Ekonomi
 
01/12/2008 - 18:47
Rupiah Terkena Sentimen Kawasan
Asteria

(inilah.com/ Raya Abdullah)

INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah tidak mampu mempertahankan penguatannya. Mata uang Indonesia ini terpantau kembali melemah. Rilisnya data manufaktur China yang buruk, menekan pergerakan mata uang kawasan sehingga rupiah tergelincir.

Kurs rupiah di pasar spot antarbank Jakarta pada perdagangan Senin (01/12) melemah 74 poin ke level 12.224 per dolar AS dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang bertengger di kisaran 12.150.

Analis valas Bayu Aini mengatakan, tenggelamnya manufaktur China memperburuk outlook pertumbuhan ekonomi kawasan serta mempengaruhi pergerakan mata uangnya. Pasalnya, perekonomian China ditunjang dari sektor manufakturnya. "Investor khawatir, hal ini mengindikasikan keterpurukan ekonomi negara kawasan Asia," katanya.

Terkoreksinya rupiah juga dipicu pemberlakuan Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang pembatasan pembelian dolar AS. Dalam surat edaran BI pada 28 November 2008, konsumen yang akan membeli dolar harus menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan underlying transaction. "Hal ini ditujukan untuk menstabilkan mata uang rupiah," jelasnya.

Mata uang kawasan Asia melemah, dipimpin rupiah dan dolar Singapura. Sebanyak delapan dari 10 mata uang yang aktif diperdagangkan di kawasan Asia, selain Jepang, terpantau melemah setelah China merilis data pemesanan barang baru dan order ekspor yang anjlok.

Juga laporan dari Jepang yang menunjukkan adanya penurunan upah, pertama kalinya tahun ini. Rupiah dan dolar Singapura pun meluncur drastis. "Angka manufaktur China yang suram memberi sentimen negatif dan menyeret semua mata uang Asia turun," ujar Irene Cheung, direktur korporasi untuk perdagangan valas domestik ABN Amro Bank NV, Singapura.

Pada sore ini, rupiah terpantau berada di level 7.835,54 atas dolar Singapura, di level 15.136,16 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.670,70 atas dolar Australia.

Sementara sentimen dari dalam negeri juga ikut mempengaruhi rupiah. Pengumuman Badan Pusat Satistik (BPS) tentang laju inflasi ikut mendorong pelemahan mata uang RI ini.

Tingkat inflasi November turun menjadi 0,12%, sedangkan tingkat inflasi tahunan sebesar 11,68%. BPS sendiri memprediksi bahwa tingkat inflasi masih akan menurun hingga ke level 11% sampai dengan akhir tahun ini.

Sehingga melihat pencapaian inflasi ini muncul dugaan akan adanya penurunan suku bunga acuan BI rate yang saat ini masih bertengger di level 9,5%. Penurunan suku bunga ini bisa memicu investor meninggalkan investasinya alias capital outflow dananya ke luar negeri. [E1]