Minggu, 21 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Teknologi
 
15/12/2009 - 14:45
Website Urus User Facebook Pasca Kematian
Syamsudin Prasetyo

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Sunniva Geertinger hancur ketika pacarnya bunuh diri. Lebih buruk lagi, akun Facebook milik pacarnya itu menyisakan banyak kenangan dan foto di masa lalu menghantuinya.

Sampai saat ini, ada beberapa cara untuk mengontrol sisa peninggalan virtual seseorang. Namun sebuah situs Swedia meluncurkan layanan baru yang menawarkan mengatur email dan akun situs jejaring sosial setelah manusia meninggal. Layanan itu disebut sebagai My Webwill.

Situs ini diluncurkan di Swedia dan Amerika Serikat pada bulan ini dan akan segera menyusul di Inggris dan Jerman tahun depan. Upgrade versi web ini diharapkan bisa diselesaikan Mei, untuk lebih merambah ke berbagai negara lainnya.

Pengguna dapat mengeset keinginan digital dengan arah apa yang harus dilakukan dengan email dan akun jejaring sosial setelah mereka meninggal. Sebagai contoh, sebuah profil pengguna Facebook akan berkurang fungsi dan kemampuannya setelah penciptanya meninggal, dalam beberapa kasus akun tersebut memposting pesan belasungkawa otomatis.

“Praktis tiap orang akan tahu jika seseorang telah meninggal, halamannya akan mengeluarkan pesan dan tidak mengirimkan permintaan teman,” ujar Co-Founder My Webwill Lisa Grandberg.

Sebagai perbandingan, seperti Legacy Locker Inc, Deathwitch dan Slightly Morbid juga menyediakan layanan yang sama dengan mengirimkan email pasca kematian kepada teman dan keluarga.

Tetapi Grandberg dan Elin Tybring seorang Co Founder lainnya mengatakan My Webwill lebih unik karena memasuki akun pribadi seseorang secara aman dan mengaturnya berdasarkan permintaan terakhir orang yang bersangkutan.

Layanan dasar situs ini gratis termasuk penonaktifan 10 akun internet dan opsi pengiriman lima email permintaan terakhir asli yang ditulis dan disiapkan oleh klien. Layanan premium seharga 199 kronor setara Rp 278 ribu per tahun untuk pendaftaran seumur hidup.

Geertinger yang tersiksa karena tidak dapat menutup akun Facebook pacarnya yang meninggal karena bunuh mengatakan “Seluruh citra hidup kami ada di sana, kapan dan di mana kami berlibur, merenovasi rumah, dan sebagainya. Sangat banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi dan bagaimana. Saya ingin maju ke depan dan tidak ingin akun itu tetap ada di sana.”

Facebook akhirnya menutup akun tersebut setelah Geertinger menghabiskan berminggu mengirim email ke perusahaan. Meskipun aksi seperti ini sangatlah jarang dan melawan prosedur standar perusahaan.

“Kami tidak menghapus akun yang tidak aktif. Ketika kami menerima panggilan atau pernyataan dari anggota keluarga, kami mengadakan investigasi untuk mengetahui apakah seseorang telah meninggal dengan meminta berita kematian dari pejabat lokal yang berwenang,” kata Juru Bicara Facebook Elizabeth Linder.[ito]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !