

(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah Senin (25/8) ini masih berpotensi menguat meski dalam kisaran terbatas. Jatuhnya harga minyak mentah dan tertekannya dolar AS kembali jadi sentimen positif bagi terapresiasinya mata uang RI.
Dealer valuta asing Bank Rakyat Indonesia Rahmat Wibisono mengatakan, rupiah awal pekan ini berpeluang melanjutkan penguatan. Rupiah pada perdagangan pekan lalu menguat karena investor melakukan profit taking atas mata uang dolar AS.
"Kondisi itu masih menguntungkan bagi rupiah. Kemungkinan rupiah berada di level 9.110-9.160 per dolar AS. Secara teknikal jangka pendek, rupiah memang berpotensi menguat meski dalam kisaran sempit," ujar Rahmat kepada INILAH.COM di Jakarta, Minggu (24/8) malam.
Rahmat melanjutkan, ada beberapa indikator eksternal yang mengiringi naiknya rupiah. Salah satunya adalah merosotnya harga minyak mentah akhir pekan lalu. Hal itu mengurangi beban pemerintah dalam pembelian BBM.
Harga minyak crude oil pengiriman Oktober di pasar Nymex akhir pekan lalu anjlok US$ 6,59 per barel (5,4%) ke level US$ 114.59, penurunan terbesar sejak Desember 2004. Jatuhnya harga minyak juga didorong rebound dolar AS sebesar 0,8%.
Di sisi lain, dolar AS tertekan oleh mata uang kuat lain seperti euro dan yen. Hal ini karena ekonomi AS yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Apalagi, data perumahan AS sebagai indikator pertumbuhan ekonomi negeri itu menunjukkan kemerosotan.
"Dari sektor finansial, upaya penyelamatan bank dari krisis kredit perumahan juga masih diragukan efektivitasnya," kata Rahmat. Kendati demikian, lanjutnya, penguatan rupiah masih dalam kisaran terbatas.
Perlambatan ekonomi yang melanda AS dan daratan Eropa jadi penyebab. "Kondisi itu memicu dolar dijadikan tujuan penempatan dana investor yang melakukan profit taking di euro dan yen," jelas Rahmat.
Kurs rupiah di pasar valas akhir pekan lalu ditutup menguat ke level 9.135. Terhadap mata uang asing lain ditutup bervariasi. Rupiah terhadap dolar Singapura melemah di 6.499,78, atas dolar Hong Kong naik jadi 1.172,33, terhadap dolar Australia melemah di 8.005,67, dan atas euro melemah di 13.579,38.
Di sisi lain, dolar AS terhadap sejumlah mata uang asing lain cenderung menguat. Terhadap mata uang Jepang dan mata uang gabungan negara Eropa menguat masing-masing di level 109,22 yen dan 1,4822 euro.
Dolar AS terhadap mata uang Hong Kong menguat di 7,8075, turun atas mata uang Singapura di level 1,4086, dan terapresiasi atas mata uang Korea Selatan di 1.062,21 won. [E1/I3]
- Rupiah Kembali Terguncang
- Inilah Bank Agen Resmi Reksadana!
- Depkeu Lelang SUN Rp 3 T
- BNI Terintegrasi ke ATM Jepang
- Wah! Rupiah Tembus Rp 11.000 Lagi
- Tidak Jalankan PNPM, Tuntut Pemda
- Inilah Realisasi APBNP 2008!
- Wuih! KPK Usik Rekap Bank 1998
- Utang BLBI Tersisa Rp 200 T
- Bunga Bank Turun, Tinggal Tunggu
- Sssst! Menkeu dan BI Datangi KPK
- Wah! Temasek Rugi Besar di Merrill
- Menunggu Penurunan Bunga Bank
- Kasus Sarijaya tak Dongkrak DPK Bank
- 2009, Saatnya Bank Tambah Modal