
BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
INILAH.COM, Jakarta – Pada akhir pekan ini, IHSG kembali bergairah. Kepanikan akibat badai yang melanda pasar pada perdagangan sebelumnya mulai reda. Investor pun mulai agresif dan berani mengkoleksi saham-saham unggulan.
Pada penutupan perdagangan Jumat (4/7), IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) naik 28,140 poin (1,23%) menjadi 2.314,751. Indeks LQ-45 naik 5,382 poin (1,12%) menjadi 487,069, dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 7,237 poin (1,77%) menjadi 416,801.
Kepala Riset Sarijaya Permana Sekuritas Danny Eugene mengatakan, aksi profit taking pada perdagangan Kamis (3/7) terjadi karena kepanikan investor terhadap keluarnya beberapa data ekonomi. Di antaranya, kenaikan BI Rate 25 basis poin, inflasi bulanan Juni yang naik menjadi 2,46%, dan turunnya harga batubara.
"Kepanikan itu hari ini mereda dan investor sudah berani kembali masuk pasar," jelas Danny. Ia menambahkan, beberapa sentimen yang mengerakkan IHSG hari ini adalah pengenaan pajak deviden 10% dan rilis data pengangguran AS yang naik 5,5%.
Analis riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, pergerakan pasar selama perdagangan hari ini masih sepi. Tapi, investor mulai berani mengoleksi saham-saham pilihan sehingga mampu membangkitkan pasar.
Meski demikian, rebound yang terjadi di pasar bursa belum mampu menutup koreksi pada perdagangan kemarin. "Pasar kemarin jatuh 3%. Hari ini rebound tipis dan belum mencapai 1%. Investor masih banyak yang merugi," kata Poltak kepada INILAH.COM.
Menurut Poltak, salah satu pemicu lesunya pasar adalah libur bursa Wall Street nanti malam terkait hari Kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli. Ini berarti aksi jual saham akan mereda. Aksi beli tidak akan agresif.
Di sisi lain, anjloknya harga batubara kemarin telah merontokkan saham-saham sektor pertambangan. Poltak pun menilai hal ini sebagai indikasi bahwa zona Eropa sudah masuk resesi.
Kejatuhan harga batubara di pasar Eropa menunjukkan turunnya kebutuhan pembangkit listrik. "Turunnya kebutuhan listrik untuk masyarakat Eropa menunjukkan ekonomi yang melambat," papar Poltak. Negara Eropa yang masih tumbuh di tengah pelambatan ekonomi adalah Jerman dan Prancis.
Perdagangan saham hari ini mencatat 53.443 transaksi dengan volume 1,694 miliar unit saham senilai Rp 3,909 triliun. Tercatat 155 saham naik, 44 saham turun, dan 63 saham stagnan.
Saham-saham yang menguat adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik Rp 1.200 menjadi Rp 32.000, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 650 menjadi Rp 15.500, dan PT Timah Tbk (TINS) naik Rp 600 menjadi Rp 37.500.
Saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) naik Rp 375 menjadi Rp 27.400, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik Rp 350 menjadi Rp 7.500, dan PT Indosat Tbk (ISAT) naik Rp 200 menjadi Rp 6.500.
Saham yang melemah, antara lain, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp 550 menjadi Rp 27.700, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun Rp 300 menjadi Rp 12.400, PT Bank Lippo Tbk (LPBN) turun Rp 150 menjadi Rp 2.650, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun Rp 25 menjadi Rp 2.600.
Sementara bursa regional ditutup bervariasi. Indeks Hang Seng di bursa Hong Kong naik 181,04 poin (0,9%) menjadi 21.423,82 basis poin setelah dua hari terkoreksi. Penguatan dipicu naiknya saham sektor perbankan menyusul laporan keuntungan kuartal kedua ICBS, bank terbesar di China, yang mencapai 50% atau 40,8 miliar yuan.
Indeks Kospi di bursa Korea turun 1,78% menjadi 1.577,94 basis poin. Hal ini dipicu kekhawatiran investor akan melonjaknya harga komoditi pasca melesatnya harga minyak. Minyak hari ini sempat menyentuh level US$ 147 per barel.
Indeks Nikkei di bursa Jepang turun 27,51 poin menjadi 13.237,89 basis poin akibat anjloknya sektor properti. Sektor properti tercatat turun menyusul spekulasi tingginya risiko kredit perumahan di Jepang saat ini.
Tingginya risiko kredit ini disebabkan mulai maraknya kasus kredit macet perusahaan finansial di Jepang. Sedangkan indeks STI di bursa Singapura naik 0,28% dan indeks di bursa Taiwan turun 2,24%. [E1/I3]
[ Kirim ke teman ]