Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
04/07/2008 07:29
Dolar Tertekan, Rupiah Untung
Asteria & Natascha, Kontributor INILAH.COM
 

(istimewa)
 

INILAH.COM, Jakarta – Kurs rupiah pada Jumat (4/7) berpotensi melanjutkan penguatan meski pada kisaran terbatas 9.200-9.230 per dolar AS. Sepinya sentimen positif membuat rupiah memanfaatkan tekanan yang terjadi pada mata uang AS.

Analis Valas, Rahmat Wibisono mengatakan, rupiah hari ini akan menguat terbatas atas pelemahan dolar AS terhadap mata uang kuat euro. Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4.25% pada kamis waktu Eropa.

“Ekspektasi ini menjadi sentimen positif atas euro,” ujarnya kepada INILAH.COM, di Jakarta. ECB menaikkan suku bunganya untuk mengatasi lonjakan inflasi akibat membubungnya harga minyak.

Inflasi Eropa Juni melesat naik menjadi 4% year on year di atas target inflasi ECB yang hanya sebesar 2%. Dolar pun diprediksi terus terpuruk atas euro ketika para trader melakukan aksi buy terhadap mata uang gabungan negara Uni Eropa tersebut.

Harga minyak dunia yang sempat menyentuh level tertingginya di US$ 145 per barel juga menghimpit pergerakan dolar. Lonjakan harga minyak disebabkan beberapa hal, seperti spekulasi harga minyak yang tinggi, tekanan dolar terhadap mata uang kuat euro, dan turunnya cadangan minyak AS.

Selain itu juga kesiapan Iran untuk memberikan perlawanan yang sengit terhadap setiap serangan. Hal ini terkait rencana serangan militer AS. Masalah geopolitik ini dikhawatirkan mengganggu produksi dan distribusi minyak.

Minyak jenis light di pasar New York Mercantile Exchange untuk kontrak bulan Agustus naik 81 sen ke level US$ 144,38 per barel. Sementara minyak jenis brent di Asia diperdagangkan naik 74 sen ke level US$ 145 per barel.

Rahmat menyebutkan, keputusan BI menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 8,75% tidak terlalu banyak berpengaruh pada pergerakan rupiah hari ini.

Hal ini karena kebijakan BI tersebut sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, kenaikan BI rate ini juga memperlebar selisih dengan bunga The Fed yang sekarang di level 2%. Sehingga diharapkan investor asing masih tertarik kepada portofolio rupiah.

“Rupiah mendapat dukungan dengan masuknya sejumlah investor asing yang berminat meningkatkan dananya dalam negeri karena tingginya selisih bunga rupiah terhadap dolar AS,” ulasnya.

BI pun diharapkan mengawal ketat rupiah dengan menyerap likuiditas yang berlebih di pasar. Karena BI sudah memutuskan untuk tidak menggunakan instrumen suku bunga, pelaku pasar berharap bank sentral tetap konsisten menjaga kestabilan rupiah. Apalagi dengan cadangan devisa yang cukup besar yaitu US$ 59,45 miliar.

Nilai tukar rupiah di pasar valas kemarin menguat ke 9.205 per dolar AS. Sedangkan terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura melemah di 6.774,05, naik atas dolar Hong Kong di 1.180,96, menguat terhadap dolar Australia di 8.849,89 dan jatuh terhadap euro pada level 14.622,72.

Sementara dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lainnya cenderung bervariasi, seperti menguat terhadap mata uang Jepang pada 106,45 yen dan naik atas mata uang gabungan eropa di 1,5877 euro.

Sedangkan dolar merosot terhadap mata uang Hong Kong di HK$ 7,7987, menguat atas mata uang Singapura di S$ 1,3596 dan naik atas mata uang Korea Selatan di 1.036,60 won. [E1/I4]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com