

(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Setelah sempat terjerembab cukup dalam, saham emiten berbasis minyak dan gas bumi PT Energi Mega Persada (ENRG) berpeluang rebound dalam jangka pendek. Saham ENRG sebelumnya mendapat tekanan karena terimbas kabar right issue.
Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (4/7) saham ENRG ditransaksikan di kisaran Rp 880 per lembar. Level harga tersebut terbilang sudah sangat mudah dibanding Rp 990 per lembar pada 1 Juni atau jauh merosot dibanding awal Juni di angka Rp 1.110 per unit.
Riset Paramitra Sekuritas hari ini mengungkapkan, Energi Mega mencari pinjaman untuk membayar utangnya yang jatuh tempo. Utang perseroan senilai US$ 152,75 juta kepada Credit Suisse akan jatuh tempo pada 15 Agustus 2008 ini.
"Selain itu pada 2 Juli lalu utang ENRG sebesar US$ 120 juta kepada Merrill Lynch juga telah jatuh tempo," ungkap riset Paramitra.
Oleh karena itu ke depan perseroan sedang sibuk mencari pinjaman perbankan untuk melakukan refinancing utang tersebut. Kemudian timbul isu yang mengiringi utang ENRG yang jatuh tempo tersebut sehingga ikut mendorong harga sahamnya turun.
Hal ini menyusul kabar yang berhembus di pasar bahwa ENRG akan melakukan right issue sebagai langkah refinancing utang tersebut. Apalagi saat ini pembiayaan lewat pinjaman dan obligasi sedang berbunga tinggi.
Manajemen ENRG menolak isu yang menyatakan perseroan harus melakukan right issue untuk melunasi utang jatuh tempo tersebut, karena posisi Debt to Equity R Ratio (DER) perusahaan mencapai 90%, cukup rendah dibanding tahun lalu yang mencapai 250%.
Di sisi lain harga minyak mentah dunia terus melonjak dan saat ini sudah menyentuh level US$ 145,4 per barel. Sebuah rekor baru yang diyakini bakal disusul oleh rekor-rekor selanjutnya di hari-hari mendatang.
Kembali merangkaknya harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir ini jelas memberikan angin segar bagi saham berbasis minyak dan gas seperti ENRG. Selain itu, posisi saham ENRG saat ini termasuk dalam kategori 'jenuh jual', sehingga berpotensi mengalami peningkatan harga.
Paramitra merekomendasikan buy on weakness untuk saham ENRG. Saat ini saham ENRG berada pada level harga Rp 880. Secara teknis indikator Relative Strengh Index (RSI) menunjukkan nilai sebesar 19,40 atau sudah di bawah level 30 yang artinya sudah 'jenuh jual'.
Dalam risetnya, Samuel Securities juga mengungkapkan, saat ini saham ENRG ditransaksikan pada price earning ratio (P/E) 2008 sebesar 27,8 kali dengan nilai sum of part sebesar Rp 1.205 per saham.
Dalam jangka panjang saham ENRG layak dikoleksi oleh investor, mengingat masih tingginya harga minyak dan juga rencana perseroan yang akan menggenjot produksi minyak untuk meningkatkan kinerja ke depan.
Tahun ini ENRG menargetkan total produksi naik 30%-35% dari 2007 dengan produksi mencapai 32 ribu barel oil equivalent (BOE) per hari. ENRG mengalokasikan belanja modal/capex pada 2008 sebesar US$ 250 juta.
Manajemen ENRG juga menyatakan akan mengakuisisi 5-6 lapangan migas di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Asia dengan total cadangan terukur sebanyak 200 juta BOE bagi seluruh lapangan. Perseroan juga berencana menerbitkan corporate guarantee sebagai sumber dana untuk mengembangkan sejumlah blok migas. [E1/P1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Tugu Pratama Siap Jual Saham
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT
- Bukti Efek Sarijaya Diserahkan Pekan Depan