

(inilah.com/Abdul Rauf)
INILAH.COM, Jakarta – Ujian bagi sektor otomotif. Pemberlakuan pajak progresif diperkirakan berpotensi menekan tingkat penjualan. Saham sektor ini pun melorot. Saham ASII, misalnya, Rabu (20/8) tersungkur hingga Rp 200 per lembar.
Dalam rancangan undang-undang (RUU) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) di tingkat DPR disebutkan pemerintah daerah akan menetapkan besaran tarif pajak kendaraan aktual berdasarkan skema yang ditetapkan.
Besaran tarif mobil pertama atas nama satu pihak akan dikenakan pajak 1-2%. Nilai pajak terus meningkat seiring jumlah kepemilikan mobil dengan batas maksimal 10%.
Pembahasan ketentuan pajak progresif dalam RUU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di tingkat Panitia Khusus DPR itu telah rampung dan rencananya diberlakukan mulai tahun depan.
"Pengenaan tarif pajak progresif ini kami nilai akan makin memberatkan industri otomotif di tengah dampak kenaikan harga BBM dan bahan baku. Untuk sementara, kami masih merekomendasikan hold untuk saham ASII (PT Astra International Tbk )," papar riset Samuel Securities di Jakarta.
Saham ASII pada sesi siang di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) ditransaksikan di level harga Rp 19.850 atau melemah Rp 150, bahkan sempat turun Rp 200 pada awal perdagangan dibandingkan sehari sebelumnya, yakni Rp 20.00 per lembar.
ASII sebenarnya tengah berupaya memompa produksi di pabrik untuk mengatasi rentetan inden yang masuk guna meraih kembali pangsa pasar mobil sebesar 53% seperti tahun lalu. Hingga semester I 2008, pangsa pasar mobil ASII hanya mencapai 50,6%.
Merosotnya pangsa pasar lebih disebabkan ketatnya pasokan untuk mobil-mobil andalan seperti Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Meski pangsa pasar menurun, penjualan enam bulan pertama di 2008 meningkat 41,5% dibandingkan periode sama tahun lalu.
ASII juga sudah menaikkan harga jual mobil di pasaran mencapai Rp 2-20 juta per unit karena penyesuaian peningkatan biaya produksi yang membengkak akibat kenaikan harga bahan baku.
"Saat ini ASII ditransaksikan pada price earning ratio (P/E) 2008-2009 sebesar
10,1 kali dan 9,3 kali dengan target harga Rp 25.500 per saham," papar Samuel Sekuritas.
Sementara saham sektor otomotif lainnya, PT Indomobil Sukses International (IMAS), relatif jarang ditransaksikan. Saham IMAS diperdagangkan di level Rp 1.170 per lembar.
IMAS bakal mengakuisisi 7.500 unit (75%) saham baru PT IMG Sejahtera Langgeng (IMGSL) senilai Rp 7,5 miliar. Akuisisi ini bertujuan meningkatkan pendapatan melalui kepemilikan secara tidak langsung di beberapa anak perusahaan.
IMGSL saat ini memiliki penyertaan saham di beberapa perusahaan yang berada di bawah naungan Indomobil Group seperti di PT Nissan Motor Indonesia dan PT Nissan Motor Distributor Indonesia.
Akuisisi ini rencananya akan dibiayai dari kas internal dan diminta persetujuannya kepada para pemegang saham dalam RUPS 28 September 2008.
"Aksi korporasi ini diharapkan bisa meningkatkan laba perseroan melalui anak usahanya. Saat ini perseroan masih menunggu persetujuan pemegang saham," papar Direktur Utama IMAS Gunadi Sindhuwinata. [I3]
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT
- Bukti Efek Sarijaya Diserahkan Pekan Depan
- Aturan Baru BEI, AB Lebih Terlindung?