
MAJALAH berita internasional Newsweek terbitan pekan silam memuat berita utama menarik berjudul Time of the Tough Guys (Masa untuk Orang-orang Tegas). Isinya tentang hasil pol global yang dilakukan WorldPublicOpinion.org untuk memilih pemimpin terpopuler di dunia dewasa ini. Yang diundang untuk turut serta dalam pol ini adalah orang-orang terkemuka yang dipilih secara acak di beberapa negara.
Hasilnya mencengangkan dan bertentangan dengan kecenderungan demokratisasi yang katanya tengah mendunia. Kesimpulan yang ditarik menunjukkan bahwa ketika dunia tengah dilanda krisis seperti sekarang ini, penghargaan diberikan pada orang kuat, tak peduli ia otokrat atau demokrat.
Survei yang didasarkan pada pol itu menghasilkan tiga pemimpin top dunia: Vladimir Putin dari Rusia, Gordon Brown dari Inggris, dan Hu Jintao dari Cina. Tiga pemimpin top dunia itu terdiri dari dua otokrat dan satu demokrat. George Bush yang mengumandangkan dirinya sebagai kampiun demokrasi global ternyata memble.
Sebenarnya hasil dari pol itu tidak terlalu mengejutkan. Ketika dunia tengah menghadapi krisis mulai dari perekonomian yang melambat, harga minyak yang melambung, dan kedamaian yang nampaknya kian jauh dari harapan, masyarakat dunia tentunya memuja para pemimpin yang sukses atau berhasil beradaptasi dengan krisis global itu.
Mungkin juga ia dianggap sukses dalam menangani dampak bencana alam yang melanda negerinya beberapa waktu lalu, walaupun dalam menghadapi soal Tibet ia menuai kritik dari masyarakat internasional.
Putin berhasil membawa Rusia menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia berkat hasil pengeboran minyaknya yang tengah menjadi primadona dalam pasar global. Demikian juga Hu Jintao, yang walaupun belum mengukir nama sebagai pemimpin besar Cina, dia menjadi penerus pimpinan yang mengutamakan kebangkitan ekonomi sistem kapitalis daripada menyebarkan ideologi.
Namun, itu tak berarti bahwa tantangan yang dihadapi Hu tidak bertumpuk. Dia punya tanggung jawab untuk melanjutkan warisan kepemimpinan Deng Xiaoping dan kemudian diteruskan oleh Jiang Zemin untuk mempertahankan Partai Komunis Cina (PKC) sebagai pemegang monopoli kekuasaan di negeri semiliar manusia itu. Dengan kata lain, reformasi ekonomi tak berarti bahwa demokrasi ala Barat akan mendapat tempat.
Tapi, Cina kini tengah berubah. Ketika demokrasi ekonomi makin merambah, salah satu yang jadi korban adalah justru politik dan ideologi. Artinya pembangunan ekonomi telah menyebabkan orang ‘lupa’ bahwa Cina adalah negara sosialis.
Rakyat kelewat disibukkan oleh pengejaran materi sehingga politik dan ideologi terlupakan, dan pada suatu saat mereka akan menuntut hak-hak pribadi dan politik yang lebih besar. Sekarang saja banyak orang, terutama kaum muda, yang menjauh dari PKC. Peristiwa Tiananmen 1989 adalah salah satu gejala ke arah ini.
Menurut para pengamat Cina, agar rakyat kurang memikirkan tentang demokrasi dan hak-hak pribadi, cara yang dipakai oleh pemerintah dan PKC adalah ‘menyuap’ masyarakat dengan memberikan hak-hak ekonomi makin lama makin besar. Dewasa ini pada dasarnya orang boleh berbuat apa saja, asalkan tidak mempertanyakan tentang demokrasi dan kekuasaan mutlak yang dinikmati PKC.
Tantangan lain yang dihadapi Hu adalah jurang yang makin besar antara mereka yang sukses dalam menjalani hidup di alam reformasi ini dan mereka yang kurang beruntung. Karena itulah gejala yang harus dihadapi dalam suatu masyarakat kapitalis. Untuk mengatasi ini Hu mengeluarkan jurus yang disebutnya sebagai penciptaan ‘masyarakat harmonis’ yang dimulai sejak 2055.
Maksud program itu adalah membantu mereka yang kurang beruntung dalam menjalani kehidupan di alam ‘sosialisme dengan karakteristik Cina.’ Subsidi yang mungkin setara dengan kredit Usaha Menengah dan Kecil diberikan kepada para pengusaha kecil yang memerlukan. Pemerintah juga membangun infrastruktur, khususnya di bidang transportasi yang menghubungkan pedalaman dan kota agar pengangkutan hasil pertanian dapat lebih mudah mencapai daerah urban.
Namun, dunia masih menunggu hasil dari program ini. Walaupun demikian Hu telah mendapat tempat terhormat di barisan pemimpin dunia yang dianggap sukses. Masyarakat memang menghargai pemimpin yang berani bertindak tegas – tapi tak ngawur – di tengah berbagai krisis yang tengah melanda dunia.
Penulis adalah Guru Besar Studi Cina, Universitas Indonesia
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Etika Israel di Gaza
- Cina Jadi Tujuan Baru Studi
- Sharon, Palestina, Kita
- Implikasi Politik Pasca Putusan MK
- Kabar Dunia 2008
- Selamat Datang Polisi (Baru) Dunia
- Hospital tanpa Hospitality
- Cina Punya Kapal Induk (Lagi)
- Bila Paduka yang Mulia Marah
- Sang Dekan Diplomasi Berpulang
- Apakah Cina Masih Perlu AS?
- Menjaring Capres ala Gus Solah
- Balada Marcella
- Nasi Goreng Obama
- Mungkinkah China Bantu AS