

(inilah.com/Abdul Rauf)
INILAH.COM, Jakarta - PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memprediksi penurunan pendapatan 11% akibat penurunan tarif Telkomsel. TLKM akan mendorong jasa pita lebar dan televisi berbayar untuk menghadapi ketatnya persaingan di bisnis seluler.
Bisnis seluler Telkomsel selama ini menjadi andalan PT Telkom dengan kontribusi hingga 40% dari pendapatan usaha pada enam bulan pertama tahun ini. Namun pendapatan dari bisnis ini turun akibat pengurangan tarif per 1 April 2008 yaitu sekitar 30% untuk suara dan 70% untuk SMS.
Analis Samuel Securities dalam risetnya mengungkapkan, semakin ketatnya persaingan, membuat anak usaha TLKM yakni PT Telkomsel ikut dalam perang tarif dan mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk pemasaran. Apalagi pendapatan dari layanan telepon tetap menurun 13%.
“Perseroan sudah memprediksi pertumbuhan pendapatannya akan menurun 11% pada 2008 karena layanan seluler akan menawarkan tarif yang lebih rendah kepada pelanggan untuk menghadapi pesaingnya,” papar tim riset Samuel yang diketuai Head of Research Christine Salim, Jumat (8/8).
Perseroan berencana mendorong jasa pita lebar dan televisi berbayar untuk menghadapi kian ketatnya persaingan di bisnis seluler yang menyumbang 40% dari pendapatan usaha semester I 2008.
Namun demikian, Samuel masih melihat saham TLKM cukup prospektif, terutama untuk investasi jangka panjang. “Rekomendasi kami beli untuk jangka panjang dan hold pada jangka pendek dengan target harga Rp 11.000 dan upside potential 41%,” tandasnya. Saat ini TLKM diperdagangkan pada price earning ratio (P/E) 2009 sebesar 8,9 kali.
Rekomendasi beli juga diberikan Ciptadana Securities terhadap saham TLKM, baik untuk jangka pendek maupun panjang. Padahal nilai laba bersih sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (ebitda) pada semester I 2008 menurun menjadi 60,3% dari tahun sebelumnya yang mencapai 63,8%.
Pada enam bulan pertama tahun ini, TLKM membukukan penurunan laba bersih 4,94% menjadi Rp 6,29 triliun. Telkomsel, anak usaha TLKM harus bersaing keras dengan operator-operator lainnya seperti Indosat (ISAT) dan Excelcomindo (EXCL) untuk merebut pangsa pasar GSM. Kerasnya persaingan menyebabkan perang tarif tidak terhindarkan.
Sementara itu, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menilai menurunnya kinerja sejumlah operator telekomunikasi, bukan karena regulasi penurunan tarif interkoneksi dan ritel yang mulai diterapkan sejak April 2008.
BRTI mengatakan Ebitda margin dari operator telekomunikasi seharusnya tidak lebih dari 50%. Masih belum stabilnya regulasi di sektor telekomunikasi akan menciptakan proses konsolidasi pada operator dan industri, setidaknya dalam satu tahun ke depan.
Yang terjadi saat ini, implikasi dari regulasi-regulasi baru terhadap industri secara umum adalah goyangnya dominasi/superioritas dan profitabilitas dari operator penguasa pasar seperti Telkomsel.
TLKM saat ini tengah memfinalisasi kredit sindikasi perbankan senilai Rp 4 triliun hingga Rp 6,2 triliun untuk memenuhi kebutuhan belanja modal. Belanja modal TLKM tahun ini mencapai US$ 2,5 miliar, setara Rp 23,1 triliun yang akan diperoleh dari kas internal dan pinjaman perbankan.
Dana capex juga akan digunakan untuk pengembangan broadband (jalur komunikasi pita lebar) seperti pembangunan infrastruktur serat optik bawah laut di Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara.
Perseroan berencana menambah 3.000 base transceiver stations (BTS) baru tahun ini. Hingga akhir 2007, Telkom melalui Telkomsel telah menambah 8.400 BTS menjadi total 21.800 BTS.
Perseroan juga siap mengakuisisi sejumlah perusahaan berbasis teknologi informasi (TI) di Asia Selatan dan Asia Tenggara melalui anak usaha PT Telkom Indonesia Internasional (TII). Telkom pun tengah menjajaki sejumlah proyek di Arab Saudi, Ekuador Nigeria, Yaman, Zambia, dan beberapa negara lainnya di Afrika. [E1/I4]
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT
- Bukti Efek Sarijaya Diserahkan Pekan Depan
- Aturan Baru BEI, AB Lebih Terlindung?