Celah
09/10/2008 - 08:54
Via Shenzhou, Cina Jadi Kekuatan Dunia
A. Dahana

PERLOMBAAN persenjataan di luar angkasa semakin seru. Prosesnya dimulai pada 25 September lalu ketika Cina meluncurkan pesawat luar angkasa Shenzhou VII dari pusat peluncuran Jiuquan di Mongolia Dalam.

Shenzhou VII dilontarkan dengan roket Chang Zheng II-F. Satu hal baru dari misi penerbangan itu adalah keberhasilan satu dari tiga awak berjalan dan melakukan gerakan di luar pesawat—operasi yang selama ini hanya bisa dilakukan antariksawan AS dan Rusia.

Dari rekaman video yang ditayangkan ke seluruh dunia terungkap fakta bahwa Cina sudah mampu mengembangkan teknologi ruang angkasa secara independen. Tak lama lagi Cina akan dmenyamai kemampuan kedua negara adidaya lainnya.

Dari tayangan itu terlihat antariksawan yang berjalan di luar pesawat, namanya Zhai Zhigang. Ia mengenakan baju pelindung buatan Cina, namun sangat mirip produk Rusia. Sedangkan antariksawan lainnya yang berjaga-jaga untuk penyelamatan, mengenakan pakaian pelindung buatan Rusia.

Misi Shenzhou selesai sempurna 68 jam kemudian, ketika modul pendarat masuk kembali ke angkasa dan menyentuh tanah dengan mulus di rerumputan Mongolia.

Cina boleh bangga. Tapi itu bukan suatu misi murah, karena setiap baju pelindungnya saja konon berharga US$23 juta - jauh lebih mahal dari yang biasa dikenakan para antariksawan Rusia dan AS.

Yang lebih mengagumkan lagi, Zhai juga sempat melepaskan satelit seberat 40 kg. Satelit kecil itu berfungsi ganda. Pertama, karena membawa kamera, ia mampu menayangkan gerakan Zhai ke alat monitor di bumi. Rekaman itulah yang kemudian dan disiarkan ke seluruh jagat.

Kedua, satelit itu juga membawa alat yang dilengkapi lensa yang mampu melakukan tugas optical imaging, global positioning, dan juga navigasi. Itu saja sudah menunjukkan bahwa teknologi luar angkasa Cina sudah maju dalam penggunaan pesawat ruang angkasa dan antariksawan untuk meluncurkan satelit yang mampu menelusuri, mengintai, mencari posisi, dan melakukan kegiatan navigasi.

Yang membuat para pengamat di luar Cina tercengang adalah justru hal lain. Operasi luar angkasa itu bisa disaksikan melalui tayangan TV di seluruh dunia.

Ini, kata para pengamat itu, menunjukkan bahwa pemerintah Cina sudah memiliki rasa percaya diri besar akan kemampuan teknologi antariksa. Tayangan pendaratan juga dipertunjukkan secara lengkap dan terlihat ketiga antariksawan keluar dari modul pendarat tanpa cedera sedikitpun.

Itu berbeda dengan kejadian pada 2003 dalam penerbangan Chang Zheng VI, ketika modul pendarat tidak jatuh di tempat yang ditentukan, dan antariksawan Yang cedera. Kini Cina sudah bisa mengklaim bahwa teknologi antariksanya sudah hampir menyamai kemampuan AS dan Rusia.

Yang menjadi kekhawatiran negara lain, terutama AS, mungkin juga Rusia dan India, mengenai teknologi antariksa 'negeri semilyar manusia' itu tak lain dari kapabilitas militer ruang angkasa. Sebab, dengan keberhasilan itu akan dengan mudah Cina mengaplikasikannya di bidang militer.

Menurut info dari sumber intel Taiwan, Cina telah berhasil mengembangkan serangkaian roket yang dapat digunakan untuk misi antariksa yang bervariasi. Sebut saja seri Chang Zheng (Long March) II, III, dan IV.

Roket-roket berbobot 1,5 dan 9,5 ton itu mampu masuk ke dalam orbit setinggi 35 ribu km dan bisa mencapai sasaran di manapun di dunia. Dikombinasikan dengan satelit yang dilepaskan oleh antariksawan Zhai, ketepatan untuk memukul sasaran di manapun di dunia tak dapat diragukan lagi.

Kini Cina tengah mengembangkan lagi generasi baru bernama Chang Zheng V. Kemampuan roket seberat 25 ton itu masih dirahasiakan, tapi diperkirakan bakal bisa dipakai mengangkut satelit besar, pesawat ulang-alik atau stasiun antariksa ke dalam orbit,

Selain itu, menurut sumber Taiwan itu lagi, Cina kini tengah mengembangkan seri roket lebih kecil bernama Kaituozhe (Pionir) yang akan digunakan untuk meluncurkan satelit lebih kecil.

Pada Januari tahun lalu, Cina meluncurkan peluru antisatelit untuk menghancurkan satelit cuaca yang sudah kadaluarsa. Percobaan itu dilakukan dengan roket Kaituozhe.

Pihak Barat mengartikan keberhasilan itu sebagai indikator bahwa ia mampu bertarung di angkasa luar, khususnya dalam menghancurkan satelit pengintai musuh.

Apapun maksud di belakang peluncuran pesawat antariksa pada 25 September itu, yang juga paling berarti adalah segi propaganda. Kini Cina sudah tidak bisa lagi dianggap remeh karena telah menjadi kekuatan dunia yang posisinya tidak bisa lagi dianggap rendah dan karenanya sejajar kekuatan dunia lainnya.

Fakta bahwa peluncuran Shenzhou VII dilakukan setelah sukses lain yakni keberhasilan menyelenggarakan Olimpiade 2008 telah menjadi faktor plus dalam propaganda ini. Ini dibuat lebih hebat lagi dengan suksesnya di bidang ekonomi.

Kendati demikian, para pemimpin Cina selalu merendah. Dalam setiap kesempatan mereka selalu mengatakan bahwa Tanah Air mereka masih merupakan salah satu dari negara sedang berkembang.

Honolulu, Hawaii, 6 Oktober 08. [L1]

KOMENTAR BERITA