
BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Imam Sugema (inilah.com/Ahmad Munjin) |
INILAH.COM, Jakarta - Kini hanya pemerintah di negara-negara kaya minyak yang masih bisa tersenyum lebar. Selebihnya harus main cemberut lantaran harga minyak sudah menembus angka US$ 145 per barel.
Seperti para raja minyak di Timur Tengah, para penentang pemerintah kini juga bisa tersenyum makin lebar. Bagi mereka, kenaikan harga minyak, yang telah memaksa pemerintah menaikkan harga BBM, adalah peluang untuk menggaet simpati masyarakat.
Peluang itu pun agaknya bakal membesar di masa mendatang lantaran harga minyak masih cenderung melesat lebih tinggi. Akibatnya, seluruh sumber daya ekonomi akan makin terkuras untuk membiayai kebutuhan energi dan segala dampak buruknya.
Runyamnya lagi, kini pemerintah juga makin tergantung pada utang komersial untuk membiayai pembangunan. Sedangkan kemungkinan untuk memperoleh utang berbunga rendah dari lembaga-lembaga multilateral seperti Bank Dunia, masih sulit karena besarnya tekanan politik dalam negeri.
Penyebab utama terhadap penolakan utang semacam itu adalah karena pihak kreditor selalu menuntut pemerintah berbuat macam-macam. “Tuntutan yang diajukan kreditor sama dengan penyerahan sebagian kedaulatan pemerintah kepada mereka,” kata Imam Sugema, Direktur InterCafe IPB.
Sejauh ini, tuntutan kreditor yang selalu muncul di sekitar utang berbunga rendah adalah liberalisai ekonomi, swastanisasi BUMN, penegakkan hukum, dan tranparansi keuangan negara. Alasan para kreditor, tuntutan itu sangat diperlukan agar utang yang masuk ke Indonesia bisa benar-benar bermanfaat bagi pembangunan, dan tak berubah menjadi utang macet. Apalagi, macetnya karena dikorup.
Kini pemerintah agaknya dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar, mau melanjutkan penerbitan surat-surat utang di pasar komersial atau kembali berpaling ke lembaga-lembaga multilateral? Sebab, modal dalam negeri jelas tak cukup untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang bisa menampung hampir tiga juta pencari kerja baru setiap tahun.
Pertengahan tahun lalu, Wakil Presiden M. Jusuf Kalla mengungkapkan, untuk menyetop pertumbuhan angka pegangguran, Indonesia memerlukan investasi sebesar Rp 1.000 triliun per tahun. Namun bisa jadi, di tengah anjloknya nilai tukar rupiah terhadap mata uang kuat dunia, angka yang diungkapkan Kalla sudah sangat tidak mencukupi lagi.
Masalah lainnya, kini Indonesia juga harus menghabiskan lebih banyak dana untuk biaya energi dan pangan. Akibatnya, banyak investasi mengalami penurunan produktivitas sehingga daya serapnya terhadap tenaga kerja ikut merosot. Akibatnya, banyak perusahaan telah memutuskan untuk menunda perekrutan tenaga kerja baru.
Sejauh ini pengusaha pada umumnya masih sanggup memenuhi kesepakatan yang dicapai melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk tidak melakukan PHK. Namun, sebagaimana diungkapkan oleh MS Hidayat dari Kadin Indonesia, merosotnya kemampuan dunia usaha untuk membiayai produksi makin sulit diatasi.
Menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Semarang, Agung Wahono, ancaman PHK terkait tingkat kesulitan itu cenderung terus meningkat karena meroketnya biaya hidup sebagai komponen utama penentuan upah buruh, melambungnya harga suku cadang dan bahan baku, dan melemahnya daya beli masyarakat.
Anehnya, di tengah situasi seperti ini kredit perbankan malah melesat sampai di atas 30%. Padahal, di tengah meningkatnya risiko ekonomi, pertumbuhan kredit perbankan seharusnya mendorong para bankir agar menjadi lebih pelit. Apalagi belakangan ini telah muncul berbagai indikasi tentang melejitnya angka kredit macet.
Tapi, menurut Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad, karena kebanyakan pertumbuhan itu ditujukan untuk sektor produksi, pihaknya batal melakukan evaluasi.
Bagaimanapun juga, BI agaknya perlu mengingat pengalaman masa lalu bahwa risiko kredit untuk sektor produksi bisa lebih tinggi ketimbang yang masuk ke konsumsi. Risiko ini jelas bisa meningkat bila para penentang pemerintah makin rajin melakukan manuver politik melalui aksi-aksi jalanan maupun parlemen.
Jadi tak aneh bila muncul kecurigaan bahwa kebusukan di balik cerianya kredit perbankan! [I4]
[ Kirim ke teman ]