
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah harus mengendalikan inflasi yang diperkirakan masih tetap liar hingga awal tahun 2009. Keliaran inflasi itu karena gonjang-ganjing harga minyak serta komoditas dunia.
"Kalau laju inflasi liar, kemerosotan daya beli akan meluas ke kelompok masyarakat kelas menengah. Sekarang kekuatan permintaan dalam negeri masih lumayan karena daya beli kelas menengah masih terjaga," ujar Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin, Bambang Soesatyo, Selasa (19/8), di Jakarta.
Pengendalian inflasi akan menjadi kunci keberhasilan pemerintahan Presiden Yudhoyono pada tahun depan. Apalagi, target pertumbuhan ekonomi 2009 mencapai 6,2% dengan hanya mengandalkan pada konsumsi dalam negeri, ekspor migas dan produk pertambangan, serta ekspor produk perkebunan.
"Apakah pertumbuhan yang dicapai nanti berkualitas, sehingga mampu meningkatkan daya beli masyarakat, memerangi kemiskinan dan menyerap tenaga kerja baru maupun tenaga kerja lama yang kini masih berstatus penganguran," ujarnya.
Dia mengaku tidak yakin akan adanya ekspansi investasi secara signifikan di tahun depan mengingat kondisi yang makin tidak kondusif. "Itu karena naiknya bobot resiko," tandasnya.
Sekadar catatan, dalam RAPBN 2009, pemerintah mematok target inflasi sebesar 6,5%. Sedangkan harga minyak Indonesia dipatok pada US$ 100 per barel dengan batas risiko fiskal hingga US$ 130 per barel, serta asumsi nilai tukar rupiah pada Rp 9.100 per dolar AS dan produksi (lifting) minyak 950.000 barel per hari.[L5]
- Bunga Acuan Inggris Bakal Terendah
- Penerimaan Negara 2009 Terkoreksi
- Ampun..Defisit Anggaran AS US$ 1,2 T
- Oow! Rupiah Melemah Tipis
- BI: 2009, Ekonomi Tumbuh 4%-5%
- Yes! Rupiah Menguat Tajam
- Asyik! Ada Celah BI Rate Turun Lagi
- BI: Ekonomi 2009 Tumbuh dari Pemilu
- BI: Inflasi 2009 Capai 5%-7%
- BI Rate Turun 50 Bps
- RDG BI Harusnya Pangkas BI Rate
- Keraguan Realisasi Dana Stimulus
- Fed: 2009 Ekonomi Kontraksi, Pulih 2010
- Hore! Rupiah Berhasil Terkoreksi
- Pemerintah Berharap BI Rate Turun