Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Profil Usaha
  BERITA
  INDEKS BERITA
20/08/2008 10:59
Harga Murah untuk Masyarakat
Hasnul Suhaimi
Asteria
 
Hasnul Suhaimi
(inilah.com/vina)
 

INILAH.COM, Jakarta - Operator seluler PT Exelcomindo Pratama Tbk terus memantapkan diri di tengah persaingan ketat bisnis selular. Agresivitas ekspansi pasukan yang dikomandani Hasnul Suhaimi ini diharapkan memicu lonjakan pelanggan hingga 100%.

Operator seluler XL ini menargetkan jumlah pelanggan hingga akhir 2008 mencapai 26 juta nomor, naik lebih dari 100% dibanding 10,2 juta nomor pada akhir tahun 2007. Sementara itu, hingga semester I 2008 jumlah pelanggan XL telah mencapai 22,9 juta.

“Pencapaian ini didukung pembangunan infrastruktur jaringan dan peningkatan kualitas layanan. Hal ini tercermin dari keberhasilan XL meluncurkan fitur-fitur baru layanan bagi pelanggan pascabayar dan prabayar,” kata Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur Excelcomindo Pratama, di Jakarta akhir pekan lalu.

Kinerja XL memang tak lepas dari peran Hasnul yang menjadi Presiden XL, anak perusahaan Telekom Malaysia Bhd sejak September 2006 itu. Sejak Hasnul bergabung di XL, perusahaan telekomunikasi ini semakin menorehkan kinerja terbaiknya.

Selama semester I 2008, pendapatan usaha XL naik 59% mencapai Rp 5,8 triliun dibandingkan periode sama sebelumnya. Kenaikan ini didorong meningkatnya jumlah total percakapan (outgoing minutes) yang lebih dari 10 kali dari 1,7 miliar menit pada semester I 2007 menjadi 19,3 miliar menit pada semester I 2008.

Tidak berhenti di situ saja, pasukan Hasnul juga sudah menyiapkan layanan khusus menjelang pesta demokrasi Pemilu 2009. XL menyatakan kesiapannya melayani permintaan parpol untuk menggunakan SMS sebagai media kampanye.

Saat ini, XL sedang menunggu aturan SMS kampanye sesuai UU No 10/2008 tentang Pemilu dari Badan Regulasi Telomunikasi Indonesia (BRTI). Operator wajib menjaga kerahasiaan data pengguna ponsel sehingga tidak boleh parpol/calon presiden melakukan push SMS ke semua pelanggan, melainkan hanya konstituen/simpatisan yang terdaftar.

"Harus ada validasi mana saja nomor pelanggan yang menjadi simpatisan parpol tersebut. Di luar nomor tersebut bukan merupakan tanggung jawab operator (XL)," jelas Hasnul.

Pengalaman Hasnul di bidang telekomunikasi sangat mumpuni, kendati karirnya tidak diawali di bidang selular. Setelah menyelesaikan studi dari Institut Teknologi Bandung, jurusan Teknik Elektro pada 1981 silam, Hasnul sempat bekerja di bagian elektronik perusahaan minyak Schlumberger. Baru kemudian dia menjajal bidang selular dengan masuk ke PT Indosat Tbk.

Di Indosat pun, karir pria yang memperoleh gelar MBA dari Universitas Hawaii tahun 1992 ini terus menanjak pesat. Mulai menempati posisi sebagai General Manager (GM) Pemasaran PT Indosat (awalnya, PT Indonesian Satellite Corp) dari 1995 hingga 1996, berlanjut menjadi GM penjualan sejak 1996 hingga 1997.

Selama beberapa tahun berikutnya Hasnul ditugaskan di perusahaan lain. Dari 1997 hingga 1998, misalnya, ia dipercaya sebagai Direktur Niaga PT Indosel (anak usaha Indosat). Lalu, 1998 hingga 2000 sebagai Direktur Niaga PT Telkomsel dan 2001-2002 sebagai Presiden Direktur PT Indosat Multimedia Mobile (IM3).

Tak perlu lama bagi Hasnul untuk meraih posisi puncak karena setiap tahun selalu ada peningkatan prestasi. Sejak Juni 2002 hingga April 2003, ia kembali menjadi Direktur Penjualan dan Pemasaran Indosat, kemudian Direktur Pemasaran Selular dari April 2003 sampai 2005 dan akhirnya dipercaya menjabat sebagai Presiden Direktur Indosat sejak 8 Juni 2005.

“Sebenarnya seumur hidup, saya baru pindah dua kali, dari Schlumberger ke Indosat lalu ke XL. Tapi orang-orang melihatnya saya berpindah-pindah. Mungkin karena waktu di Indosat, saya sempat ditugaskan ke Telkomsel dua tahun untuk menjadi Direktur Niaga, lalu ke IM3. Jadi kelihatannya seolah-olah sudah di Telkomsel, Indosat, IM3, lalu XL,” tuturnya.

Tahun ini, Hasnul memaparkan rencananya untuk XL, yaitu membangun tower company. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan pelayanan yang bagus dengan harga murah ke konsumen.

“Selama ini orang merasa telepon itu mahal. Saya ingin memberikan harga murah untuk masyarakat. Kebetulan disambut menteri yang meminta turun minimum 10-20%. Oke, turun 60% saja bisa. Make everybody happy,” paparnya.

Dalam benaknya, berikan yang dibutuhkan masyarakat. Karena kalau terlalu lama memberikan harga yang terlalu tinggi, akibatnya nanti masyarakat tidak akan pernah bisa berkomunikasi dengan mudah.

Rencana ini dilakukan mengingat XL harus segera melepas 7.000 unit menara telekomunikasinya mengikuti peraturan pemerintah dan hanya perusahaan lokal yang boleh memiliki menara.

Dengan asumsi nilai menara sebesar Rp 1 miliar per unitnya, maka dengan menjual 7.000 menara, XL akan menerima sekitar Rp 7 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk investasi dan menutupi utang-utang (refinance) XL yang saat ini berkisar Rp 12,1 triliun. [E1/I4]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com