

SIAPAPUN pasti tergetar menyaksikan pidato 10 menit Barack Obama dalam menyambut kemenangannya sebagai presiden Amerika Serikat ke-44, di lapangan terbuka di Chicago itu.
Aneka nuansa di sekitar peristiwa itu pun makin membuat dunia turut 'merinding', terharu, kagum, bahkan ikut berbahagia atas kemenangan gemilang pria langsing yang tak henti memancarkan pesona kharismatik yang anggun dan sulit diragukan ketulusannya itu.
Begitu banyak hal atau rekor baru yang terjadi. Selain presiden kulit hitam pertama, ia juga akan menjadikan kedua putrinya sebagai anak terkecil di Gedung Putih. Tingkat partisipasi pemilih (electoral turnout) pemilu yang ia ikuti tertinggi dalam sejarah Amerika. Rakyat rela antre berdiri berjam-jam, sambil membawa bekal makanan atau bacaan, menuju bilik suara.
Belum pernah pemilu presiden AS dicermati sedemikian intens oleh warga dunia dan mencetuskan antusiasme begitu tinggi terhadap salah satu kandidatnya hingga memunculkan fenomena Obamamania di mana-mana.
Boleh dikata, satu-satunya negara yang murung menyaksikan kemenangannya hanya Israel. Obama, berlawanan dengan 'tradisi' pada kandidat presiden Amerika selama berpuluh tahun, tak pernah menjanjikan sesuatu menggembirakan bagi Negara Yahudi itu dalam rangkaian kampanye maupun dokumen strategi kebijakan (yang antara lain dirumuskan oleh lebih dari 200 pakar kebijakan luar negeri).
Dana yang ia kumpulkan terbesar dalam sejarah yang, "tidak dimulai dengan uang jutaan dolar di Washington, tapi dengan lima dolar, 10 dolar, di halaman belakang rumah saya di Chicago."
Obama membangun organisasi dan sistem kampanye paling rapi, diikuti begitu banyak relawan. Para perancang strategi 'menemukan' metode kampanye online yang sangat efektif, yang membuat cara John McCain disebut 'tradisional' karena hanya mengandalkan mailing-list. Aspek ini tentu akan menjadi objek studi elektoral hingga bertahun-tahun mendatang.
Jumlah massa yang ia kumpulkan pun fantastis untuk ukuran kampanye di AS. Seminggu sebelum hari H, ia menghimpun seratus ribu orang di lapangan terbuka di Colorado “ lawannya tak pernah berkampanye di tempat terbuka. Dan di lapangan di Chicago itu, Obama memaku lebih dari 200 ribu orang.
Di tengah massa yang menyemut, tampak Pendeta Jesse Jackson, tokoh Afrika-Amerika paling terpandang dan pernah menjadi calon kandidat presiden Demokrat, dan ratu reality show Oprah Winfrey. Keduanya, tanpa minta keistimewaan tempat di acara itu, tampak tak mampu membendung air mata menyaksikan apa yang oleh Winfrey disebut 'kemenangan harapan'.
Obama tampil seperti biasa, seperti ketika ia mulai berkampanye dalam primary election 21 bulan lalu. Inilah salah satu kekuatannya: kemampuan untuk tenang dan self-control yang mengagumkan. Ia tak membiarkan dirinya diselimuti kegembiraan berlebihan meski menang gemilang.
Dengan mimik datar standar, dan tetap dengan diksi kuat dan akurat, ia menekankan lagi pesan pokok kampanye tentang perubahan, yang sejauh itu memang mulai terbukti. "Kekuatan Amerika bukanlah terletak pada keperkasaan militernya," katanya, dengan volume suara yang tak berubah setelah hampir tiap hari berkampanye selama hampir dua tahun.
"Kekuatan Amerika adalah karena demokrasi dan kebebasan, karena harapan dan, yang terpenting, karena peluang yang dibukanya bagi siapa saja yang percaya pada kekuatan nalar dan penilaian yang baik, terlepas dari agama, ras, jender, kelas sosial..."
Obama menegaskan, "Saya akan mendengar suara Anda, terutama ketika kita sedang tak bersepakat" siapa yang tak tergetar pada sikap pemimpin dan perumusannya yang cerdas dan orisinal ini?
Ia mengulangi tekad mempersatukan rakyat Amerika terlepas dari afiliasi kepartaian, agama, warna kulit, kaya-miskin, tua-muda, gay and straight. Dengan determinasi yang kukuh, dan dengan kelugasan dan kefasihan, semua orang bisa melihat ketulusan Obama. Maka tak banyak dari pendengarnya, yang berbaur tanpa prasangka, yang sanggup membendung air mata. Semuanya serentak meneriakkan yel-yel kampanyenya: Yes, We Can!
Setelah itu, pentas diisi oleh sesuatu yang seakan persis menerjemahkan tekad Obama itu: isteri, kedua puteri dan sejumlah kerabatnya tampil, diikuti dengan Wapres Joe Biden, isteri dan ibunya yang berusia 90an, mereka berpelukan dan bergandengan tangan.
Seperti kata Colin Powell ketika ia menyatakan dukungannya, Obama adalah pemimpin transformasional yang menjadi inspirasi dunia, bukan hanya Amerika. Maka, lebih daripada sekadar menjadi presiden negara besar, Barack Hussein Obama adalah manusia besar.
Sambil mengusap air mata usai menyaksikan pidato singkat yang inspiratif seperti biasa, saya bergumam: di awal abad XXI ini, seorang tokoh besar telah lahir.
Dan dunia, bukan hanya rakyat AS, beruntung dan selayaknya menyambut hangat kehadirannya untuk ikut menentukan arah sejarah planet tunggal ini.
Penulis adalah Direktur Eksekutif SPIN (Strategic Political Intelligence) [L1]
- Etika Israel di Gaza
- Cina Jadi Tujuan Baru Studi
- Sharon, Palestina, Kita
- Implikasi Politik Pasca Putusan MK
- Kabar Dunia 2008
- Selamat Datang Polisi (Baru) Dunia
- Hospital tanpa Hospitality
- Cina Punya Kapal Induk (Lagi)
- Bila Paduka yang Mulia Marah
- Sang Dekan Diplomasi Berpulang
- Apakah Cina Masih Perlu AS?
- Menjaring Capres ala Gus Solah
- Balada Marcella
- Nasi Goreng Obama
- Mungkinkah China Bantu AS