhir 5 Juli 2008. Calon Golkar, Tjok Suryawan-Suweta telah menyelesaikan seluruh program kampanyenya di Denpasar.
Dalam pilkada selama ini tidak ada korelasi secara terus-menerus antara perolehan partai dengan pilkada. Dalam berbagai kasus, ada satu daerah di mana Partai Golkar menang secara mayoritas, namun ternyata kalah dalam pilkada. Tetapi ada juga daerah di mana Partai Golkar bukan pemenang, namun saat pilkada justru keluar sebagai pemenang.
Bagi PDI-P, persaingan dengan Golkar kali ini dihadapi dengan optimisme karena posisi kandidatnya dirasakan sangat kuat seperti Goliath, sementara Golkar berposisi Daud. Jadilah Golkar melawan Goliath di Bali.
Secara simbolik, kata pengamat politik Airlangga Pribadi dari Fisip Unair, bagi Golkar, prosesi perjuangan jauh lebih penting. Jika kelak menang, maka Golkar memiliki spirit dan bekal moral lebih kuat lagi untuk mengalahkan Goliath di tingkat regional maupun nasional. [I4]
[ Kirim ke teman ]