Ekonomi
18/08/2008 - 15:01
Olimpiade Perlambat Ekonomi China
M Dindien Ridhotulloh

INILAH.COM, Jakarta – Ingar bingar Olimpiade 2008 malah memunculkan kekhawatiran ekonomi China bakal melambat. Pelaksanaan pesta olahraga terbesar di dunia itu, di sisi lain, berdampak negatif bagi sektor industri di negara itu.

Sebagian besar industri atau pabrik di Beijing terpaksa ditutup sepanjang pesta Olimpiade berlangsung, 8-24 Agustus 2008, guna mengurangi efek polusi. Kurun waktu penutupan sektor indutri tersebut memakan waktu yang cukup lama.

Penutupan pabrik di Beijing tersebut langsung berpengaruh pada turunnya produksi bahan baku seperti logam, plastik, dan kertas lokal. Sehingga dengan kondisi ini mempengaruhi ekspor China, terutama pada sektor manufaktur.

Hal ini akan memperburuk perekonomian negara itu di tengah masa perlambatan. Sektor industri pada Juli mengalami pelemahan terendah sejak 16 bulan terakhir akibat naiknya Indeks Harga Produsen (PPI) sebesar 10%.

Belum lagi Indeks Harga Konsumen (CPI) Juli meningkat 6,3%. Buruknya data ekonomi tersebut semakin mencerminkan bahwa perekonomian China terbebani dengan proyek Olimpiade yang saat ini diselenggarakan di Beijing.

Dari sisi pemasukan dana dari pesta Olimpiade di China ini sebenarnya sangat besar hingga miliaran dolar AS dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Setidaknya 13 ribu atlet, puluhan juta penonton dan wartawan dari berbagai negara membelanjakan dananya sepanjang perhelatan akbar itu.

Pundi-pundi dolar juga akan meningkat seiring masuknya dana belanja iklan produsen berbagai produk sponsor serta tingkat hunian hotel yang melonjak signifikan. Pembangunan sejumlah infrastruktur olahraga dan transportasi di negara itu juga membangkitkan indutri domestik.

Namun, perolehan dana segar sepanjang gelaran Olimpiade itu tak seimbang ongkos yang harus dibayar akibat penutupan operasi pabrik. Goldman Sachs Group Inc memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China akan melambat selama dua bulan (Agustus dan September), akibat pelaksanaan Olimpiade 2008.

"Pembatasan kegiatan konstruksi, pabrik, mobil, dan pertambangan untuk membatasi polusi dan arus lalu lintas akan menurunkan ekonomi dalam jangka pendek," tulis Goldman.

Yu Song dan Hong Liang, analis yang berbasis di Hong Kong, menyebutkan perlambatan pertumbuhan ekonomi itu akibat pembatasan produksi di Beijing dan lima provinsi ataupun kota yang berlokasi tidak jauh dari perhelatan Olimpiade 2008, yang menyumbang sekitar 26% bagi ekonomi China.

Menilik tingkat pertumbuhan negara yang sering disebut-sebut sebagai macan ekonomi Asia itu sebenarnya mengalami peningkatan 10,1%, namun di sisi lain hal ini tidak mencerminkan kestabilan di pasar uang yang tercermin dari melemahnya nilai tukar yuan terhadap dolar pada kurun waktu kuartal kedua tahun ini.

Rencananya pemerintah China akan menyediakan dana sebesar 3,8 triliun yuan atau senilai US$ 550 miliar untuk mengejar pertumbuhan dengan titik berat pada perbaikan sektor transportasi dan infrastruktur dua tahun mendatang. Diharapkan kebijakan tersebut dapat menciptakan banyak lapangan kerja dan pastinya akan menguntungkan dari segi ekonomi.

Kebijakan lain yang akan ditempuh oleh pemerintah China ialah dengan menerapkan pajak bagi para ekspotir kelas menengah. Kebijakan fiskal dalam meningkatkan pajak ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan negara. Meskipun, hal itu harus diimbangi dengan kebijakan moneter guna mencegah pergerakan yuan dari depresiasi. [I4]

KOMENTAR BERITA