Celah
21/10/2008 - 05:18
McCain Pantas, Obama Lebih Pantas
Hamid Basyaib

DUKUNGAN Republikan senior Colin Powell kepada Demokrat Barack Obama tentu merupakan berita penting. Dukungan bekas menteri luar negeri di era Bush Sr. yang juga pernah hampir menjadi kandidat presiden itu tidak bisa diremehkan.

Yang perlu dicermati adalah alasan Powell membalik loyalitas tradisionalnya dari Republik ke Demokrat. Negarawan yang sangat dihormati itu menilai Obama sebagai 'tokoh transformasional' yang membawa ide-ide segar ke panggung politik Amerika.

"Dan penampilannya bukan hanya mengilhami warga Amerika Serikat, tapi juga banyak warga dunia," ucap Jenderal Powell.

Ia mencibir kampanye negatif berlebihan yang dilancarkan kubu John McCain terhadap Obama. Ia mengerti, politik memang memuat unsur itu - penyudutan terhadap lawan. "Tapi yang dilakukan kubu McCain kali ini sudah terlalu jauh," katanya, dalam Meet the Press TV NBC.

Ia risau Obama dianalogikan dengan tokoh radikal 1960-an, Bill Ayers. Sebelumnya Obama juga banyak diserang gara-gara pernyataan rasistis pendeta dan sahabat Obama, Jeremiah Wright. 'Kebetulan' Ayers dan Wright berkulit hitam – isu kulit memang dimainkan oleh kubu McCain dengan cara yang sering vulgar.

Bagi Powell, dengan menekankan kampanye negatif, dan bukan ide-ide kenegaraan yang disajikan secara positif, McCain telah mempersempit cakupan kampanyenya. Padahal, bagi Powell, itu bukanlah hal yang diperlukan dan diinginkan rakyat Amerika. Rakyat mana pun memang jauh lebih mengharapkan inspirasi dari pemimpin mereka, dan bukan insinuasi, yang sangat mudah melakukannya dan karenanya tidak memerlukan seorang calon presiden.

Memang terlihat makin banyak warga yang letih dan merasa tak terinspirasi oleh kampanye gaya McCain, seperti tampak dari hasil-hasil jajak-pendapat yang hampir semuanya mengunggulkan Obama dengan selisih kian besar.

Keseragaman hasil polling itu begitu mencolok sampai McCain mengemukakan sejumlah pernyataan bernada 'lempar handuk'. Setelah pukulan telak Powell, McCain menyatakan ia "berbahagia sebagai underdog" – sambil menekankan bahwa ia didukung oleh empat mantan menlu di luar Powell.

Itu sekaligus cara McCain – yang makin kalap dengan menuduh Obama mengagendakan program sosialis, bahkan komunis – mencoba membalik persepsi bahwa dialah sang David yang berusaha keras melawan Goliath Obama.

Dalam kamus politik Indonesia, apa yang terjadi pada Obama, untuk sebagian, adalah juga gejala 'dizalimi'. Dan dia memenuhi semua syarat untuk diperlakukan demikian: muda (dan dengan demikian dipotret sebagai 'kurang pengalaman') dan terutama berkulit hitam (untuk pertama kali dalam sejarah Amerika).

Para pemimpin Indonesia juga bisa belajar dari situasi mutakhir pemilihan presiden AS itu. Kandidat yang terlalu bernafsu mencerca lawan, apalagi untuk aspek-aspek yang kurang relevan dengan posisi sebagai presiden, punya peluang besar berbalik arah memukul kubu sendiri. Pelakunya juga tentu dapat dinyatakan merendahkan martabat pribadi.

Kita punya pengalaman tegas empat tahun lalu, ketika underdog Susilo Bambang Yudhoyono, seorang menteri yang dipecat dan tak punya partai, justru mendapat berkah politik yang melimpah karena dipersepsi publik sebagai 'dizalimi' oleh lawannya.

Seperti diisyaratkan Colin Powell, politik elektoral memang niscaya mengandung unsur-unsur kampanye negatif. Jika dosisnya wajar, kita pun dengan mudah menerimanya, bahkan menganggapnya bagian dari kembang-kembang politik yang bisa memeriahkan kontestasi – selain hiburan gratis yang cukup sehat.

Masalahnya: para pemimpin tidak sensitif mengenai batas-batas wajar itu. Senator John McCain di Amerika jelas menunjukkan insenstifitas itu – di tengah kepanikan kubunya yang tiap hari harus menyaksikan merosotnya dukungan publik kepadanya.

Soal 'panik' itu pula yang bagi Powell merupakan salah satu kekuatan Obama. Powell menyebut, Obama terus menyajikan pendekatan yang jernih dan dingin terhadap berbagai masalah besar bangsanya. Ia bukan tak menghormati McCain, seniornya di Republik.

McCain, kata Powell, adalah tokoh besar dan pantas menjadi presiden AS. "Tapi Obama lebih pantas lagi...," tambahnya.

Tak sampai dua pekan lagi, rakyat AS dan dunia akan memastikan kebenaran pembandingan Colin Powell itu.

Penulis adalah Direktur Eksekutif SPIN (Strategic Political Intelligence) [L1]

KOMENTAR BERITA