Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Energi
  BERITA
  INDEKS BERITA
04/07/2008 07:59
Minyak Naik, SBY Panik
Yusuf Karim, Kontributor INILAH.COM
 
Susilo Bambang Yudoyono
(inilah.com/Abdul Rauf)
 

INILAH.COM, Jakarta - Harga minyak yang melangit hingga US$ 145 per barel membuat berbagai pihak mencemaskan kondisi anggaran negara. Bahkan, Presiden SBY panik dan mengaku kurang tidur memikirkan urusan harga minyak ini.

Kenaikan harga minyak sendiri diperkirakan tidak terbendung. Pernyataan Presiden SBY bahwa anggaran negara masih mampu menahan harga minyak di level US$ 150 per barel juga diperkirakan tidak akan lama lagi terlampaui.

Pengamat perminyakan Kurtubi menilai, dengan posisi fundamental permintaan dan penawaran harga minyak yang masih terjadi kesenjangan, kenaikan harga minyak tidak akan terbendung.

“Produksi minyak diberbagai tempat menurun, Nigeria, Laut Utara, Indonesia semua menurun. Akitbanya harga minyak tidak terbendung,” ujarnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (3/7).

Saat ini selisih antara produksi dan kebutuhan minyak dunia mencapai 3-4 juta barel per hari. Produksinya berada di level 83-84 juta barel per hari, sedangkan kebutuhannya mencapai 87 juta barel per hari.

Kondisi ini diperparah oleh banyaknya duit yang berputar di kontrak komoditi minyak. Spekulan-spekulan minyak memperparah kesenjangan antara permintaan dan kebutuhan minyak tersebut.

Bahkan untuk 2009, Kurtubi memperkirakan harga minyak bisa menembus US$ 200 per barel. “Jadi tidak lagi bicara US$ 150 per barel, tapi sudah di angka US$ 200-an,” lanjutnya. Oleh karena itu, Kurtubi menilai bahwa pemerintah Indonesia harus siap untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak tersebut.

Sementara soal rencana pemerintah AS untuk menekan spekulan harga minyak, menurut Kurtubi, juga susah dilakukan mengingat motif orang menjual sangat sulit untuk diantisipasi.

“Bagaimana mau melarang orang yang berjualan. Sekarang ini kan beli pagi kemudian sorenya dijual,” paparnya. Melemahnya nilai tukar dolar AS terhadap euro juga berdampak pada terus merangkaknya harga minyak dunia.

Langkah pemerintah AS untuk menekan spekulan ini direspons positif oleh Anggota Komisi Anggaran DPR Ramson Siagian. Proses pengajuan UU yang sudah diamini di tingkat legislatif ini diharapkan bisa menstabilkan harga minyak di level yang lebih rendah.

Ramson menilai sebenarnya anggaran Indonesia masih tahan harga minyak dilevel US$ 170 per barel. “Dengan kenaikan harga BBM yang 28,7% pada Mei lalu, anggaran kita itu aman,” jelasnya.

Namun Ramson justru menyoroti sikap kepanikan yang ditunjukkan oleh Presiden SBY yang dinilai akan mendramatisasi kondisi yang ada. “Pemerintah idealnya tetap tenang dan keluar dengan solusi-solusi yang komprehensif. Bukan malah menunjukkan kepanikan yang tidak perlu,” kritiknya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) itu mencontohkan mengenai realisasi pos-pos belanja tidak memiliki skala prioritas yang jelas. Dengan adanya skala prioritas yang jelas maka proses efisiensi bisa dilakukan dengan mudah.

Kritikan mengenai perlunya pemerintah tidak mengumbar kepanikan patut diklasifikasikan sebagai kritik konstruktif yang harus direspons secara positif. Langkah-langkah antisipatif tetap harus disiapkan karena tampaknya tidak ada tanda-tanda harga minyak akan berada di level yang lebih rendah. [E1/I4]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com