

(inilah.com/Subekti)
INILAH.COM, Jakarta – Di tengah tidak pastinya ekonomi dan volatilitas harga minyak, beberapa analis menyarankan investor lebih bijak memilih saham. Beberapa saham masih prospektif seperti TLKM, PGAS, JSMR, dan UNTR.
Kepala Riset Recapital Securities, Poltak Hortadero mengatakan, sektor telekomunikasi saat ini sangat terkonsolidasi dan punya kans besar untuk bertahan. Namun, di antara beberapa perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di bursa, Poltak mengaku lebih menyukai saham PT Telkom (TLKM).
Menurutnya, TLKM selain memiliki kapitalisasi nomor satu di Indonesia, juga memiliki portofolio yang lengkap dibanding emiten lain sejenis. TLKM memiliki satelit, kabel, broadband, CDMA, GSM, dan lainnya.
Dengan fundamental yang bagus dan diversifikasi produk, seperti program terbarunya Speedy, kredit perbankan yang dialirkan juga positif. Tak heran, Poltak menyarankan emiten ini untuk dikoleksi jangka panjang. “TLKM adalah salah satu saham yang bisa dijadikan strategi defensif untuk kondisi saat ini. Saya rekomendasi buy TLKM,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan pengamat pasar modal David Cornelis. Menurutnya, dengan target pertumbuhan pendapatan TLKM 2008 yang mencapai 15% dan dukungan fundamental yang kuat, ia merekomendasi investor membeli sahamnya dengan target harga Rp 9.200 per lembar. “Buy on weakness TLKM di level Rp 7.000-7.300,” katanya.
Selain itu, saham lain yang cukup menarik bagi David adalah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Menurutnya, perkiraan jumlah produksi gas perseroan memang dipangkas lantaran belum selesainya jalur pemipaan ke PLTG Muara Tawar.
Namun rencana kenaikan harga gas dan kewenangan PGAS membuat kesepakatan harga jual dengan segmen industri, dapat meningkatan kinerja keuangan. Pasalnya, PGAS dapat menjual gas sesuai dengan harga di pasar.
Selain itu perseroan juga bisa memperoleh revenue yang optimal dari kenaikan harga bahan bakar tersebut. David pun menargetkan harga PGAS di level Rp 3.100. “Saya rekomendasikan beli PGAS ketika berada di level rendah yaitu Rp 2.100-2.300,” ucapnya.
Adapun saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dinilai Ciptadana Sekuritas cukup prospektif. Saat ini, JSMR sedang mengerjakan lima proyek pembangunan jalan tol, yakni ruas Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan, Cengkareng-Kunciran dan Kunciran-Serpong serta penyelesaian seksi JORR W 2 Utara (Ulujami-Kebun Jeruk).
Proyek jalan tol yang sedang digarap perusahaan tersebut diperkirakan akan memberikan kotribusi sekitar 30% dari ruas tol yang sudah beroperasi sepanjang 500 km. Ciptadana memprediksi kinerja perseroan dalam lima tahun ke depan akan meningkat, sehingga JSMR direkomendasikan buy on weakness.
Poltak juga merekomendasi beli untuk JSMR. Menurutnya, emiten infrastruktur ini merupakan saham yang menarik untuk dikoleksi jangka panjang, apalagi bila proses pembangunannya sudah selesai. Hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat yang tinggi akan jalan bebas hambatan di masa depan.
Saham lain yang juga menarik adalah PT United Tractors (UNTR). Saat ini, perseroan telah menandatangani conditional sales purchase agreement (CSPA) untuk merampungkan akuisisi tambang batubara di Kalimantan Tengah pada September 2008.
UNTR telah menyiapkan dana maksimal US$ 214,5 juta untuk akuisisi tambang tersebut, lebih rendah dibandingkan nilai akuisisi Tuah Turangga Agung. Pasalnya, tambang yang diakuisisi masih green field dengan cadangan batubara lebih kecil, berkalori 5.500-6.000.
Terkait penutupan lokasi tambang PT Kaltim Prima Coal (KPV), sebagai salah satu klien anak usaha UNTR yakni PT Pama Persada, terpaksa menurunkan target produksi batubaranya dari 6,5 juta ton menjadi 5,9 juta ton pada 2008.
Trimegah Securities mengasumsikan produksi batubara UNTR 2008 mencapai 6,8 juta ton jika produksi batubara serta overburden removal diturunkan masing-masing 13,2% menjadi 5,9 juta ton dan 1,5 juta bank cubik meter (bcm).
Trimegah menargetkan pendapatan 2008 UNTR turun 5,3% menjadi Rp 23,5triliun dan laba bersih 2008 turun 7,4% menjadi Rp 2,1 triliun. “Kami rekomendasikan buy UNTR dengan target harga Rp 14.000,” paparnya.
Sedangkan Samuel Sekuritas mengatakan masih menetapkan target harga untuk UNTR sebesar Rp 12.000 per lembar saham dengan rekomendasi hold. Saat ini UNTR diperdagangkan pada price earning ratio 2008- 2009 sebesar 13,5 kali dan 11 kali. [E1/I4]
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT
- Bukti Efek Sarijaya Diserahkan Pekan Depan
- Aturan Baru BEI, AB Lebih Terlindung?
- Obama Janjikan 'Overhaul' Wall Street