
Adanya pergeseran figur kepemimpinan dalam tubuh Muhammadiyah dari kalangan ulama ke akademisi (juga politisi) adalah hal yang tidak terlalu merisaukan saya sebagai anak muda yang lahir dari rahim keluarga Muhammadiyah.
Namun, apabila ormas yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini sekarang menjadi ‘kagetan’ dan meledak-ledak, maka itu adalah hal yang justru melemahkan bagi organisasi yang didirikan pada tahun 1912 ini.
Muhammadiyah dahulu dikenal sebagai gerakan dakwah yang puritan dan modern. Beberapa kali Majlis Tarjih Muhammadiyah mengeluarkan fatwa yang pada awalnya kontroversial, namun lambat laun ternyata diamini oleh banyak orang, termasuk yang mengkritiknya.
Pada saat itu, di sana duduk ulama besar KH AR Fahruddin yang memiliki keluasan ilmu. Disusul KHA Azhar Basyir, seorang akademisi yang sekaligus ulama yang menguasai bidang ilmu fiqih yang diakui oleh dunia Islam.
Belum lagi kepemimpinan para tokoh sebelumnya, semacam Ki Bagus Hadikusumo, KH Mas Mansyur dan lainnya Muhammadiyah juga familiar dengan jumlah amal usaha yang luar biasa. Ada PKU Muhammadiyah yang tersebar di banyak kota di Indonesia, ada panti asuhan dan banyak lainnya. Bidang pendidikan juga digarap oleh ormas yang lahir di daerah Jogja ini.
Namun lambat laun Muhammadiyah mengalami kemunduran orientasi. Diawali di penghujung kepemimpinan Amien Rais sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah (sebutan Ketua Umum pada masa itu) yang membawa gerbong Muhammadiyah ke politik praktis.
Prof. Syafii Ma’arif juga belum bisa mengembalikan Muhammadiyah sebagai ‘macan’ dakwah. Terakhir, Din Syamsudin sebagai pucuk pimpinan ternyata gaya kepemimpinannya mirip dengan Amien Rais, terlalu politis.
Benar atau tidak (semoga saya salah), saat ini orang mengenal Muhammadiyah bukan lagi sebagai organisasi yang memiliki begitu banyak amal usaha, walaupun sekarang jumlahnya tambah banyak. Bukan pula ormas yang konsen pada dunia pendidikan dan sosial. Saat ini orang mempersepsikan Muhammadiyah sebatas PAN, PMB, Amien Rais dan Din Syamsudin yang ingin menduduki kursi pimpinan negeri ini .
Untuk itu, saya sebagai pecinta Muhammadiyah mengajak, Muhammadiyah, berubahlah!. Wallahua’lam
Bapake Nazla, ibnusy@gmail.com
- Antara Indonesia dan Palestina
- Indonesia Ikuti Pameran Tatto
- Buah Naga Tumbuh Subur di Sumbawa
- Mengapa PKB Bahas Capres?
- Keadaan di Gaza Sangat Parah
- PKS Malaysia Terus Galang Dana
- Besar Peluang Terjadi Rebound
- Sepeda Jadi Gaya Hidup
- Mega Keliling Indonesia Timur
- Kemana Marcella Zalianty?
- Siapapun Boleh Gunakan Foto Din
- Tim Relawan ke Lokasi Gempa Papua
- Membludak, SMS Peduli Palestina
- Inilah Pemutih Gigi Gratis
- PKS Sebaiknya Bawa Massa ke Gaza