Ekonomi
 
01/12/2008 - 20:46
Jangan Harap Tarif Angkot Turun
Ahmad Munjin & Asteria

(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah mulai hari ini sudah menurunkan harga premium Rp 500 menjadi Rp 5.500 per liter. Namun jangan berharap penurunan harga BBM ini bakal diikuti dengan penurunan ongkos transportasi ataupun harga jual bahan-bahan pokok.

Sepanjang Senin (1/12) tak ada reaksi dari kalangan pengusaha untuk merespon penurunan harga BBM jenis premium ini. Di Kota dan Kabupaten Cirebon misalnya, tarif angkutan kota (angkot) masih tetap Rp 2.500 per orang dewasa, sedangkan pelajar dan mahasiswa juga tetap Rp 1.500 per orang.

Di Tangerang juga tidak ada perubahan tarif. Ongkos jarak dekat angkutan R11 jurusan Perumnas Karawaci-Cikokol tetap Rp 2.000 per orang. Begitu pula di sejumlah kota nyaris tak ada respon untuk menurunkan tarif angkutan.

Alasan pengusaha angkutan ini jelas yakni besarnya penurunan harga premium yang hanya mencapai Rp 500 per liter, tetap tidak dapat mengimbangi besarnya operasional. Sehingga pengusaha pun memutuskan tarif angkot memang tidak ikut turun.

Alasan lainnya, pengeluaran yang telah dikeluarkan para pemilik maupun sopir angkot tidak hanya sebatas BBM tetapi juga untuk pembelian suku cadang kendaraan yang ikut naik sejak kenaikan BBM.

Sebelumnya Kepala Biro Hukum dan Humas Departemen ESDM Sutisna Prawira mengungkapkan, terhitung mulai pukul 00.00 WIB 1 Desember 2008, harga eceran BBM tertentu jenis premium turun menjadi Rp 5.500, per liter dari sebelumnya Rp 6.000 per liter.

Ketetapan penurunan harga ini berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 38 tahun 2008 tentang Harga Jual Eceran BBM Jenis Minyak Tanah, Premium, dan Minyak Solar untuk Keperluan Rumah Tangga, Usaha Kecil, Usaha Perikanan, Transportasi, dan Pelayanan Umum, pada 28 November 2008.

Pemerintah menurunkan harga BBM terkait anjoknya harga minyak mentah di pasar dunia lebih dari 50% hingga sempat menyentuh level US$ 49 per barel, dibandingkan rekor tertinggi di level US$ 147 per barel Juli 2008 lalu.

Pemerintah juga akan mengkaji apakah penurunan harga jual premium juga akan diikuti dengan penurunan BBM jenis solar pada Januari 2009 mendatang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, kajian menurunkan harga jual solar merupakan salah satu usaha meringankan beban rakyat.

"Kita baru saja menurunkan BBM, kita lihat apakah bulan depan solar juga bisa turun. Upaya untuk meringankan beban rakyat harus dilakukan sepanjang 'klop' dengan upaya penyelamatan perekonomian secara utuh," kata Presiden.

Sejumlah pengusaha transportasi memang berharap penurunan harga BBM juga berlaku pada jenis solar. Mengingat kendaraan besar seperti distribusi bahan pokok maupun produk-produk lainnya serta bus-bus antar kota banyak mengkonsumsi solar. Sehingga diharapkan penurunan harga solar dapat berdampak positif bagi iklim usaha.

Ketua DPR Agung Laksono menilai pemberlakuan kebijakan pemerintah tentang penurunan harga BBM ini positif, meskipun terlalu lama. Ia pun meyakini, turunnya harga BBM akan menggairahkan kembali daya beli masyarakat. "Ujungnya, pertumbuhan perekonomian di sektor riil diharapkan bisa kembali meningkat," ujarnya.

Sementara ekonom Umar Juoro jauh-jauh hari sudah mengingatkan penurunan BBM ini tidak efektif bagi masyarakat terutama bagi yang berpendapatan rendah mengingat subsidi BBM dari pemerintah masih besar,.

"Kalau untuk menekan inflasi dengan menurunkan harga BBM memang bisa. Tapi menurut saya, nggak usah diturunkan BBM-nya. Penyesuaian BBM itu, terutama untuk premium, lebih baik menggunakan formula saja," ujarnya.

Formulasi yang dimaksud Umar untuk menjadikan harga minyak domestik lebih efektif dan efisien adalah dengan menerapkan sistem auto rejection (penghentian otomatis) batas atas.

Sistem auto rejection merupakan solusi jitu untuk kebijakan harga BBM karena dapat mengamankan posisi APBN dari dampak gejolak harga minyak dunia. "Dengan rumus itu, jika harga minyak dunia terlalu tinggi maka subsidi distop," katanya. [E1]