

(inilah.com/Vina Ramitha)
INILAH.COM, Jakarta – Tak puas hanya menjadi pemain, kalangan industri game Indonesia mulai memikirkan prospek bisnis. Tiga perusahaan sepakat untuk patungan dan mendirikan bisnis baru yang fokus mengembangkan industri game di Tanah Air.
Lintas Media Danawa (LMD) berdiri pada 28 Juli 2008 dan menjawab keinginan ini. Kerjasama ini berbekal jaringan infrastruktur dari PT Aplikanusa Lintasarta, konten informasi dan pendidikan dari Medialand, dan Danawa International sebagai pengembang.
“Kita akan mengembangkan industri game development dan e-learning berbasis multimedia di Indonesia,” ujar Arief L Yulianto, Direktur Utama LMD dalam acara soft launching LMD, di Jakarta, akhir pekan lalu. Lalu bagaimana peluang bisnis ini, berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana cikal bakal bisnis yang dirintis LMD?
LMD berdiri pada 28 Juli 2008 dan merupakan patungan dari tiga perusahaan besar yakni PT Aplikanusa Lintasarta, Medialand, dan Danawa International. Lintasarta adalah penyedia infrastruktur jaringan yang berpartner dengan PT Indosat. Sementara Medialand milik Kompas-Gramedia Group, menyediakan konten informasi dan pendidikan. Kemudian Danawa International, merupakan perusahaan milik Malaysia, mereka ini game developer.
LMD bergerak di industri creative edutainment. Artinya, kami akan fokus mengembangkan industri game development dan e-learning berbasis multimedia di Indonesia.
Produk unggulan apa yang ditawarkan kepada konsumen di Tanah Air?
Pada soft launching, kami memperkenalkan Noesis, platform game developer dari Valve. Valve merupakan sebuah perusahaan game publisher terkenal asal AS. Mereka sudah menghasilkan banyak game yang populer di kalangan gamer Indonesia seperti Counter Strike (Half Life) dan yang terbaru, Team Fortress II.
Platform Noesis ini akan kami kenalkan ke berbagai institusi pendidikan dan lembaga kursus multimedia. Kami tidak hanya memasyarakatkan game, tetapi bagaimana membuat agar industri game berkembang.
Sehingga muncul pengembang game yang world class dari Indonesia. Nantinya akan ada sertifikasi sehingga seseorang bisa mengubah game, membuat karakter seusai keinginan, dan bahkan membuat game baru seperti yang telah dilakukan AS.
Kami juga memperkenalkan Jaringan Warnet dan Game Center Indonesia (Jawari) yang akan difokuskan untuk komunitas warnet dan game center di Indonesia. Anggota Jawari kami ajak untuk bersama-sama berkembang. Tidak hanya sekedar melayani layanan dasar seperti akses intenet atau sekedar berjualan bandwidth saja. Tetapi juga berkembang ke pelatihan, pengiklanan, serta pengembangan game untuk memperkuat industri game dan creative education.
Tujuannya?
Dengan banyaknya game developerberkelas dunia di Indonesia, kami berharap Indonesia akan menjadi salah satu sumber game di kancah global. Bahkan, bisa memunculkan game berbasis sejarah Indonesia.
Saya ingin komunitas game kita itu menjadi kiblat para developer game. Mereka ini kan bisa bekerjasama membentuk konsep e-learning untuk generasi ke-2 yang berusia 15-25 tahun. Intinya, inilah yang akan menjadi fokus kami ke depan.
Target pendapatan LMD?
Tidak muluk-muluk lah, target kami setahun ke depan memang sudah ada angkanya tapi belum waktunya kami umumkan. Saat ini kami hanya ingin fokus pada pembentukan, penyempurnaan, dan konsolidasi pada komunitasnya. Komunitasnya kan sudah ada tetapi tools-nya beda-beda. Ibaratnya kalau di industri telekomunikasi itu ada Cisco, Juniper dan lainnya. Kan Cisco yang terbesar dan memiliki sertifikasi, seperti itulah keinginan kami.
Setahu saya, pemakai game di Indonesia sekitar 4 jutaan orang. Jika masing-masing legal atau membeli lisensi, satu orang itu misalnya sebulan Rp 20.000. Kalikan 4 juta orang kan sudah dapat Rp 80 miliar.
Cuma tantangannya, sebagian besar dari mereka kan free atau ilegal. Makanya kami sosialisasikan penggunaan yang legal, yakni keuntungan dengan memakainya itu apa saja. Kalau semuanya sudah legal tentu pemasukan besar.
Industri game Indonesia seperti apa?
Banyak yang bilang kita seolah berkompetisi, padahal tidak. Sebab lahan yang digarap itu luas sekali, masing-masing tergantung fokusnya kemana. Jadi ini bukan hanya sekadar mengikuti tren saja. Kalau hanya untuk mengikuti tren, untuk apa mendirikan perusahaan.
Di luar negeri kan industri game itu termasuk salah satu industri yang pertumbuhannya paling cepat, bisa sampai double digit. Indonesia kebanyakan masih sebagai pemakai saja.
Kendalanya?
Kita memang agak telat masuknya. Tetapi dengan merintis langkah seperti ini nanti mungkin akan muncul LMD-LMD lainnya yang bergerak bersama kami. Sebenarnya orang Indonesia itu banyak yang kreatif. Kita lihat aja industri musik kita lebih besar dari Malaysia dan Thailand. [E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Purbaya Yudhi Sadewa
Tempatkan Komisaris Independen di Sekuritas - Deo Rawendra
Akuisisi Persulit Finansial BUMI - Thomas Darmawan
Makanan dan Minuman Tumbuh 12% - Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Komponen Lokal Hanya Retorika - Yanuar Rizky
BUMI Tunggu Digoreng - Purbaya Yudhi Sadewa
Akumulasi BUMI untuk Jangka Panjang - Arianto A Patunru
Lembaga Dana ASEAN Hanya Pelengkap - Gunaryo
Harga Sembako 2009 Berpeluang Turun - Hendri Saparini
Kelangkaan Pangan Jadi Ancaman - Achmad Rizal
Cicil Mobil Toyota Sekarang Gampang - Farial Anwar
Tutup Tahun, Rupiah di 11 Ribu - Purbaya Yudhi Sadewa
Gerakan BNBR, Aneh! - Yanuar Rizky
Tekanan Jual Hingga Akhir Tahun - Alfi Wijaya
2009: Perbankan Syariah Tetap Eksis - Syamsul Hadi
Ekonomi Indonesia Seperti Benalu