Ekonomi
13/08/2008 - 15:35
Minyak US$ 120, Negara Irit Rp 2,6 T

(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan, Anggito Abimanyu, memperkirakan potensi penghematan negara Rp 2,6 triliun apabila asumsi rata-rata harga minyak bertengger di US$ 120 per barel.

Dengan asumsi tersebut, penyerapan belanja kementerian/lembaga negara mencapai 100%. "Adanya kelebihan pembiayaan sebesar Rp 2,6 triliun itu maka defisit APBN-P 2008 akan turun dari perkiraan semula sebesar 1,9% menjadi 1,8%," kata Anggito, Rabu (13/8), di Jakarta.

Adapun pagu belanja K/L 2008 ditetapkan sebesar Rp 290 triliun. "Penghematan itu karena anggaran yang tidak terserap angka alamiahnya mencapai 10%. Tapi tidak tertutup kemungkinan penyerapannya lebih dari 90%," tegasnya.

APBN-P 2008 menetapkan defisit sebesar 2,1% dari PDB atau setara Rp 94,3 triliun. Angka tersebut diperoleh dari selisih pendapatan negara dan hibah sebesar Rp 895 triliun dan belanja negara sebesar Rp 989,3 triliun.

Pendapatan Negara dan hibah terdiri dari penerimaan dalam negeri Rp 892 triliun dan hibah Rp 2,9 triliun. Penerimaan terdiri atas perpajakan Rp 609,2 triliun dan penerimaan negara bukan pajak Rp 282,8 triliun.

Namun dalam laporan realisasi semester I 2008, pemerintah memperkirakan defisit APBN 2008 akan mencapai 1,9% atau setara Rp 90,6 triliun. Angka tersebut merupakan selisih antara pendapatan negara dan hibah sebesar Rp 1.007,0 triliun dan belanja negara sebesar Rp 1.097,6 triliun.[L5]

KOMENTAR BERITA