Ekonomi
26/08/2008 - 10:41
ISAT Kantongi Sentimen Baru
Ahmad Munjin

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Indosat (ISAT) mendapat sentimen positif dari kepastian pergantian jajaran komisaris pasca akuisisi Qatar Telecom (Qtel). Saham ISAT pun berpotensi menguat ke level Rp 6.750 hingga Rp 7.000 per lembar.

Analis PT Sarijaya Permana Sekuritas M Alfatih mengatakan, saham ISAT mendapat sentimen penetapan jajaran komisaris baru dan pelaksanaan tender offer. Karenanya, Selasa (26/8) ini saham ISAT berpotensi naik selama harganya bertahan di atas level suportnya Rp 5.800.

"Saya rekomendasikan beli untuk saham ISAT dengan target di level Rp 6.500-Rp 7.000. Level suport di Rp 5.800 dan level resisten di Rp 6.500-Rp 7.000 per lembar," kata Alfatih kepada INILAH.COM di Jakarta, Senin (25/8) malam.

Pada penutupan perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/8), saham ISAT ditutup di level harga Rp 5.950 per lembar atau melemah Rp 50 dibandingkan akhir pekan lalu.

Menurut Alfatih, harga saham Indosat sempat melonjak tinggi ketika ada berita tentang pengambilalihan saham Singapore Technologies Telemedia (STT) oleh Qatar. Waktu itu, harganya di kisaran Rp 5.500, kemudian melonjak hingga hampir Rp 7.000.

Tak lama berselang, beberapa masalah membelit perusahaan ini. Di antaranya, keputusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap ISAT dan berlarut-larutnya proses tender offer pasca pelaksanaan akuisisi Qtel.

Akibat deretam masalah itu, sentimen optimisme akibat pengambilalihan saham di perusahaan ini 'melempem' lagi sehingga sahamnya bergerak mendatar.

Yang terjadi kemudian adalah saham ISAT tidak bergerak dalam rentang waktu lama dan cenderung di kisaran Rp 6.000-Rp 7.000. "Istilah teknikalnya flat. Hal ini terjadi karena sentimen positif yang ada kemudian dibebani berbagai sentimen negatif lain," tandas Alfatih.

Jika masalah-masalah lain seperti dengan KPPU dan problem tender offer juga sudah clear, yang muncul kemudian adalah sentimen positif terhadap saham ISAT.

Tentang peralihan kepemilikan saham mayoritas di Indosat, lanjut Alfatih, sebenarnya bagi investor pasar modal tidak terlalu jadi masalah. Yang jadi masalah justru jika kemudian perusahaan ini terganjal peraturan seperti persaingan usaha dari KPPU.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Luar Biasa (RUPSLB) Indosat, Senin (25/8), memutuskan merombak susunan komisaris pasca masuknya Qtel. Perwakilan Qtel, Sheikh Abdullah bin Saud Al-Thani, menduduki posisi Komisaris Utama menggantikan Peter Seah Lim Huat. Saat ini, Sheikh Abdullah adalah Chairman of The Board of Director di Qatar Telecom.

Di jajaran direksi, tampil pula Nasser Marafih yang masih menjabat sebagai Chief Executive Officer di perusahaan telekomunikasi asal Qatar itu. Jajaran direksi lainnya tidak berubah.

Sementara wajah baru dari Indonesia yang ditunjuk sebagai komisaris adalah Rachmat Gobel. Di posisi komisaris independen, masuk nama mantan Vice President Orange Michael Latimer.

Selain Peter Seah Lim Huat, RUPSLB juga memutuskan memberhentikan dengan hormat anggota dewan komisaris Sio Tat Hiang dan Sum Soon Lim. Lim Ah Doo juga diberhentikan dari jabatan komisaris independen.

Adapun susunan dewan komisaris yang belum berubah terdiri atas Jarman, Rionald Silaban, Sheikh Mohamed Bin Suhaim Hamad Al-Thani, Setianto T Santosa (Komisaris Independen), Soerapto (Komisaris Indenden), George Thia Peng Heok (Komisaris Independen).

Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam, seusai RUPSLB mengungkapkan rencananya mengalokasikan dana US$ 550 juta untuk pembelian kembali (buy back) obligasi. Pelaksanaannya akan dilakukan pada 16 September 2008.

"Dana US$ 550 juta disiapkan jika semua pemegang obligasi perseroan siap menjual seluruh saham ke ISAT," ucap Johnny. Dana buy back obligasi itu merupakan kombinasi dari pinjaman perbankan dan kas internal. [E1/I3]

KOMENTAR BERITA