Ekonomi
04/07/2008 - 06:59
Saham Batubara? Siapa Takut!
Asteria & Natascha, Kontributor INILAH.COM

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Meski berada dalam tren melemah, indeks saham diperkirakan mampu bertahan terhadap sentimen negatif. Investor pun mempunyai peluang mengkoleksi saham-saham batubara terkait harganya yang sudah jatuh.

Analis Kresna Securities, Jordan Zulkarnaen memperkirakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Jumat ( 3/7) mempunyai kecederungan bergerak dalam tren melemah. Adapun titik support untuk IHSG adalah di level 2.200. “Kalau level ini tembus, maka indeks saham akan meluncur turun,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Jordan menilai, investor kecewa dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 8,75%. Hal ini karena pelaku pasar melihat, inflasi disebabkan bukan hanya karena kenaikan harga-harga, tapi juga adanya peningkatan demand fuel. “Hal ini terlihat dari naiknya penjualan sektor otomotif, semen dan ritel,” ujarnya.

Menurut Jordan, investor ke depan masih akan melihat aksi BI dalam meredam inflasi dan mengatasi kenaikan permintaan konsumsi. “Pasar masih akan mencermati BI dalam tindakannya mengawal pergerakan rupiah,” katanya.

Melesatnya harga minyak mentah di pasar internasional sehingga menyentuh US$ 145 per barel, telah menyebabkan rontoknya bursa global dan regional kemarin. Hal ini, lanjutnya, akan memicu investor untuk beralih ke saham sektor komoditas. “Ini berarti, pelaku pasar akan masuk lagi dan memburu emiten berbasis komoditas,” tandasnya.

Sementara itu, kontrak batubara di pasar komoditas Newcastle, Australia menurun. Hal ini dipicu terganggunya suplai batubara di China dan Australia. Beberapa analis pun memprediksi harga batubara akan mencapai US$ 200 per ton jika harga minyak menembus level US$ 150-160 per barel.

Turunnya harga batubara internasional, telah memicu anjloknya emiten batubara pada perdagangan kemarin. Kendati koreksi yang terjadi cukup dalam, Jordan menilai pelemahan ini positif.

Pasalnya, peluang investor untuk membeli saham unggulan berbasis batubara seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi terbuka lebar. “Koreksi ini cukup dalam, tapi masih sehat karena ada peluang beli yang cukup lebar di sektor batubara,” ujarnya.

Selama ini, lanjutnya, emiten batubara telah mengalami kenaikan harga yang terlalu tinggi sehingga peluang pelaku pasar untuk membeli saham sektor ini sangat kecil. Ia pun memberi contoh saham BUMI yang pernah berada di kisaran Rp 6.000 per unitnya. Namun setelah rally selama dua bulan, saham BUMI mencapai Rp 9.000 per lembar. “Meski saham ini berfundamental bagus, harganya terlalu mahal,” ulasnya.

Dengan posisi BUMI saat ini yang sudah kembali ke level Rp 7.000, berarti sudah mendekati level terendahnya. Investor pun mempunyai kesempatan untuk mengkoleksi pada harga wajar.

Sedangkan saham lain yang secara teknikal masih berpotensi naik adalah saham perbankan, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Namun, lanjut Jordan, investor masih belum tertarik mengkoleksi saham sektor ini karena sudah mengalami koreksi cukup dalam beberapa hari terakhir.

Adapun, terhambatnya penguatan perbankan pada perdagangan kemarin, menurut Jordan lebih disebabkan pelemahan yang terjadi pada bursa global. “Investor hari ini masih akan memilih saham sektor tambang daripada saham perbankan,” paparnya.

Pada penutupan perdagangan saham Kamis (3/7/2008), IHSG terpuruk hingga 91,863 poin (3,86%) ke posisi 2.286,611. Indeks LQ-45 turun 21,375 poin (4,25%) menjadi 481,687 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 26,264 poin (6,03%) menjadi 409,564.

Perdagangan IHSG mencatat transaksi sebanyak 82.176 kali, dengan volume 2,422 miliar unit saham, senilai Rp 7,348 triliun. Hanya 26 saham naik, sisanya 207 saham turun dan 35 saham stagnan.

Saham-saham yang ditutup turun antara lain, ITMG turun Rp 3.100 ke posisi Rp 30.000, PTBA turun Rp 1.300 menjadi Rp 15.000, BUMI turun Rp1.100 menjadi Rp 7.100, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun Rp 450 menjadi Rp 12.750, PT Telkom Tbk (TLKM) turun Rp 300 menjadi Rp 7.350 dan PT Indosat Tbk (ISAT) turun Rp 300 menjadi Rp 6.300,.

Saham-saham yang ditutup menguat antara lain PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) naik Rp 175 ke posisi Rp 2.175, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) naik Rp 50 ke posisi Rp 2.400, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik Rp 50 menjadi Rp 2.625..

Bursa regional kemarin ditutup merosot tajam. Indeks Kospi di bursa Korea melemah 1,05% menjadi 1.606,54. Indeks Nikkei di bursa Jepang turun 20,97 poin menjadi 13.265,40 dan Indeks Topix berakhir melemah 0,2% menjadi 1.298,02. Indeks STI di Singapura turun 1,44%, sedangkan Indeks Hang Seng Hong Kong turun 461,67 poin (2,1%) menjadi 21.242,78. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA