Ekonomi
28/11/2008 - 18:44
Konsistensi BI Perkuat Rupiah
Asteria

(inilah.com/Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta – Pada akhir pekan, rupiah tampil mengagumkan seiring kinerja pasar bursa yang positif. Liburnya pasar valas AS justru menguntungkan, sehingga mata uang Indonesia ini terus menguat. Peran BI juga ikut menentukan posisi rupiah.

Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Jumat (28/11) menguat 45 poin ke level 12.150 dibandingkan penutupan kemarin di level 12.195 per dolar AS.

Analis valas Dus Nandjang mengatakan, sentimen positif dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berimbas positif ke pasar valas. Alhasil, rupiah mampu bergerak menguat. Selain itu, sepinya perdagangan valas karena pasar AS libur Thanksgiving Day, mampu dimanfaatkan rupiah sebagai momentum untuk menguat.

Selain itu, lanjut Dus Nandjang, konsistensi BI menjaga stabilitas rupiah di pasar ikut menopang penguatan rupiah. Pemerintah tidak ingin rupiah terperosok ke level 13 ribu per dolar AS dan melakukan berbagai pengawasan ketat terhadap bank-bank asing yang bermain valas.

“Hal ini agar kebutuhan dolar di pasar domestik terpenuhi,” ucapnya. Beberapa langkah juga digelar, seperti upaya menarik dana pengusaha Indonesia yang parkir di luar negeri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

BI juga sebelumnya telah menurunkan bunga Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 7,5% untuk melonggarkan likuiditas bank. Pasalnya, saat itu bank kesulitan menyalurkan dana pihak ketiga terkait 9% dari dana itu harus dimasukkan ke instrumen BI.

Sentimen lain adalah tren penurunan suku bunga beberapa bank sentral negara-negara dunia, yang diharapkan dapat memacu pertumbuhan sektor riil. BI pada rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan juga diperkirakan akan menurunkan suku bunganya dari posisi saat ini di level 9,5%. “Bila aktivitas sektor riil berjalan, maka perputaran dana akan kembali normal,” ulasnya.

Terpisah, Wapres Jusuf Kalla mengatakan, rupiah yang berada di level 12 ribu per dolar AS dinilainya masih berada dalam kondisi normal jika dibandingkan dengan kurs won Korea Selatan dan dolar Australia.

Pemerintah juga tidak memiliki target berapa nilai tukar seharusnya karena kurs akan terus bergerak.. “Pelemahan rupiah sebenarnya menjadi sentimen positif bagi ekspor Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, dolar AS mengalami koreksi terhadap mata uang global di tengah tipisnya transaksi. Jatuhnya rupiah disebabkan adanya ekspektasi The Fed akan kembali memangkas suku bunganya pada pertemuan Desember mendatang.

Sementara itu, investor masih mengkhawatirkan pelemahan pertumbuhan ekonomi AS serta rencana paket stimulus pemerintah senilai US$ 800 miliar yang diperkirakan memicu defisit anggaran di negara Paman Sam tersebut.

Pada perdagangan pukul 17.24 WIB, rupiah berada di level 7.917,58 atas dolar Singapura, di level 15.379,66 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.858,31 atas dolar Australia. [E1]

KOMENTAR BERITA