CELAH
INDEKS CELAH
![]() | |
DI Bulan Kemerdekaan ini kita menyaksikan banyaknya kegiatan ilmiah di Tanah Air yang amat membesarkan hati. Terutama karena berbagai program itu diminati oleh remaja dan kaum muda.
Ada Asian Science Camp yang menghadirkan sejumlah pemenang Nobel di Bali. Ada pameran robot ciptaan mahasiswa. Ada pula pameran berbagai temuan teknologi baru karya ilmuwan Indonesia.
Yang tak kalah membesarkan hati: ada Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang kini memasuki tahun ke-40, suatu prestasi tersendiri untuk merawat kegiatan semacam ini dengan ketekunan yang konstan selama 40 tahun.
Pastilah LKIR tahun ini jauh lebih maju dibanding ketika saya mengikutinya pada 1980. Pesertanya makin banyak, dan bidang minat mereka - yang rata-rata masih belajar di bangku SMU - pun kian beragam.
LKIR dan berbagai kegiatan ilmiah kaum muda itu mematahkan banyak 'mitos' yang telanjur tertancap di benak masyarakat tentang kaum muda kita, berkat bombardemen media tentang aneka kegiatan mereka yang jauh dari urusan keilmuan.
Sejumlah aktivitas itu memastikan bahwa remaja dan kaum muda yang suka tawuran, pecandu narkoba dan berbagai perbuatan tak terpuji lainnya, bukanlah representasi utama sosok kaum muda Indonesia.
Bahkan dapat dipastikan bahwa mereka yang berperilaku menyimpang itu memang merupakan penyimpangan dari himpunan kaum muda kita.
Selain mereka yang tekun mengikuti LKIR dan lomba-lomba ilmiah internasional (dan anak-anak kita, dalam 10 tahun terakhir, setiap tahun sukses gemilang di ajang-ajang bergengsi itu; mulai dari yang tingkat SD sampai perguruan tinggi), kaum muda Indonesia juga banyak yang sibuk berlatih musik dan olahraga.
Mereka berlatih dengan sepenuh minat, sambil tetap menekuni pelajaran standar sekolah. Sebagian dari mereka pun, khususnya di bidang seni suara dan musik, meraih prestasi yang membanggakan di kontes internasional lewat orkestra musik klasik atau grup paduan suara yang mereka bentuk.
Belum lagi kalau kita lihat dari pesatnya pertumbuhan sejumlah kelompok musik anak muda, yang makin tergiur oleh fakta bahwa musik pop Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan dengan demikian menjanjikan imbalan penghasilan yang bisa sangat besar.
Tahun lalu, misalnya, ketika sebuah perusahaan mengadakan lomba band anak muda, tercatat ada 1.450 grup mendaftar. Dan jumlah itu hanya di tiga kota (Jakarta, Bandung, Yogjakarta).
Di situs INILAH.COM ini saja, kalau Anda buka rubrik Inilah Indie, akan terlihat beratus-ratus grup yang terdaftar, di luar ratusan aspiran penyanyi solo.
Memang, belum tentu semua kelompok itu akan terus menapaki karir profesional di bidang bisnis hiburan, atau juga di bidang ilmu. Mereka masih muda belia. Begitu banyak kemungkinan terbentang di depan mereka, yang siap membujuk mereka untuk berbelok ke arah yang lebih mereka minati, ataupun lebih menjanjikan penghidupan yang lebih layak.
Tapi fakta bahwa di saat belia ini mereka memilih berbagai kegiatan sehat itu ketimbang tawuran atau menjalani hidup secara semau gue, perlu dilihat sebagai indikator penting bahwa kaum muda kita pada umumnya sehat dan siap menyambut berbagai peluang kemajuan peradaban Indonesia.
Semua gejala sehat kaum muda kita itu memang tidak diberi tempat oleh kebanyakan media massa, atau setidak-tidaknya tak diberi porsi pemberitaan yang semestinya. Setiap pembaca atau pemirsa media, kapanpun mereka menghadapi berita, hendaknya sadar bahwa apa yang muncul di media bukanlah atau belum tentu representasi keadaan sesungguhnya.
Perlu diingat bahwa prinsip kerja jurnalistik adalah "kalau anjing menggigit orang, itu bukan berita; kalau orang menggigit anjing, itu baru berita".
Dari paradigma lama ini saja - yang belum kunjung ditemukan alternatifnya - jelas bahwa peristiwa yang dianggap punya nilai-berita adalah hal yang merupakan perkecualian. Bukankah rule-nya adalah anjing menggigit orang, dan bahwa yang sebaliknya merupakan exception?
Berbagai berita keilmuan yang melibatkan kaum muda Indonesia hari-hari ini mudah-mudahan meyakinkan kita bahwa anak-anak muda yang tawuran, malas-malasan dan tak serius menghadapi masa depan adalah perkecualian dari wajah asli kaum muda kita.
Patologi yang melanda sebagian kaum muda itu tentu saja perlu diperhatikan. Tapi perhatian pada mereka tak perlu sampai membutakan mata kita terhadap hal-hal baik yang terus mereka tekuni.
Inilah alasan kita untuk optimistis bahwa masa depan Indonesia tidaklah sekabur yang dikeluhkan oleh mereka yang sinis, pesimistis dan berjiwa lembek.
Penulis adalah Direktur Eksekutif SPIN (Stragtegic Political Intelligence) [L1]
[ Kirim ke teman ]