Ekonomi
19/08/2008 - 14:14
Situasi Buruk TLKM Berakhir
Asteria

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Penurunan harga minyak dan komoditas memacu sejumlah investor dan manajer investasi berpaling ke sektor lain. Salah satu emiten yang dituju adalah saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) karena situasinya membaik.

Pada perdagangan Selasa (19/8), perusahaan telekomunikasi berkode bursa TLKM ini stagnan di posisi Rp 7.450, sama dengan penutupan perdagangan Jumat (15/8). Volume transaksi mencapai 30 juta dengan frekuensi 706 kali senilai Rp 225 miliar.

Beberapa perusahaan sekuritas asing dalam risetnya tentang TLKM menilai situasi saham ini mulai membaik. Mereka merekomendasikan beli karena situasi terburuk saham ini telah berakhir. Perusahaan sekuritas itu adalah Ciptadana, Samuel, dan Trimegah.

Ciptadana Sekuritas menilai, akhir-akhir ini saham Telkomsel menghadapi perang tarif yang cukup keras dengan operator seluler lainnya. Tapi, aksi korporasi dan ketahanan perseroan terhadap inflasi maupun resesi membuat saham ini layak diakumulasi. "Kami rekomendasikan beli untuk TLKM," ulas riset Ciptadana.

Laba bersih TLKM enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp 6,3 triliun atau turun 4,5% dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 6,6 triliun. Turunnya laba disebabkan meningkatnya biaya operasional perusahaan.

Adapun pendapatan usaha semester I mencapai Rp 30,2 triliun, meningkat dibandingkan semester sama tahun lalu, yakni Rp 28,5 triliun. Tapi, biaya operasional perseroan juga meningkat dari Rp 15,5 triliun jadi Rp 17,7 triliun.

EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation and amortization) atau laba bersih ditambahkan kembali dengan beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi perusahaan tampak naik tipis dari Rp 18,19 triliun jadi Rp 18,21 triliun. Tapi, margin EBITDA-nya turun dari 64% jadi 60%.

Jumlah pelanggan perseroan meningkat untuk pelanggan seluler jadi 52,4 juta pada semester I 2008 dari 42,8 juta pada semester sama 2007.

Pelanggan telepon tetap nirkabel (FWA) naik jadi 7,4 juta dari 5,1 juta dan pelanggan internet broadband meningkat dari semula 167 ribu jadi 392 ribu. Sedangkan pelanggan telepon tetap kabel malah turun jadi 8,65 juta dari 8,71 juta.

TLKM optimistis target pertumbuhan pendapatan 15% year on year dapat dicapai pada 2008. Perusahaan meminta untuk tidak menilai kinerjanya dari hasil semester pertama, emlainkan dari hasil keseluruhan sepanjang 2008.

Guna mengejar target pendapatan, TLKM akan menggenjot revenue dari segmen Speedy dan broadband pada kuartal III dan IV. TLKM juga akan mengkaji ulang kebijakan pricing dari Telkomsel.

Kendati masih mencermati pergerakan perseroan berbasis telekomunikasi ini, riset Samuel Sekuritas mengungkapkan, saham TLKM berpotensi menguat hingga 65,7%. Saat ini TLKM diperdagangkan pada price earning ratio (P/E) 2009 sebanyak 8,4 kali. "Target harga kami untuk TLKM di level Rp 12.350 per lembar," ujarnya.

Lain halnya dengan Trimegah Securities. Mereka mengatakan, TLKM akan sedikit kesulitan mendongkrak pertumbuhan hingga 15% tahun ini jika Telkomsel tidak mencatat pertumbuhan signifikan. Pendapatan dari Speedy dan broadband dinilai tidak bisa mengimbangi penurunan pertumbuhan dari Telkomsel, fixed line, dan interkoneksi.

Trimegah memprediksi pertumbuhan Telkomsel, fixed line, dan interkoneksi di 2008 akan mencapai masing-masing 5,5%, 9,3%, dan -31,5%. Selain itu, Trimegah mengestimasi bisnis Telkomsel dan interkoneksi cukup konservatif dengan minimnya risiko pertumbuhan di dua divisi itu.

"Tahun ini kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan TLKM 5,4% jadi Rp 62,6 triliun, asumsi pertumbuhan yang cukup konservatif bisa kami naikkan jika kinerja Telkomsel dan pendapatan interkoneksi membaik pada kuartal III 2008," ungkap Trimegah yang masih merekomendasikan beli dengan target harga Rp 10.600 per unit. [E1/I3]

KOMENTAR BERITA