

(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta - Wapres M Jusuf Kalla berang begitu tahu isi kontrak jual LNG Tangguh ke China. Harga jualnya hanya US$ 3,3 per mmbtu, padahal harga di pasar internasional mencapai US$ 20. JK minta soal ini diusut sampai tuntas.
"DPR harus menyelidiki kontrak LNG Tangguh. Kontrak ini paling berbahaya dan paling jelek selama ini," tegas JK. Memang, siapa pun tahu bahwa kontrak itu sangat merugikan Indonesia.
Tak heran jika JK pun terus melakukan diplomasi dengan pemerintah China untuk merevisi kontrak jual beli gas yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002 itu. Kontrak itu berlaku 20 tahun. JK pun melakukan pembicaraan ulang soal kontrak LNG Tangguh dengan Wapres China Xi Jinping.
Keinginan JK langsung mendapat tanggapan positif dari Tanah Air. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera melakukan audit atas kontrak penjualan LNG Tangguh ke Fujian, China, itu. Rencananya, audit LNG Tangguh dilakukan September.
"Kami tidak akan menutup-menutupi hasil audit kontrak Tangguh. Apa yang kami temukan akan kami sampaikan apa adanya," kata Udju Juhaeri, Wakil Ketua BPK yang juga anggota Komisi VII DPR-RI.
Menurut catatan INILAH.COM, harga jual LNG Tangguh yang berjumlah 7,5 juta ton untuk masa 20-25 tahun sangatlah murah. Jauh di bawah harga jual LNG yang berlaku umum. Kontrak penjualan jangka panjang dengan China sebanyak 2,6 juta ton per tahun untuk masa 25 tahun hanya dihargai US$ 3,3 per mmbtu.
Kontraktor minyak Beyond Petroleum (BP) yang telah ditunjuk Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta BP Migas selaku operator proyek LNG Tangguh, juga memasok ke Pantai Barat AS sebanyak 3,7 juta ton LNG per tahun untuk masa 20 tahun dengan harga US$ 5,94 per mmbtu.
Kontrak penjualan LNG yang sama dengan SK Power dan Posco dari Korea berjumlah 1,2 juta ton per tahun untuk masa 20 tahun dengan harga US$ 3,5 per mmbtu.
Nilai kontrak ke Fujian adalah yang termurah. Itupun sudah melalui negosiasi ulang karena harga sebelumnya hanya US$ 2,67 per mmbtu dengan patokan harga minyak mentah maksimal US$ 25 per barel untuk masa 25 tahun.
Jelas saja patokan harga minyak yang digunakan jauh di bawah harga minyak mentah saat ini yang mencapai US$ 120 per barel. Bahkan, harga jual ke China masih lebih murah ketimbang harga jual dalam negeri yang US$ 4-5 per mmbtu.
Menyangkut kontrak penjualan LNG Tangguh ini, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro pada September 2002 mengatakan, penandatangan kontrak penjualan dengan pemerintah China itu hasil dari pembicaraan panjang dan kedua pihak merasa diuntungkan.
Saat itu sempat timbul pertanyaan tentang harga jual LNG Tangguh yang sangat murah. Tapi, Purnomo berujar, terpenting adalah penjualan itu memberi keuntungan bagi Indonesia.
Kontrak penjualan dengan China tidak lama berselang setelah Indonesia menelan kekalahan tender proyek gas di Guang Dong yang dimenangkan Australia.
Baihaki Hakim, Dirut Pertamina saat itu, mewakili Pemerintah Indonesia untuk meneken kontrak penjualan LNG Tangguh senilai US$ 21 miliar.
Kalaupun kondisi pasar LNG saat kontrak ditandatangani betul-betul lemah, sangatlah tidak logis jika formulasi harga dipatok mati pada level sangat murah. Apalagi, kedua negara 'raksasa baru Asia', yakni China dan India, tengah mencari sumber energi untuk menopang pembangunan ekonominya. [I3]
- Wah! Minyak Merosot Lagi di US$ 41
- Harga BBM Turun Dibahas Malam Ini?
- Saling Tuding BBM Macet
- Pertamina Siap Beli Tuban Petro
- Pertamina Belum Putuskan Mitra Natuna
- Rio Tinto Tetap Tambang Nikel Sulawesi
- 2015, Produksi Batubara China Naik 30%
- UU No.21 'Lumpuhkan' Pertamina
- Harga Minyak Asia Bisa US$ 70
- Mantan Kapolri Jadi Komut Pertamina
- Stok Minyak Sekarang Juga!
- Komputerisasi Pertamina Menggiurkan
- Yes! Emas Hitam Asia Naik Tipis
- Akhirnya Minyak Rontok di US$ 42
- Komputerisasi Pertamina Dipaksakan