

(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Persaingan sengit dua emiten raksasa tambang ANTM dan BUMI memperebutkan Herald Resources masih berlangsung. Masing-masing adu strategi akuisisi sambil menggenjot aksi korporasi guna memoles performanya.
Kabar terakhir Herald Resources merekomendasi pemegang sahamnya untuk menerima tawaran Calipso Investment Pte Ltd, anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Dewan Direksi Herald telah menarik rekomendasinya untuk Tango Mining Pte Ltd (Tango), anak usaha PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Rekomendasi untuk BUMI keluar setelah Calipso kembali menaikkan harga penawaran Herald menjadi AUS$ 2,85 dari AUS$ 2,8 per saham sehingga total penawaran akuisisi mencapai AUS$ 563 juta setara Rp 4,97 triliun
BUMI juga siap membayar cash dalam 12 hari untuk pemegang saham jika menerima tawarannya. Masa penawaran BUMI berakhir pada 18 Juli 2008. Penawaran Calipso atas Herald habis pada 3 Juli sehingga BUMI kembali menaikkan harga akuisisi.
Terhadap rekomendasi dari Dewan Direksi Herald, Deputy Head of Research Trimegah Arhya Satyagraha menyarankan investor untuk mencermati dulu pergerakan saham BUMI.
Apalagi dini hari tadi harga batubara masih melemah di level US$ 129 per metrik ton. “Hal ini dikhawatirkkan akan membuat sentimen negatif bagi saham BUMI pada perdagangan hari ini,” ujarnya, hari ini.
Sedangkan Samuel Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk BUMI dengan target harga Rp 10.600 per saham yang menawarkan upside potential sebesar 27,7% dari harga saat ini.
“Saat ini BUMI ditransaksikan pada price earning ratio (P/E) 2008-2009 sebesar 17 kali dan 9,8 kali. Kami rekomendasikan buy on weakness BUMI untuk jangka pendek, dan beli untuk jangka panjang,” lanjutnya
Sedangkan menurut Ciptadana Securities, saham BUMI secara teknikal berpeluang menguat kembali karena dalam jangka pendek membentuk pola tripple bottom di level Rp 7.100 sehingga berpeluang menguat.
Apalagi indikator relative strenght index (RSI) menunjukkan saham BUMI sudah relatif jenuh jual berada di level 36,11. Support saham BUMI di Rp 7.100, support kedua di Rp 6.300 dan resistance level di Rp 8.200.
“BUMI berada dalam trading buy jika turun ke level Rp 8.000. Rekomendasi Ciptadana adalah beli untuk investor yang berniat investasi jangka panjang,” jelasnya.
Sementara pengamat pasar modal David Cornelis merekomendasikan buy on weakness untuk BUMI di level Rp 6.900-7.150 melihat prospek bisnis yang masih cerah.
Lalu bagaimana dengan pesaingnya, ANTM. Emiten pelat merah yang lagi getol berekspansi ini dipastikan tengah mempersiapkan aksi tandingan untuk menggaet Herald menyusul peningkatan tawaran BUMI.
Namun ANTM juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan perusahaan tambang asal Australia, Oxiana Limited. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari rencana ekspansi ANTM disamping mengejar target akuisisi Herald.
ANTM akan membeli 10% saham di proyek Martabe senilai US$ 66,5 juta dan memiliki opsi untuk menambah 10% saham senilai US$ 66,5 juta, tergantung pada penyesuaian harga pasar emas dan perak, biaya modal dan operasi tambang.
ANTM juga mempunyai opsi untuk menambah 5%, dengan harga nilai pasar proyek pada waktu tersebut. Opsi tambahan ini bergantung pada persetujuan Oxiana untuk ekspansi proyek Martabe menjadi paling sedikit 300.000 onz (9 ton) produksi emas per tahun.
Proyek Martabe yang berlokasi di Sumatra Utara, memiliki deposit emas dan perak dengan nilai investasi US$ 310 juta. Adapun rencana produksi per tahun mencapai 200.000 onz (6 ton) emas dan 2 juta onz (62 ton) perak.
Tujuan kerja sama ini adalah untuk mempertahankan emas sebagai komoditas utama perseroan, serta mengantisipasi berkurangnya cadangan milik Antam di Pongkor. Apalagi harga emas terus meningkat seiring naiknya harga minyak.
Hal ini diyakini dapat meningkatkan kinerja perseroan ke depan. Paramitra Sekuritas pun menyarankan investor untuk mengkoleksi saham ANTM bila harganya tengah turun terkoreksi.
Hal senada diungkapkan pengamat pasar modal David Cornelis. Menurutnya, pertumbuhan bisnis ke depan ANTM masih bisa berkembang. “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk ANTM di level Rp 2.900-3.100,” timpalnya.
Sementara Trimegah, seperti terungkap dalam risetnya menyambut positif proyek Martabe yang akan segera berproduksi. Menurutnya, ANTM berpotensi menerima penghasilan tambahan berupa dividen dalam 2-3 tahun mendatang.
Dengan total investasi sebesar US$ 310 juta untuk pengembangan proyek, apabila partisipasi awal ANTM 10% saham, maka total investasi di proyek ini mencapai US$ 97,5 juta atau Rp 897,5 miliar.
Sementara per kuartal I 2008, ANTM memiliki posisi kas sebesar Rp 4,6 triliun, ekuitas sebesar Rp 9,4 triliun dan gearing ratio sebesar 0,1 kali. “Kami sarankan investor mencermati saham ANTM,” tandas Tim Riset Trimegah. [E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Potensi ‘Upside’ di Saham Bank-CPO
- Tugu Pratama Siap Jual Saham
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT