Wawancara
25/08/2008 - 00:01
“Outlet di SPBU Fenomenal”
Djaelani Sutomo
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Kebiasaan orang Indonesia yang keranjingan untuk jalan-jalan (hang out) dan berbelanja menjadi berkah bagi Pertamina. Outlet atau toko yang berada di SPBU berkembang pesat dan fenomenal. Model bisnis ini pun akan dikembangkan.

Vice President Pemasaran Bahan Bakar Minyak (BBM) Retail PT Pertamina Djaelani Sutomo memaparkan, pengembangan outlet/toko di SPBU Indonesia bisa dikatakan fenomenal dan bahkan terjadi satu penyimpangan (anomali).

Di saat Exxon dan Prestone menutup outlet mereka, Pertamina malah melakukan hal sebaliknya. “Pertamina menangkap peluang itu sehingga menerapkan konsep bisnis ‘Bright: Food and Drink’,” papar Djaelani Sutomo di Bogor, baru-baru ini.

Salah satu bentuk pengembangannya adalah Pertamina akan mengeksekusi SPBU-SPBU yang sudah memiliki outlet selain ‘Bright’. Sekaligus kemungkinan membuka outlet di SPBU di daerah yang belum memiliki supermarket. Berikut petikan wawancaranya.

Bisnis outlet-outlet di SPBU milik Pertamina tampaknya berkembang pesat. Apa ini model bisnis baru yang akan digarap Pertamina?

Pengembangan outlet/toko di lokasi SPBU Indonesia memang fenomenal, bisa dibilang satu penyimpangan (anomali). Di saat Exxon dan Prestone menutup outlet mereka, Pertamina malah melakukan hal sebaliknya. Hal itu terkait erat dengan kebiasaan orang Indonesia yang keranjingan untuk jalan-jalan (hang out).

Buktinya, gerai Starbuck yang berlokasi di Cikampek KM 19, orang-orang duduk di outlet SPBU itu minum kopi silih berganti. Padahal Starbuck di Amerika sedang ditutup. Model bisnis ‘Bright: Food and Drink’ menangkap peluang itu.

Pengembangan Bright akan terus dilanjutkan. Salah satu bentuknya adalah Pertamina akan mengeksekusi SPBU-SPBU yang sudah memiliki outlet selain ‘Bright’ seperti Alfamart dan Indomaret.

Ini memang tidak bisa seketika karena mereka terikat kontrak yang panjang dan sebagainya. Itu yang akan kita lakukan. Yang bisa dikembangkan misalnya SPBU di suatu desa atau kecamatan belum ada minimarket. Jadi SPBU sekaligus menjadi tempat orang belanja di sekitar itu.

Bagaimana dari sisi pendanaan?

Kalau masalah dari sisi dana, memang kami keluar biaya. Kita bisa tawarkan kepada pengusaha. Mau ditangani sendiri biayanya, atau Pertamina yang kelola. Tinggal kita bayar fee.

Sejauh ini bagaimana kontribusi Bright bagi Pertamina?

Memang sekarang masih kecil, tapi bagi pedagang setiap hari warungnya sudah dapat Rp 1,5 juta kan lumayan. Padahal bisa ada yang lebih dari itu. Kalau dilihat dari pendapatan penjualan BBM memang marginnya nggak besar.

Berbeda dengan penjualan makanan atau minuman yang marginnya bisa sampai 40%. Sedangkan di ritel BBM itu, maksimum hanya 4%, tapi karena volume-nya banyak margin dari BBM menjadi signifikan. Ke depan, kalau persaingan semakin ketat sementara volume BBM-nya semakin turun, maka pengganti marginnya dari outlet-outlet itu.

Bagaimana kelanjutan rencana Pertamina menggandeng perguruan tinggi untuk membangun SPBU?

SPBU yang sudah berdiri adalah Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kemudian ITB, gagal karena lokasinya tidak memenuhi syarat. Sekarang ini yang sudah ngotot adalah Universitas Diponegoro (UNDIP).

Kemudian Universitas Brawijaya (UNIBRAW) dan begitu kami lihat rata-rata lokasinya bagus. Jadi disamping untuk kepentingan di dalam universitas sendiri, juga bisa digunakan untuk kepentingan umum.

Harapanya, kami ingin nunut berkah. Kalau SPBU itu ada di kampus, pengelolaannya dan sebagainya, bisa jadi lebih baik. Itu yang menjadi perhatian kami dan tidak tertutup bagi perguruan tinggi lain. Apalagi khususnya perguruan tinggi juga dituntut untuk cari uang. Alangkah baiknya jika mereka membuka SPBU. [E1]

KOMENTAR BERITA