Citizen Journalism
05/09/2008 - 11:20
Badai Pasti Berlalu di BEI?

Awan mendung masih saja lengket dengan BEI, hari ini, Jumat (5/9) seperti biasa IHSG langsung dibawa turun 2%, dengan ditemani oleh indeks-indeks negara tetangga.

Namun bila melihat sampai pukul 09.59, IHSG merupakan indeks yang terjungkal paling dalam di regional, tampaknya langkah BI masih terasa dampak gempanya di lantai bursa hari ini.

Saya lantas berpikir tentang kemungkinan skenario terburuk, di layer terpampang IHSG berada di level 2024 terpangkas 50 poin dari penutupan Kamis (4/7), dengan titik terendah sempat mencapai 2017, mengingat bahwa Jumat (5/9) adalah akhir pekan maka bisa jadi pada sesi 2 nanti IHSG masih melanjutkan pelemahannya.

Hal ini disebabkan karena investor yang menggunakan dana margin akan dipaksa keluar maksimal sore nanti daripada harus kena bunga selama dua hari libur ke depan di tengah situasi yang semakin tidak pasti masih menyelimuti bursa.

Bila investor-investor ini benar-benar meninggalkan gelanggang, maka bukan tidak mungkin IHSG ditutup di bawah level 2000. Alamaak!!, selain itu support IHSG di 2035 pun sudah terlewati.

Satu-satunya harapan sekarang untuk menyelamatkan indeks adalah intervensi dari pemerintah. Ya, saya sadar ini mungkin langkah yang sangat kontroversial.

Karena akan berefek pada investor asing yang cenderung tidak menyukai segala bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar modal yang menurut mereka harusnya pasar yang independen dan hanya dipengaruhi murni oleh permintaan dan penawaran pasar yang pada akhirnya akan menemukan titik ekuilibriumnya sendiri.

Dow di Amerika juga menjadi salah satu perhatian, bila Dow masih melanjutkan penurunannya hingga 189 poin hari ini, maka Dow akan ditutup menyentuh level 10.000an, yang semakin menjauhkan Dow dari titik amannya di level 12.000an.

IHSG sudah memulai periode bullishnya mulai tahun 2003 dan berakhir di 2007, bila kita menganggap ini adalah sebuah siklus dari sejarah yang berulang, maka 2003 adalah 4 tahun setelah pemilu 1999 dan berakhir 2007 atau 2 tahun sebelum pemilu 2009.

Maka jika secara bodoh-bodohan kita hitung dari siklus ini, periode bullish baru dapat kita nikmati 4 tahun setelah pemilu 2009 atau pada 2013 dan berakhir pada 2017 atau 2 tahun sebelum pemilu 2019.

Mengapa pemilu 2004 tidak dihitung? Dan mengapa menurut saya bullish baru dimulai 2013? Menurut saya karena pemilu yang berdampak besar adalah pemilu yang terjadi di siklus 10 tahunan dimulai pada tahun 1999 sebagai tonggak awalnya.

Pada pemilu 2004 pasar hanya melanjutkan tren bullish yang sudah tercipta dan bersiap untuk memasuki periode bearish 3 tahun kemudian, maka bagi pergantian sebuah tren di bursa, pemilu 2004 tidak terlalu berarti.

Dengan segala macam bentuk kecemasan dan aroma kepanikan yang makin menyengat di lantai bursa saat ini, saya setuju dengan salah satu berita di inilah.com yang menyarankan agar investor keluar dulu dari gelanggang BEI.

Ibaratnya, di BEI saat ini investor sedang berhadapan dengan sebuah situasi yang mirip dengan sebuah pertandingan tinju, bila seorang petinju tidak dapat lagi bertahan untuk menerima pukulan dari lawan apalagi menyerang balik.

Maka melempar handuk putih bukanlah berarti kehilangan harga diri tapi sebuah tindakan rasional setelah merefleksikan kelemahan dan keterbatasan diri.

Sampai saatnya tiba kita bisa merilekskan diri dengan mendengarkan sebuah tembang lawas yang dipopulerkan oleh almarhum Chrisye yang bisa menjadi doa dan harapan kita bersama terhadap BEI: Badai Pasti Berlalu. Semoga.

Irwan Buniardi

irwan.buniardi@megaci.com

KOMENTAR BERITA