Senin, 15 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12613.3
 
Politik
 
20/11/2008 - 08:36
Film Tentang Poso Meluncur Besok
Suriani

INILAH.COM, Makassar - Sutradara muda, Arfan Sabran yang juga pembuat film Suster Apung kembali membuat film tentang perdamaian di Poso. Film berjudul 'Gana Mo Merajut Perdamaian Dengan Keadilan' (Cukup Sudah Perdamaian Dengan Keadilan) ini akan dirilis besok Jumat (21/11), di Makassar bersama dengan anak fakultas Hukum Unhas.

Arfan Sabran, sutradara film Gana Mo Merajut Keadilan Dengan Perdamaian, saat dihubungi INILAH.COM, menceritakan pembuatan film ini dalam rangka peace day, dan salah satu daerah yang pernah berkonflik dan saat ini telah damai adalah Poso,Sulawesi Tengah.

Digambarkan, film ini melibatkan dua generasi yaitu orang dewasa sebagai pelaku atau yang terlibat dalam perang konflik, dan pelaku kebua adalah anak kecil yang tidak tahu menahu permasalahan menjadi saksi dan korban bom Poso.

"Ada dua generasi yang dilibatkan, orang dewasa yang ikut terlibat langsung dan anak umur lima tahun yang menyaksikan. Pasca konflik ini kan sudah damai, kita mencari tahu arti perdamaian bagi mereka itu seperti apa?," kata Arfan saat dihubungi di Makassar, Kamis (20/11).

Film ini yang dibuat pada September lalu mengambil setting, sesuai dengan yang ingin dicapai, yaitu di daerah konflik yaitu Poso dan Palu Sulteng. Durasi 20 menit film ini menceritakan tentang misi-misi perdamiana dalam persepsi korban, mencoba menjawab persepsi perdamaian

versi kita dan versi orang-orang yang ada di Poso.

"Ternyata, arti perdamaian yang kita maksud itu berbeda dengan arti perdamaian mereka. Buat kita, perdamaian di Poso itu, tidak ada perang, bom, dan aksi teror. Tapi buat masyarakat Poso, perdamian bukan hanya itu, tapi masih ada hal lain!," jelas Arfan.

Arfan mengemukakan, betapa orang dewasa dan anak masih merindukan perdamaian pasca konflik yang hingga sekarang tidak terpenuhi. Diantaranya, kemiskinan, pemulihan pasca konflik belum tuntas,

bagiaman dengan kondisi anak-anak yang setelah ditinggal mati orang tuanya, belum mendapat penanganan yang layak.

"Kondisi pasca konflik ini, belum tertangani dan berlarut-larut, bisa jadi bom waktu di masa yang akan datang," tegas Arfan yang hanya butuh waktu tiga minggu dalam pembuatan filmnya.[nng]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !