

(inilah.com/Abdul Rauf)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham pada perdagangan Rabu (20/8) diperkirakan masih tertekan. Turunnya harga minyak dan perlambatan ekonomi global jadi sentimen negatif. Namun, masih ada harapan dari saham BUMI, PGAS, TLKM, ASII, dan INDF.
Analis Paramitra Alfa Sekuritas Gina Novrina Nasution mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini masih sulit bergerak. Itu karena turunnya harga minyak mentah yang kini sudah berkonsolidasi menuju kisaran US$ 100 per barel.
Menurut Gina, IHSG kemarin ditutup di level 2.042 setelah sempat menembus level support. Untuk hari ini, secara teknikal, Gina memprediksi indeks masih akan menuju level 1.900.
"Secara keseluruhan titik suport untuk IHSG ada di level 2.021 dan titik support kedua di level 1.998. Kalau misalnya tembus 2.020, ada kemungkinan terjadi pelemahan ke level selanjutnya di posisi 1.998. Ada kemungkinan hingga akhir pekan, indeks saham tergerus ke titik level support di 1.900-an," papar Gina kepada INILAH.COM di Jakarta, semalam.
Turunnya saham perbankan pada perdagangan kemarin, menurut Gina, dipicu sentimen negatif anjloknya saham Freddie Mac dan Fannie Mae hingga 20%. Sedangkan sentimen positif laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan peningkatan bisnis di sektor keuangan, persewaan dan jasa, tidak mampu mendongkrak sektor perbankan.
Hal ini karena pengaruh bursa global yang dinilai berpengaruh lebih kuat. Pelaku pasar masih khawatir terhadap pelemahan kredit dalam ekonomi AS.
"Investor takut terhadap saham perbankan di Amerika. Padahal, biasanya di Nikei Jepang, laporan keuangannya bagus, tapi karena ada sentimen perbankan AS saham perbankan di BEI jadi jatuh. Itu hanya ketakutan para investor," jelas Gina.
Selain itu, imbuh Gina, prediksi Lehmann Brothers tentang merosotnya kinerja keuangan Amerika pada kuartal III dan rencana pemerintah AS yang akan menghapus ekuitas para pemegang saham menambah kekhawatiran investor.
Alhasil, investor ketakutan dan langsung melakukan penjualan terhadap kedua saham perusahaan tersebut. "Hal ini yang menyebabkan saham perbankan keluar dari kebiasaan yakni jika saham komoditas jatuh maka saham perbankan naik," ujarnya.
Gina pun merekomendasi beberapa saham yang masih layak dikoleksi hari ini, seperti PGAS, TLKM dan INDF. Sedangkan untuk sektor infrastruktur adalah ISAT dan ASII. Menurutnya, saham infrastruktur hari ini diperkirakan tidak bergerak terlalu negatif. "Infrastruktur masih tahan. Selain itu juga ada sentimen positif di saham aneka industri sekitar 0,5%," katanya.
Tentang anjloknya saham batubara di tengah naiknya harga bahan tambang, Gina mengatakan, hal ini disebabkan dampak krisis perkreditan yang masih kuat. Walaupun turunnya harga minyak biasanya membawa sentimen positif bagi masyaraat AS.
Saham sektor batubara hari ini secara teknical masih dalam tren bearish (melemah). Namun, lanjutnya, saham BUMI masih berpotensi terapresiasi jika berhasil menembus level Rp 4.950 per lembar.
"Jika BUMI menembus Rp 4.951 besok, ada kemungkinan saham ini akan naik. Jadi, kalau tembus ke level Rp 4.951 BUMI masih layak dikoleksi. Tapi kalau tidak, BUMI masih akan tergerus ke arah Rp 4.400 sampai Rp 4.500," ucapnya.
Saham sektor perkebunan CPO, perbankan, infrastruktur, dan properti juga terimbas risiko market. Bahkan, emiten perbankan, infastruktur, dan properti yang kinerjanya bagus dan diperkirakan menopang indeks saham tapi ternyata hanya aneka industri saja bertahan. "Itu pun sangat kecil. Sedangkan yang lain semuanya tergerus," katanya.
IHSG pada penutupan perdagangan saham kemarin anjlok 42,650 poin (2,05%) jadi 2.042,49. Volume perdagangan terpantau 34.492 kali dengan volume 1,544 miliar saham senilai Rp 2,920 triliun. Saham yang ditutup menguat 25 jenis saham, melemah 174 jenis, dan stagnan 42 jenis.
Saham-saham yang harganya turun, antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 22.300, PT Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 650 ke Rp 15.950, PT PP London Sumatera (LSIP) turun Rp 500 ke Rp 5.400, dan PT Bayan Resorces Tbk (BYAN) turun Rp 450 ke Rp 4.850.
Saham-saham yang harganya naik, di antaranya PT Astra International (ASII) naik Rp 150 ke Rp 20.000, PT Indosat Tbk (ISAT) naik Rp 150 ke Rp 5.950, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 25 ke Rp 2.350, PT Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 10 ke Rp 1.910, dan PT Bakrie & Brothers (BNBR) naik Rp 10 ke Rp 310.
Jatuhnya IHSG mengikuti pelemahan di bursa regional. Indeks Nikkei di bursa Jepang turun 300,40 poin ke 12.865,05, pelemahan terendah selama Agustus.
Indeks Topix turun 2,2% ke 1.235,54 basis poin. Indeks Kospi di bursa Korea melemah 1,68% ke 1.541,41 basis poin, indeks Hang Seng di bursa Hong Kong turun 2,13%, STI Singapura turun 1,59%, dan indeks di bursa Shanghai naik 1,06%. [E1]
- Tugu Pratama Siap Jual Saham
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT
- Bukti Efek Sarijaya Diserahkan Pekan Depan