Senin, 22 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 US Dollar = Rp.9116
 
Citizen Journalism
 
24/06/2009 - 15:09
Bersama Utang Kita Tumbang

BERDASARKAN hasil survei bulanan Danareksa, popularitas SBY pernah berada di bawah Megawati pada Agustus 2008. Saat itu, suara Megawati mencapai 26%, sedangkan SBY sebesar 23%.

"Pada masa itu, pamor SBY turun karena harga-harga melambung," kata ekonom Danareksa, Bramanian Surendro. Jadi, pamor SBY ditentukan harga barang. Jika harga barang (BBM, sembako) naik, pamor SBY turun.

Agustus 2008 merupakan puncak-puncak imbas krisis keuangan global. Pada saat itu, harganya minyak dunia masih tinggi, bahkan sempat mencapai puncak tertinggi, yakni US$ 147 per barel.

Akibat kenaikan harga minyak dunia itu, pemerintah SBY pun menaikkan harga bahan bakar minyak domestik, persisnya pada Mei 2008. Imbas kenaikan harga BBM itu masih terasa sampai Agustus 2008.

Jadi, tidak mengherankan jika hasil survei menunjukkan suara SBY kemudian merosot tajam akibat kenaikan harga barang, termasuk BBM dan kebutuhan pokok.

Ttak heran jika SBY mau satu putaran sebab jika harga BBM naik pada 2009 ini, pada putaran kedua SBY bakal keok. Bisa saja SBY meminjam utang luar negeri untuk menutupi/mengkompensasi kekurangan uang atau anggaran demi menomboki lonjakan harga minyak dunia. Tapi itu bakal jebol juga. Jadi, SBY maju ke mundur kena. Jika harga barang naik, maka pamornya turun.

Dengan banyaknya utang oleh SBY pada 2005-2009 sekitar Rp400 triliun, pamor SBY jelas turun karena harga sembako naik terus. Gali lubang tutup lubang. Seperti perut yang kebanyakan usus. Slogannya lebih pas: Bersama Utang Kita Tumbang.

Deny Amanda

Amanda09@yahoo.com [L1]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !