
INILAH.COM, Jakarta – Di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan harga BBM dan tren kenaikan suku bunga, sikap optimistis ditunjukkan pelaku usaha otomotif. Salah satunya, Presdir Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan.
Optimisme pemilik nama lengkap Johnny Darmawan Danusasmita itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, penjualan kendaraan Juni sudah mencapai 50 ribu unit, sehingga total penjualan pada semester pertama 2008 diperkirakan mencapai 280 ribu unit.
Dengan sisa enam bulan hingga akhir tahun, Johnny meyakini pasar mampu menyerap 220 ribu unit kendaraan. “Sebenarnya bukan tepat 6 bulan, tapi 5,5 bulan dipotong beberapa libur besar seperti Lebaran dan Natal. Jadi dalam waktu 5,5 bulan tersebut, berarti 40 ribu kendaraan terjual per bulannya. Itu tidak terlalu sulit dicapai,” paparnya.
Keyakinan dan sifat tenang itulah yang selalu tampak dari pria berkumis ini. Termasuk dalam optimisme meraih penjualan kendaraan. Jauh sekali dari gambaran masa mudanya, dimana Johnny dikenal sebagai jago tawuran dan kebut-kebutan di jalan raya.
Johnny yang kini menjabat Wakil Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) itu tambah optimistis dengan penjualan kendaran bermotor, terutama roda empat seiring bakal berlangsungnya even International Indonesia Motor Show (IIMS) pada 11-20 Juli mendatang di Jakarta Convention Center.
Total transaksi selama pameran ditargetkan mencapai Rp 1,6 triliun dibanding Rp 1,5 triliun tahun lalu dengan jumlah pengunjung mencapai 220 ribu orang atau bertambah 41,9%.
“Dengan IIMS, penjualan mobil di paruh kedua 2008 bahkan bisa mencapai 240 ribu unit sehingga total di tahun fiskal ini dapat mencapai 520 ribu unit atau bertumbuh 15%,” imbuh Johnny yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Penyelenggara IIMS 2008.
Alasan lain mengapa ia merasa optimis adalah terkait dengan pola pikir konsumen yang menjadi perhatian utamanya. Menurut pria yang lolos fit and proper test Komisaris PT Bursa Efek Indonesia (BEI) itu, masyarakat sebagai calon konsumen bisnis otomotif harus diberikan suatu harapan yang baik.
“Jika pihak produsen otomotif selalu melontarkan pernyataan yang bernada pesimis, maka masyarakat juga akan berpikir seribu kali membeli produknya,” papar lelaki kelahiran Agustus 1952 ini.
Sederet masalah yang pernah dialami orang nomor satu di PT Toyota Astra Motor (TAM) sejak tahun 2002 itu, telah menempanya menjadi seorang pemimpin yang selalu memiliki rasa optimisme.
Mungkin pola pikir yang optimistis itulah yang kemudian membawa lulusan Fakultas Ekonomi Trisakti tahun 1975 meniti jenjang karir gemilang. Karya profesionalnya dimulai sebagai auditor di di PricewaterhouseCoopers (PwC) Jakarta saat masih duduk di tingkat III Jurusan Akuntansi.
Ia pun kemudian beralih bidang pekerjaan dari auditor memasuki karir baru sebagai manajer yunior di PT Multi Astra pada 1982. Ia pun memilih Astra. Alasannya, "Astra memiliki masa depan yang bagus dan perencanaan karier yang jelas."
Pendapat ini tidak salah. Baru setahun bekerja di PT Multi Astra, lelaki kelahiran Jakarta ini telah dipercaya menduduki posisi accounting manager. Empat tahun kemudian, ia dipromosikan menangani urusan keuangan dengan menjabat sebagai Finance Division Manager kemudian ia terpilih menjadi Finance & SCO Division Manager.
Kesuksesan terus menghampirinya ketika pada 1996 ia dipercaya menjabat sebagai direktur yang menangani tiga bidang pekerjaan sekaligus, yaitu finance , ISTD, SDM & GA. Untuk bidang pekerjaan yang baru tersebut, Johnny punya kiat tersendiri, yaitu mencoba memahami kunci pokok setiap pekerjaan yang dilakoninya.
Perjalanan karier ayah tiga orang anak ini ke posisi puncak makin mulus ketika dirinya terpilih sebagai Chief Executive Toyota Sales Operation di PT Astra International Tbk dan pada 2002, dipercaya menjadi orang nomor satu di TAM.
Johnny menyadari, bahwa setinggi apa pun kedudukan seseorang, dia tak akan bisa berhasil bila tidak didukung bawahannya. Dia pun yakin setiap orang memiliki fungsi dan potensi berbeda-beda. Di sinilah diperlukan kejelian untuk melihat kemampuan yang dimiliki anak buahnya. “Ada empat fungsi yang bisa dijalankan setiap pemimpin dalam suatu perusahaan, yaitu sebagai koordinator, konseptor, eksekutor, dan kontroler. Jika kita bisa menempatkan tiap-tiap orang sesuai fungsinya masing-masing, saya yakin dapat menghasilkan tim yang solid," tutur Johnny pada sebuah kesempatan.
Ia juga menyadari jabatan yang kini diembannya sifatnya hanya sementara. Oleh karena itu, dia telah mempersiapkan kader-kader terbaik pengganti dirinya. "Ada saatnya saya harus pensiun. Namun, ketika masa itu tiba, saya tetap ingin menyibukkan diri dengan membuka usaha," ungkap Johnny.
Bidangnya? Tidak jauh-jauh dari yang ditekuninya selama ini yakni otomotif. Berbekal profesionalitas dan optimisme tentunya. [E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Uji Kreativitas Sang Bankir
- Ekspansi Tiada Henti
- Ekspansi Sang Gurita Melambat
- Jaga Eksistensi ‘The Big Company’
- Berbagi Bahagia Ala Insan Bursa Saham
- Terhimpit Beragam Kepentingan
- Tenang Atasi Kepanikan Pasar
- IPO Tertunda Tetap Optimistis
- Genjot di Hulu dan Hilir
- Sukses Berkat Kejujuran
- Fahmi: Bulog Tangani Tata Niaga Gula
- Harga Murah untuk Masyarakat
- 'Kutu Loncat' Industri Musik Dunia
- Menjawab Kebutuhan Pasar
- Payung Profesionalisme untuk Hipmi