
INILAH.COM, Jakarta - Sebagai perusahaan perkebunan dan industri kelapa sawit kelas dunia, PT Asian Agri terus berekspansi. Tidak hanya dengan memperluas lahan, juga meningkatkan kemampuan SDM dan petani sawit sesuai standar internasional.
Hingga Juni 2008, Asian Agri sudah mengucurkan dana program kemitraan bagi petani sawit sekitar Rp 1,5 miliar dari total pengucuran dana tahun lalu yang mencapai lebih dari Rp 2,2 miliar.
Dana itu akan dikucurkan kepada program pembelajaran dan bantuan dana pengembangan ternak sapi, pembuatan pupuk kompos bahkan biogas kotoran hewan kepada petani binaan di Sumatera. Hal itu dilakukan melihat krisis pupuk kimia dan energi di dalam negeri, bahkan secara global mengalami kerusakan ozon.
"Manajemen bukan saja berupaya meningkatkan dana kemitraan, tapi juga kualitas bantuan baik kepada lingkungan dan petani binaan khususnya di Sumut, Jambi, dan Riau dimana kebun dan industri perusahaan beroperasi," kata Direktur Asian Agri, P. Gurusinga, di Medan, baru-baru ini.
Pengembangan usaha ini untuk mengarahkan petani sawit yang sudah kaya dengan hasil TBS (tandan buah segar), untuk mendapat penghasilan lain. Selain itu juga mengantisipasi kemungkinan ketika harga jual TBS anjlok atau kurang menguntungkan.
Dengan peternakan sapi, selain mendapatkan keuntungan dari nilai jual dagingnya, petani bisa memanfaatkan kotoran hewan untuk dijadikan pupuk kompos dan biogas sehingga kesulitan pupuk kimia dan energi bisa diatasi langsung oleh petani.
Sebelumnya Asian Agri juga telah mengadakan kerjasama dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) untuk melatih petani sawit mengelola kebun sesuai standar internasional. Tujuannya agar produksi sawit petani memperoleh sertifikasi minyak sawit lestari atau sertifikasi internasional SPO (Sustainable Palm Oil).
Sertifikasi ini diharapkan dapat membuat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang diproduksi mitra petani Asian Agri lebih kompetitif dan membuka pasar ekspor CPO ke Amerika Serikat, Australia dan Jepang.
"Kami serius berusaha memperoleh sertifikasi. Bahkan, Asian Agri berkomitmen melibatkan petani binaan. Namun itu bukan perkara mudah karena petani umumnya memiliki pola pikir konservatif," tambahnya. Asian Agri Group, melalui anak usaha PT Inti Indosawit Subur (IIS) juga menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sejak Februari 2006.
Asian Agri adalah induk usaha terbesar kedua di Grup Raja Garuda Mas (RGM), perusahaan milik Sukanto Tanoto, orang terkaya di Indonesia pada 2006 versi majalah Forbes. Saat ini wilayah operasional Asian Agri berada di tiga provinsi di pulau Sumatra, dengan areal konsesi seluas 100.000 hektar dan areal plasma seluas 60.000 hektar.
Awalnya, pada 1979, kebun sawit ini hanya 10.414 hektar dengan dua pabrik kelapa sawit (PKS). Namun, mulai berkembang dengan mengakuisisi perusahan perkebunan PT Saudara Sejati Luhur (SSL) seluas 2.319 hektar pada 1986. Mereka kemudian menjajaki sejumlah perusahaan perkebunan lainnya di Sumut.
Seluruh perusahaan ini masuk dalam Group Asian Agri Plantation I (Sumut) dengan total area perkebunan 44.021 hektar atau menguasai hampir 20% dari luas perkebunan swasta nasional yang ada di Sumut pada 2001, yakni 242.685 hektar.
AAG kemudian melebarkan sayapnya ke Riau dan Jambi, sehingga mempunyai kebun inti dan plasma dengan total luas masing-masing 65.000 hektar dan 43.000 hektar.
Saat ini Asian Agri memiliki 28 kebun kelapa sawit dan mengoperasikan 19 pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara, Riau dan Jambi. Pabrik-pabrik itu mempunyai kapasitas untuk memproduksi 1 juta metrik ton CPO.
Tak heran, Asian Agri termasuk sebagai salah satu produsen CPO utama terbesar di Asia bersama usaha kebun sawit lainnya dari Sinar Mas Group, Astra Group, Napan (Lonsum), Bakrie & Brothers, Salim Group, Halim Group dan lain-lain.
Luas kebun kelapa sawit bertambah dari 3 juta hektar (2000) menjadi 3,7 juta hektar (2006). Selama kurun waktu itu, produksi kelapa sawit naik dari 5,1 juta ton menjadi 10,9 juta ton.
Harga CPO yang bakal terus melambung karena tingginya permintaan dunia dan lonjakan harga minyak membuat Asian Agri kian bersinar. Karena selain untuk minyak goreng, CPO juga menjadi bahan baku pembuatan biofuel. Kenaikan harga ini tentu berimbas pada pendapatan AAG.
Menurut data Bapebti, harga CPO (16/7) di pasar Rotterdam adaalah US$ 1.175 per ton, sedangkan pasar spot Medan tercatat Rp 8.766 per kilogram. Harga ini meningkat jauh dibanding awal 2008, ketika harga CPO di Rotterdam sebesar US$ 990 per ton dan harga spot di Medan Rp 8.584 per kilogram. [E1/I4]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Uji Kreativitas Sang Bankir
- Ekspansi Tiada Henti
- Ekspansi Sang Gurita Melambat
- Jaga Eksistensi ‘The Big Company’
- Berbagi Bahagia Ala Insan Bursa Saham
- Terhimpit Beragam Kepentingan
- Tenang Atasi Kepanikan Pasar
- IPO Tertunda Tetap Optimistis
- Genjot di Hulu dan Hilir
- Sukses Berkat Kejujuran
- Fahmi: Bulog Tangani Tata Niaga Gula
- Harga Murah untuk Masyarakat
- 'Kutu Loncat' Industri Musik Dunia
- Menjawab Kebutuhan Pasar
- Payung Profesionalisme untuk Hipmi