Ekonomi
22/08/2008 - 18:44
Minyak Naik, Rupiah Ciamik
Asteria

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Rupiah tampil ciamik di pengujung pekan ini. Nilai tukarnya menguat 12 poin, dari Rp 9.147 ke Rp 9.135 per dolar AS. Prestasi itu dicapai di tengah kenaikan harga minyak dan pelemahan mata uang Negeri Paman Sam.

Kurs rupiah di pasar valas Jumat (2/8) ditutup menguat ke level 9.135. Sehari sebelumnya, rupiah diperdagangkan 9.147 per dolar AS.

Analis pasar saham Bank Niaga Emmanuel K Krisnijayanto mengatakan, rupiah terapresiasi berkat melemahnya mata uang dolar AS terhadap mata uang kuat utama lain menyusul naiknya harga minyak mentah di pasar global.

Kontrak utama minyak jenis light pengiriman Oktober di Nymex ditutup naik US$ 5,62 ke level US$ 121,18 setelah sebelumnya sempat melonjak hingga US$ 6 ke level US$ 122,04 per barel. Minyak jenis brent pengiriman Oktober juga ditutup naik US$ 5,8 ke level US$ 120,16 per barel.

Selain itu, data-data ekonomi AS yang baru saja dirilis menunjukkan pelemahan pertumbuhan negara industri terbesar itu. Emmanuel mengatakan, “Pasar khawatir akan prospek negatif ekonomi AS.”

Emmanuel juga memaparkan, disparitas suku bunga rupiah dan dolar sebesar 7% cukup memikat pelaku valas untuk berinvestasi di Indonesia. Apalagi, pemerintah juga menerbitkan berbagai instrumen investasi seperti sukuk (obligasi syariah), ORI (Obligasi Republik Indonesia), dan SUN (Surat Utang Negara). “Semua itu memperkuat posisi rupiah,” tuturnya.

Lebih lanjut Emmanuel mengatakan, konsistensi BI menjaga stabilitas rupiah juga membawa pergerakan rupiah di level ideal. Demikian pula cadangan devisa senilai US$ 60 miliar yang masih dianggap cukup untuk mengamankan posisi mata uang domestik.

Direktur Retail Banking Bank Mega Kostaman Thayib mengatakan, kondisi dalam negeri yang kondusif juga jadi indikator utama penguatan rupiah. Pelaku pasar terus membeli rupiah.

Rupiah yang terus menguat menunjukkan investor asing percaya bahwa pertumbuhan ekonomi di dalam negeri tetap positif meski ada gejolak ekonomi global yang sedikit banyak mempengaruhinya.

Menyoal ekonomi AS, Kostaman menilai jika kondisi AS tetap negatif, terbuka peluang bagi rupiah terus menguat, bahkan hingga tembus ke level 9.000 per dolar AS.

"Kenaikan mendekati angka 9.000 per dolar AS bisa saja terjadi. Sebab, kenaikan rupiah sebelumnya sebenarnya akibat aksi konsolidasi para pelaku pasar dan tidak ada faktor lain yang mendukung," kata Kostaman.

Dolar AS merosot tajam setelah laporan tentang indikator ekonomi AS turun 0,7% selama Juli atau lebih buruk dari ekspektasi.

Indeks indikator ekonomi data makro ekonomi AS itu sangat kontras dengan data dari kawasan Eropa yang lebih baik ketimbang ekspektasi pasar. Hal itu merefleksikan berlanjutnya kekhawatiran tentang sektor perumahan dan krisis kredit di Negeri Paman Sam.

Pelaku pasar menahan reaksi karena menanti komentar Gubernur The Fed Ben Bernanke nanti malam. Pasar berharap ada bantuan untuk segera mengatasi kekhawatiran terhadap sektor perbankan AS.

Dolar AS pun diperkirakan masih akan bergerak stabil karena investor berekspektasi komentar Bernanke akan berdampak pada pergerakan dolar pekan depan.

Dolar terhadap yen saat ini di level 108.85 dan nanti malam diperkirakan berkisar pada level 108.50-109.10. Euro, mata uang gabungan negara Eropa, terhadap dolar AS berada di level 1.4879 dan diperkirakan bergerak ke level 1.4850-1.4910. [E1/I3]

KOMENTAR BERITA