

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Harga minyak mentah dunia terus turun, banyak pihak menyambutnya dengan senyum. Tak terkecuali Indonesia. Maklum, ada berkah di balik itu. Inflasi bisa lebih dikendalikan, anggaran negara bisa lebih dihemat.
Minyak jenis light sweet untuk pengiriman September turun US$ 1,35 jadi US$ 113,10 per barel, level terendah sejak 2 Mei 2008. Dilihat dari rekor tertingginya di level US$ 147,27 per barel pada 11 Juli, penurunannya sampai 20%. Angka yang signifikan, tentu.
Ekonom M Chatib Basri memaparkan, harga minyak yang melemah ikut mendorong penurunan harga komoditas dan mengurangi tekanan inflasi yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada daya beli masyarakat. "Karenanya harus dibarengi kebijakan fiskal dan moneter yang tepat," katanya, Rabu (13/8).
Salah satu sumber inflasi di Indonesia selama ini adalah harga komoditas yang tinggi. Jadi, jika harga turun, inflasi pun ikut turun. "Penurunan harga minyak juga positif bagi anggaran negara," kata Chatib.
Hal senada diungkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu (BKF) Anggito Abimanyu. Menurutnya, jika rata-rata harga minyak bertahan di kisaran US$ 120 per barel, akan terjadi penghematan anggaran negara Rp 2,6 triliun.
Penghematan sebesar itu dengan asumsi penyerapan belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai 100%. Dengan kelebihan pembiayaan Rp 2,6 triliun itu, defisit APBN-P 2008 akan turun dari perkiraan semula 1,9% jadi 1,8%.
"Realisasi defisit APBN-P 2008 pada akhirnya juga akan tergantung dari realisasi belanja K/L. Belanja K/L 2008 ditetapkan Rp 290 triliun. Sementara angka alamiah dari tidak terserapnya anggaran adalah 10%," jelas Anggito.
Meski begitu, Anggito mengingatkan, penurunan harga minyak tidak akan berdampak signifikan terhadap anggaran negara jika konsumsi BBM tidak direm. Jika konsumsi BBM bersubsidi bisa ditekan hanya di kisaran 38,9 juta kilo liter pada 2009, pemerintah akan mendapatkan tambahan dana yang signifikan.
Anggito mengatakan, upaya mengerem peningkatan konsumsi BBM bersubsidi adalah dengan melanjutkan program konversi BBM, terutama minyak tanah. Sampai Juli 2008, konversi minyak tanah baru mencapai 30% dari target 1 juta kilo liter.
Di sisi lain, Chatib mengingatkan kemungkinan adanya efek negatif dari penurunan harga-harga komoditas bagi negara berkembang seperti Indonesia. Penurunan berbagai harga komoditas primer seperti CPO, bahan pangan, dan komoditas lain dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi.
"Saat ini, memang, saya belum khawatir dengan penurunan harga komoditas karena growth kita masih cukup bagus," kata Chatib. Tapi, lanjutnya, bagaimana pun kemungkinan negatif itu harus diantisipasi sejak dini.
Chatib menegaskan, untuk saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa dijaga dengan indikator pertumbuhan investasi yang terbilang bagus. [I3]
- Bunga Acuan Inggris Bakal Terendah
- Penerimaan Negara 2009 Terkoreksi
- Ampun..Defisit Anggaran AS US$ 1,2 T
- Oow! Rupiah Melemah Tipis
- BI: 2009, Ekonomi Tumbuh 4%-5%
- Yes! Rupiah Menguat Tajam
- Asyik! Ada Celah BI Rate Turun Lagi
- BI: Ekonomi 2009 Tumbuh dari Pemilu
- BI: Inflasi 2009 Capai 5%-7%
- BI Rate Turun 50 Bps
- RDG BI Harusnya Pangkas BI Rate
- Keraguan Realisasi Dana Stimulus
- Fed: 2009 Ekonomi Kontraksi, Pulih 2010
- Hore! Rupiah Berhasil Terkoreksi
- Pemerintah Berharap BI Rate Turun