Ekonomi
19/08/2008 - 10:28
Harga CPO Turun, Bukan Anjlok!
Asteria

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Merosotnya harga minyak ikut menyeret harga komoditas, termasuk minyak kelapa sawit. Penurunan ini belum akan berdampak pada industri dalam negeri terkait ekspektasi tingginya permintaan dunia akan energi alternatif.

Harga komoditas CPO pada akhir pekan lalu di bursa berjangka Malaysia kembali turun drastis 8,7% di level 2.392 ringgit per metrik ton. Itu level terendah sejak Mei 2008. Akibatnya, saham-saham CPO di dunia ikut melemah.

Harga saham Wilmar International, perusahaan trader CPO terbesar dunia, di Singapura anjlok hingga penurunan terbesar dalam Straits Times Index, yakni minus 5,2% menjadi S$ 3,98. Demikian pula IOI Corporation, produsen CPO terbesar kedua di Malaysia, harga sahamnya juga terjungkal 3,3%.

Sementara dari bursa domestik, saham PT Astra Agro lestari Tbk (AALI), perusahaan produsen CPO terbesar, juga terpuruk 1.100 poin menjadi Rp 16.600. Saham PT London Sumatera Tbk (LSIP) ikut terjungkal 550 poin menjadi Rp 5.900.

Turunnya saham CPO ini tak lepas dari sentimen negatif harga komoditas sepanjang pekan lalu akibat aksi jual investor menyusul reli dolar. Selain itu, juga karena ekspektasi pelemahan permintaan akan komoditas menyusul perlambatan ekonomi global.

Analis HD Capital, Federick Daniel mengatakan, penurunan saham sektor perkebunan CPO ini disebabkan berlimpahnya pasokan CPO dari India dan Malaysia. CPO sebelumnya dipersepsikan sebagai energi alternaitf. Namun, ternyata CPO hanya digunakan sebagai substitusi sementara ketika harga minyak melonjak tinggi.

Sedangkan penggunaan CPO sebagai substitusi minyak kedelai juga merosot seiring turunnya harga minyak nabati. Sekarang minyak nabati turun, sehingga CPO tidak menarik lagi. Konsumen kembali lagi menggunakan soya bean untuk minyak nabatinya. “Masalah over supply ini akan memicu koreksi terhadap saham CPO untuk waktu yang relatif lama,” ulasnya.

Kendati demikian, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, harga CPO di pasar dunia belum bisa dikatakan anjlok. Faktanya, harga CPO saat ini masih lebih tinggi dibanding tahun lalu.

"Harga CPO bergerak sesuai harga minyak dunia. Meski turun, tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Melonjaknya harga CPO pada April dan Mei tahun ini sangat tinggi sehingga kalaupun sekarang turun belum bisa dibilang anjlok," kata Mari di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/8).

Mari mengatakan, permintaan CPO masih akan tinggi menyusul permintaan dari pabrik-pabrik biofuel dunia serta masih tingginya permintaan dari negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti China dan India. Indonesia sendiri saat ini merupakan produsen CPO terbesar di dunia.

Selain itu, ia menambahkan penurunan harga minyak kelapa sawit mentah tidak akan terlalu berdampak pada ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekspor pun diyakini tetap pada kisaran 12% tahun ini sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Pertumbuhan ekspor sampai Juni mencapai 30% dan nonmigas 23%.

Hal senada diungkapkan Franky Widjaja, CEO Golden Agri-Resource. Menurutnya, permintaan yang kuat terhadap CPO dari pasar dunia, terutama dari negara-negara berkembang masih akan berlanjut.

Di sisi lain, Chairul Muluk, Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Perkebunan Nusantara III menilai permintaan CPO bukan hanya untuk bahan pangan, melainkan juga untuk energi. "Potensi bisnis sangat baik, bukan saja karena aneka kegunaan, tetapi juga permintaan akan terus meningkat, baik untuk makanan dan pemanfaatan CPO untuk bioenergi," katanya.

Malaysia Palm Oil Board menunjukkan tren penurunan stok CPO 2,8% pada bulan lalu seiring dengan kenaikan ekspor Malaysia untuk memenuhi permintaan di pasar global, terutama China.

Societe Generale de Surveillance, lembaga survei independen Malaysia, menyatakan jumlah ekspor CPO Negeri Jiran itu 10 hari pertama bulan ini sudah mencapai 23%. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama bulan lalu. Sementara lembaga lainnya, Intertek, menyatakan ekspor naik 15%.

Tren penurunan harga minyak kelapa sawit diperkirakan berlanjut mengingat stok kelapa sawit di Malaysia mencapai 2,1 juta ton yang tidak terserap oleh industri minyak sawit di dalam negeri. Pemerintah Malaysia memutuskan menjual kelebihan pasokan tersebut sebagai ekspor dengan insentif tanpa pengenaan cukai.

Kelebihan pasokan juga terjadi di Indonesia. Petani sawit di Medan menunda pengiriman akibat turunnya harga CPO. Mereka menunggu keputusan pemerintah untuk segera menurunkan pungutan ekspor dari 15% saat ini menjadi 10%. [E1/I4]

KOMENTAR BERITA