
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta- Jawaban kenapa manusia bisa saling benci belum pernah terungkap. Namun Jim Mohr dari Universitas Gonzaga telah mengembangkan metode penelitian akademik tentang kebencian.
Tujuannya adalah untuk menjelaskan kondisi yang telah dialami sejak zaman manusia gua.
Gonzaga mendirikan institut itu satu dekade lalu setelah beberapa mahasiswa jurusan hukum berkulit hitam mendapatkan ancaman. Sejak saat itu Journal of Hate Studies didirikan.
Tidak ada definisi yang tepat untuk rasa benci, Ken Stern dari Komite Yahudi Amerika berpendapat. “Tidak ada teori yang meyakinkan,” ia menambahkan. Stern sendiri telah menghabiskan 20 tahun dalam memerangi antisemit.
Dalam ilmu psikologi, Sigmund Freud mendefinisikan rasa benci sebagai prinsip ego yang menginginkan sumber ketidakbahagiaan untuk hancur.
Salah seorang mahasiswa yang mengikuti kuliah tentang kebencian, Kayla de Los Reyes mengatakan bahwa informasi yang dipaparkan sangat menakutkannya namun memberi harapan. “Rasa benci merupakan riasan emosi manusia,” ia mengatakan. [ito]
- Chip Pintar Deteksi Badai Matahari
- Terciptakan! Jam Paling Akurat di Dunia
- Ditemukan, Ribuan Jejak Dinosaurus
- Titik Matahari Akan Picu Badai Api
- Radar Buatan RI Perlu Dijadikan Permanen
- Astronot Korea Bawa Makanan Tradisional
- Ilmuwan Pecahkan Rahasia Lari Sperma
- Pemilik Kucing Lebih Pintar dari Pemilik Anjing
- Ledakan Big Bang Ungkap Misteri Partikel
- Pemerintah Bukan Pelaksana Pengembang Teknologi
- Ilmuwan Temukan Baterai Plastik Revolusioner
- Terpecahkan, Misteri Jenis Kelamin Tumbuhan
- Tes DNA Ungkap Moyang Charles Darwin
- NASA Umumkan Foto Pluto Paling Dramatis
- Cahaya Api Menakjubkan di Langit Irlandia












