

PRESIDEN terpilih AS Barack Obama bukan hanya piawai berkampanye dan memukau seluruh dunia dengan itu. Kepiawaian kampanye kini ia pindahkan ke strategi transisi menjelang peralihan kekuasaan dari pendahulunya – yang telah mengundangnya ke Gedung Putih.
Obama rupanya tak luput mempersiapkan transisi yang ia yakini akan harus dialaminya. Sejak beberapa bulan sebelum pemilu, diam-diam ia dan tim khususnya mempelajari segala sesuatu mengenai transisi itu, yang diatur oleh undang-undang khusus. Periode transisi pun pasti: awal November hingga pelantikan 20 Januari (2009).
Tim yang dikoordinasikan oleh John Podesta itu bahkan kemudian memperluas keanggotaan, demi menghindari 'kekacauan' yang cukup sering melanda para presiden terpilih sebelumnya.
Direkrutnya Podesta, mantan kepala staf Gedung Putih di era Clinton, rupanya justru untuk menghindari kelemahan transisi eks Presiden Bill Clinton (1992-93). Selain mempelajari kelemahan transisi presiden Demokrat itu, tim Obama berfokus pada strategi transisi Presiden Ronald Reagan, yang berjalan mulus dan tertib.
Transisi Clinton memang kedodoran. Enam minggu setelah terpilih, ia belum menunjuk seorang pun pejabat senior. Ia juga terlalu suntuk pada penyusunan kabinet, dan baru mengangkat pejabat-pejabat Gedung Putih hanya tiga pekan sebelum pelantikannya.
Clinton bertele-tele dalam menunjuk jaksa agung karena terlalu peduli pada 'keragaman', dan terombang-ambing di antara tiga nama. Ia juga meremehkan tokoh-tokoh penting Capitol Hill (Kongres). Inilah yang, menurut para tokoh Demokrat, membuat Republik mendominasi Kongres pada 1994.
Tim Obama memilih untuk meniru model Reagan – sampai ke sejumlah detailnya. Mereka, misalnya, bekerja sama erat dengan Center for American Progress, sebuah think-tank yang berspirit Demokrat, sebagaimana Reagan meminta bantuan lembaga Republikan yang kala itu terhitung baru, The Heritage Foundation.
Itulah sebabnya Obama, seperti Reagan, mendahulukan pengisian jabatan-jabatan di Gedung Putih; ia segera mengangkat Rahm Emanuel ('Rahmbo') sebagai kepala staf, dan Robert Gibbs, sebagai sekretaris pers.
Pekan lalu ia mulai mencicil mengisi sejumlah pos penting kabinet. Sudah tentu Obama sadar akan prioritas: ia mulai dengan tiga petinggi bidang ekonomi. Lawrence Summers sebagai ketua Dewan Ekonomi Nasional, Timothy Gheitner sebagai menteri keuangan, Christina Rohmer sebagai penasihat ekonomi.
Cara Obama mengumumkan pengangkatan mereka, dengan pengantar yang mengesankan, menunjukkan ia mengerti apa yang diharapkan publik Amerika dan dunia. Hanya dengan cara dan sikapnya yang elegan saat mengumumkan hal itu, Obama telah mengirim sinyal positif kepada publik dan pasar. Ia tampak tenang, tegas dan percaya-diri, sambil mengulangi tekadnya menciptakan 2.5 juta lapangan kerja baru.
Ia tidak menutup-nutupi fakta bahwa ekonomi negerinya sedang di ambang sekarat, tapi juga tanpa menunjukkan kegentaran untuk menghadapinya.
"Saya akan menempuh langkah-langkah perbaikan di paruh pertama masa jabatan saya," katanya. “Lalu berusaha memulihkan keadaan di paruh kedua."
Obama menambahkan bahwa situasi akan semakin buruk (selama masa perbaikan itu), sebelum berubah menjadi lebih baik.
Sehari setelah terpilih (4 November), Obama telah diperlakukan layaknya seorang presiden definitif – begitulah undang-undang mengharuskan. Ia dan keluarganya langsung mendapat pengawalan optimal, termasuk memperoleh nama sandi 'renegade' (dan 'renaissance' untuk isterinya).
Ia juga segera mulai menerima laporan singkat harian dari dinas rahasia, sebagaimana Presiden Bush.
Transisi presidensial Amerika memang urusan besar. Seorang presiden harus mengangkat 7.000 pejabat baru, termasuk seribu orang yang harus mendapat persetujuan Senat. Ditambah dengan jabatan-jabatan lebih rendah, pergantian presiden berarti pergantian belasan atau puluhan ribu pejabat di hampir semua instansi pemerintah.
Banyak di antara pejabat itu yang harus mengisi formulir setebal 60 halaman yang diajukan oleh polisi federal (FBI). Pertanyaan-pertanyaannya amat terinci, termasuk selera makan dan status hukum pembantu rumah tangga mereka. Kebesaran sebuah superpower rupanya niscaya diikuti sejenis paranoia politik dan keamanan.
Sejauh ini Obama tampak lulus dengan nilai tinggi melewati ritual transisi itu. Ia mungkin cukup letih dan jengkel dengan prosedur yang kian rumit itu, tapi tak mungkin mengabaikannya.
Ia mengusung change sebagai mantra kampanyenya. Tapi Barack Obama pasti tidak memasukkan prosedur transisi sebagai bagian dari perubahan yang ia janjikan.
Penulis adalah Direktur Eksekutif SPIN (Strategic Political Intelligence). [L1]
- Etika Israel di Gaza
- Cina Jadi Tujuan Baru Studi
- Sharon, Palestina, Kita
- Implikasi Politik Pasca Putusan MK
- Kabar Dunia 2008
- Selamat Datang Polisi (Baru) Dunia
- Hospital tanpa Hospitality
- Cina Punya Kapal Induk (Lagi)
- Bila Paduka yang Mulia Marah
- Sang Dekan Diplomasi Berpulang
- Apakah Cina Masih Perlu AS?
- Menjaring Capres ala Gus Solah
- Balada Marcella
- Nasi Goreng Obama
- Mungkinkah China Bantu AS