

IA bagaikan sebuah pulau karang di tengah samudera yang mampu menahan terpaan gelombang. Begitulah gambaran tentang Partai Komunis Cina (PKC).
Di tengah perubahan begitu dahsyat, baik di tataran global maupun di Cina, PKC tetap tegak sebagai penguasa tunggal di negeri tempat paling banyak manusia berdiam ini.
Ancaman terhadap kekuasaannya beragam dan terus-menerus. Salah satu dampak dari berakhirnya Perang Dingin adalah tersingkirnya ideologi dan kecenderungan bahwa demokratisasi menjadi gejala global.
Tekanan itu makin besar lagi lantaran para sekutu Cina yang ada di Rusia dan Eropa Timur satu persatu berguguran. Komunisme dianggap ideologi usang.
Reformasi ekonomi mendiang Deng Xiaoping menjelang akhir dasawarsa 1970-an dianggap sebagai lonceng tanda awal dari proses kematian komunisme dan PKC.
Apa yang telah terjadi di Rusia dan Eropa Timur, menurut asumsi ini, juga akan terjadi di Cina. Anggapan ini lebih diperkuat lagi setelah terjadi penindasan atas para pengunjuk rasa yang menuntut demokrasi dan keterbukaan di Lapangan Tiananmen, Juni 1989.
Anggapan ini meremehkan diktum Deng bahwa reformasi dan pembangunan ekonomi adalah justru memperkuat posisi PKC. Sebab, kata para pengamat, keberhasilan pembangunan ekonomi akan menimbulkan tuntutan suatu sistem tranparan, perwakilan berdasarkan pada pemilihan terbuka, dan adanya partisipasi publik dalam menyusun kebijakan.
Setelah peristiwa Tiananmen 1989 banyak prediksi negatif yang mengatakan bahwa PKC sudah berada di ambang akhir ajalnya. Banyak buku, artikel, baik yang ilmiah maupun yang populer, yang mengetengahkan anggapan, bahwa PKC, lantaran sebuah institusi kuno dan telah terpisah dari massa rakyat akan menjadi tak relevan lagi dengan situasi Cina pascareformasi dan dunia pasca Perang Dingin.
Sebut saja pendapat radikal Gordon Chang dalam buku The Coming Collapse of China (2002). Ia meramalkan dalam waktu lima tahun PKC akan kolaps.
Atau sinolog Jerman Jurgen Domes yang mengatakan PKC yang sudah tak relevan lagi dengan Cina masa kini, kekuasaannya akan rontok.
Namun sejauh ini PKC tetap saja berkuasa, bahkan makin kuat. Lalu, mengapa itu bisa terjadi?
Pandangan pertama datang dari dimensi tradisi dan sejarah. Ciri utama perjalanan bangsa dan negeri itu yang telah berlangsung lebih dari 2.000 tahun, adalah siklus antara masa unifikasi yang diselingi masa fragmentasi. Ketika ada pemerintahan atau kekaisaran yang kuat, negeri bersatu dengan perkembangan ekonomi yang baik sehingga kemakmuran menjadi tanda zaman. Namun, datanglah kekacauan dengan ketakhadiran dinasti kuat, negeri terpecah-belah menjadi beberapa negara kecil yang saling berperang dan meyengsarakan rakyat.
Itulah yang kemudian disebut masa kacau (luan) dalam sejarah Cina. Luan adalah keadaan yang paling ditakuti masyarakat Cina tradisional. Begitulah yang terjadi selama berpuluh abad.
Direfleksikan ke masa sekarang, sebagian besar massa di daratan Cina tidak menginginkan negara kacau seperti masa lalu. Untuk itu perlu pemerintahan kuat yang mampu mempertahankan Cina sebagai negara kesatuan.
Karena itu Cina selalu curiga akan intervensi asing yang ditengarai akan mengubah sistem politik kini. Dalam hal ini propaganda partai agar rakyat waspada terhadap 'evolusi damai' berupa kekuatan asing yang secara perlahan mengubah masyarakat sosialis Cina menjadi masyarakat kapitalis, telah mengenai sasaran.
Pendapat yang juga datang dari tradisi adalah yang mengatakan bahwa sejak zaman kuno Cina tak mengenal apa yang sekarang disebut sebagai demokrasi. Karena keadaan geografi yang begitu luas dan penduduk yang begitu banyak, sistem yang cocok hanyalah sistem otoriter.
Pendapat tradisonal ini membandingkan situasi di Rusia setelah Uni Soviet bubar. Karena tradisi yang tak mengenal demokrasi, Putin dengan tangan besi diterima oleh sebagian besar masyarakat Rusia. Di Cina, PKC bisa dibilang tak lain dari institusionalisasi kediktatoran Putin. Maklumlah, kini tak ada lagi tokoh kuat semacam Mao Zedong atau Deng Xiaoping.
Faham yang lebih praktis mengatakan, PKC masih mampu berkuasa tak lain karena di negeri itu tidak ada organisasi tandingan yang mampu menyaingi kemapanan dan cengkeraman kuat PKC atas masyarakat Cina.
Selain fakta bahwa PKC telah lama berkuasa dengan mesin organisasi yang begitu melembaga, ia selalu mengimbas sampai habis semua perlawanan begitu muncul, walaupun sekecil apapun.
Para aktifis HAM Cina maupun internasional selalu mengetengahkan tentang kebrutalan PKC dalam melindas perbedaan pendapat sekecil apapun kalau itu menyangkut pada kekuasaan PKC. Krisis ekonomi dunia diperkirakanakan menambah kekuatan PKC.
Pendapat lain yang juga banyak dianut para pengamat Cina adalah fakta terjadinya perubahan sangat besar di dalam masyarakat Cina, PKC juga turut berubah.
PKC mampu mengikuti tendensi yang selalu berubah dalam masyarakat. Dan sebagai pemegang kekuasaan tunggal, PKC mampu membuat kebijakan sejalan perubahan dalam masyarakat. [L1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Etika Israel di Gaza
- Cina Jadi Tujuan Baru Studi
- Sharon, Palestina, Kita
- Implikasi Politik Pasca Putusan MK
- Kabar Dunia 2008
- Selamat Datang Polisi (Baru) Dunia
- Hospital tanpa Hospitality
- Cina Punya Kapal Induk (Lagi)
- Bila Paduka yang Mulia Marah
- Sang Dekan Diplomasi Berpulang
- Apakah Cina Masih Perlu AS?
- Menjaring Capres ala Gus Solah
- Balada Marcella
- Nasi Goreng Obama
- Mungkinkah China Bantu AS