

(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Investor diminta mewaspadai sentimen negatif di pasar yang berpotensi menekan rupiah. Namun, dalam sesi pembukaan pasar spot antarbank, Kamis (21/8), mata uang lokal ini menguat 25 poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Direktur Utama PT Finance Corpindo,Edwin Sinaga mengatakan, penguatan mata uang rupiah hanya akibat faktor teknik saja. Belum ada isu baru yang terdapat di pasar. "Bisa saja rupiah kembali tertekan apabila isu muncul isu negatif dari eksternal," kata Edwin.
Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis pagi menguat 25 poin menjadi Rp 9.140 - 9.145 per dolar AS dibanding penutupan hari sebelumnya yakni Rp 9.165 - 9.177. Penguatan itu diyakini karena masih berlanjutnya aksi lepas dolar AS. "Tidak ada faktor lain yang mendorong kenaikan mata uang lokal itu," ujarnya.
Pemerintah berencana melakukan penerbitan obligasi di luar negeri untuk mencari dana murah guna menambal defisit RAPBN 2009. Isu positif itu diyakini bakal mendongkrak pergerakan pasar uang domestik.
Namun, kenaikan rupiah sebenarnya bisa lebih tinggi tertahan oleh menguat dolar AS di pasar global, setelah keluarnya kebijakan Bank Sentral Jepang (BoJ) mempertahankan suku bunga sebesar 0,05%. Bertahannya suku bunga BoJ itu mengakibatkan pelaku asing cenderung melepas yen dan mendorong menguatnya dolar AS.
Selain itu, juga harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa hari ini turun kini kembali menguat hingga mencapai lebih dari US$ 114 per barel. Hanya saja, penguatan tipis harga minyak relatif tidak memberikan dampak negatif pasar lebih dalam.
Untuk itu, Edwin menganjurkan pelaku pasar untuk membeli rupiah karena optimisme penguatan mata uang domestik ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga penutupan sore ini. "Pasar masih merespons positif mata uang rupiah," pungkasnya.[L5]
- Bunga Acuan Inggris Bakal Terendah
- Penerimaan Negara 2009 Terkoreksi
- Ampun..Defisit Anggaran AS US$ 1,2 T
- Oow! Rupiah Melemah Tipis
- BI: 2009, Ekonomi Tumbuh 4%-5%
- Yes! Rupiah Menguat Tajam
- Asyik! Ada Celah BI Rate Turun Lagi
- BI: Ekonomi 2009 Tumbuh dari Pemilu
- BI: Inflasi 2009 Capai 5%-7%
- BI Rate Turun 50 Bps
- RDG BI Harusnya Pangkas BI Rate
- Keraguan Realisasi Dana Stimulus
- Fed: 2009 Ekonomi Kontraksi, Pulih 2010
- Hore! Rupiah Berhasil Terkoreksi
- Pemerintah Berharap BI Rate Turun