
Suatu hari selepas Ashar kami berenam duduk-duduk di teras masjid kampus. Hampir seperempat jam berlalu kami membincangkan soal pemilu. Lalu salah seorang dari kami menyodorkan HP, layarnya menyala menampilkan artikel dari satu situs Eramuslim.Com.
Bergantian kami membacanya. Temanya adalah Mengapa umat memilih antara liberal dan syirik. Tulisan itu membahas problematika masyarakat dalam memilih sosok calon pemimpin nasional.
“Ibarat minuman, mereka (para capres) adalah minuman beralkohol. Walaupun kadarnya nol koma nol persen, haram hukumnya untuk diminum. Bukankah bir itu haram walaupun hanya mengandung empat persen alkohol? Tidak beda dengan whisky maupun vodka,” kata teman saya sewot.
Setahu saya ia memang golput meski ayahnya mencalonkan diri sebagai caleg. “Jadi tidak perlulah kita memilih satu dari mereka. Bukankah kita sendiri yang akan dimintai pertangungjawabannya nanti di akhirat?” ia terus berucap.
Kami pun terdiam merenungi ucapannya. Sampai akhirnya salah seorang yang kami panggil ustadz membuka suara.
“Benar bila diibaratkan minuman, mereka adalah minuman beralkohol. Lalu haram untuk memilihnya. Tapi, bagaimana dalam pilpres nanti capres yang mengandung alkohol terbanyaklah yang akan menang. Siapa yang akan dirugikan kalau bukan kita sendiri? Jadi lebih baik kita ikut menentukan nasib kita sendiri. Kalau kita tidak memilih, sama artinya dengan menyerah. Dan biarkan qalbu yang bicara, qalbu yang memilih,” kata sang ustadz.
“Dan janganlah kita takut memakai simbol agama dalam berpolitik. Karena jika kita memilih haruslah utuh, dan agama berada dalam keutuhan tersebut. Bukankah George Bush yang diprediksikan bakal kalah dari John Kerry, tetapi akhirnya menang setelah di minggu-minggu terakhir Bush mengatakan bahwa dirinya lebih rajin ke gereja dibanding Kerry. Obama pun pernah diisukan sebagai Muslim.”
Kami pun tertawa mendengar penuturannya yang singkat namun menyentuh itu.
Cahya Ramadhan
ramadhancahya@ymail.com
- Batasan Kinerja Dosen Akan Tenggelamkan Dunia Pendidikan Kita
- Suburnya Budaya Hiruk Pikuk dan Bergerombol Demi Status Quo
- Teror Oh Teror
- Mengapa Harus Menolak Obama?
- Siapa Sebenarnya Teroris di Aceh
- Royal Rumble: Century Vs HMI Vs Densus 88 & Dulmatin
- Adil, Kenaikan Tarif Listrik untuk Pelanggan Kelas Atas
- Aksi Densus 88 Kalahkan Pamor Aksi Mahasiswa
- Cinta Vs China
- Waspadai, Kembalinya Kegiatan Teroris di Indonesia
- Aksi Mahasiswa (rusuh) Musuh Masyarakat
- HMI Makassar Hendaknya Mawas Diri
- Demo Anarkhis Kok Dibiarkan
- Pengamat Berpihak Pada Penguasa
- Sikap Anggota Dewan Miskin Etika
Kurs BI :












