Selasa, 9 Februari 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12841.4
 
Ekonomi
 
24/12/2007 - 16:27
Industri Rokok Tetap 'Seksi'
Ahluwalia
Industri rokok di Indonesia menjadi penyumbang terbesar bagi penerimaan negara. Pada 2006, cukai dan pajak dari industri rokok yang masuk ke kas negara mencapai Rp 52 triliun.

INNChannels, Jakarta - Penerimaan negara dari cukai dan pajak rokok yang merupakan 'single commodity' pada 2006 mencapai Rp 52 triliun. Untuk 2007, meski pemerintah belum mengumumkan dan adanya pembatasan ruang bagi perokok, angka penerimaan itu diperkirakan tetap 'seksi'.

Berdasarkan besarnya penerimaan cukai dan pajak rokok itu pula, Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan dukungannya terhadap perkembangan industri rokok di Tanah Air. Apalagi, faktanya, penerimaan itu jauh di atas penerimaan negara dari hasil pertambangan Freeport yang dalam setahun tidak pernah melebihi Rp 3 triliun.

Catatan Media Institute menunjukkan, produksi rokok nasional pada triwulan I 2007 mencapai 56,1 miliar batang atau turun 9,4 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 65,5 miliar batang. Total produksi rokok itu dihitung berdasarkan jumlah pembelian pita cukai di Ditjen Bea dan Cukai.

Dalam kaitan itu, pemerintah pun menyiapkan 'road map' hasil tembakau hingga 2020. Kebijakan yang telah disetujui Departemen Perindustrian dan Departemen Keuangan itu terbagi atas tiga tahap.

Untuk jangka pendek, pada 2007-2010, pengembangan industri hasil tembakau bertumpu pada pengembangan kesempatan kerja, penerimaan negara, dan pemeliharaan kesehatan. Untuk jangka menengah, pada 2010-2015, prioritas industri tersebut adalah penerimaan negara, aspek kesehatan, dan penerimaan tenaga kerja. Untuk jangka panjang, pada 2015-2020, memprioritaskan kesehatan, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan negara.

Indonesia adalah negara penghasil kretek terbesar dengan produksi mencapai 80% dari total rokok yang ada. Sementara porsi rokok putih menurun. Angka produksinya dalam kisaran 10%.

Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moefti, kepada INNChannels belum lama ini mengatakan, rendahnya pembelian pita cukai pada triwulan I 2007 disebabkan di periode itu pemerintah menaikkan Harga Jual Eceran (HJE) 7%. Sebelumnya, para produsen rokok membanderol produknya dengan harga lama sebagai antisipasi kenaikan HJE 7%.

Moefti mencatat, Januari-Februari 2007 total produksi rokok mencapai 50 miliar batang. Maret, produksi hanya 6,1 miliar batang karena banderol yang lama telah diganti dengan yang baru. Sebaliknya, pada 2006, kenaikan HJE terjadi April. Ini menjelaskan mengapa di triwulan I 2006 produksi rokok mencapai 65,5 miliar batang.

Menurut Moefti, produksi kembali normal memasuki April 2007. Pabrikan menutupi kekurangan produksi di bulan sebelumnya. Kasusnya sama dengan tahun lalu, di mana April produksi berkurang dan memasuki Mei kembali stabil.

Jika mengesampingkan pembelian pita cukai, produksi rokok di triwulan I 2007 mencapai 54 miliar batang dengan asumsi rata-rata produksi rokok setiap bulan 18 miliar batang. Dengan hitungan seperti ini, produksi rokok di semester I 2007 mencapai 108 miliar batang.

"Semester I 2006 total produksi 105 miliar batang. Memasuki semester II, pasar biasanya sudah lebih stabil. Total produksi pada 2006 mencapai 220 miliar batang dengan rata-rata produksi per bulan 19 miliar batang," kata Moefti.

Pulau Jawa masih menjadi pasar terbesar untuk produsen rokok . Tercatat 69,2% produksi rokok nasional diserap konsumen di Jawa. Kondisi itu relatif tidak berubah selama bertahun-tahun karena penduduk di negeri ini terkonsentrasi di Jawa. Pada 2005, produksi rokok nasional mencapai 202,3 miliar batang.

Veronica Risariyana, Manajer Produk PT HM Sampoerna Tbk, mengatakan, Kalimantan menjadi daerah yang paling sedikit menyerap produksi rokok nasional, yakni hanya 1,2%. Persentase peredaran rokok yang lumayan besar, antara lain di Sumatera (16,1%) serta Sulawesi dan Indonesia bagian timur (13,55%).

Dari sisi jenis rokok, konsumen lebih menyukai rokok keretek yang diproduksi dengan mesin, yakni sigaret keretek mesin full flavour (SKM FF), yang menguasai 37,6% pasar. Sigaret keretek tangan (SKT) yang dilinting tanpa mesin menguasai 37,5% konsumen, diikuti SKM low tar low nicotin (mild) 17,2%, dan rokok putih 7,7%. [I3]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !